Opsi IPO Batal, Telkom (TLKM) Adopsi Model ‘Strategic Partner’ Telkomsel-Singtel untuk InfraNexia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) akan mengadopsi model kemitraan strategis (strategic partnership) PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dengan Singapore Telecommunications Ltd (Singtel) untuk PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia). Dengan demikian, opsi penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham InfraNexia otomatis batal.
Hal itu diungkapkan Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini menjawab investortrust.id dalam acara silaturahmi dan buka puasa bersama direksi Telkom dengan pimpinan media massa di Jakarta, Jumat (6/3/2026) malam.
Dian mengungkapkan, Telkom telah mengkaji secara mendalam dua opsi bagi masa depan bisnis InfraNexia, yaitu IPO saham dan kemitraan strategis. Berdasarkan kajian tersebut, model kemitraan strategis, seperti diterapkan Telkomsel dengan Singtel, lebih baik alih-alih IPO saham.
IPO saham, menurut Dian, cenderung tidak memberikan valuasi yang optimal untuk bisnis infrastruktur telko seperti fiber optik yang digeluti InfraNexia. Apalagi dalam kondisi pasar yang sedang bergejolak. “Kami pilih strategic partner karena strategic investor bisa masuk langsung ke operasional, membawa disiplin, GCG (good corporate governance), serta teknologi dan praktik terbaik,” ujar Dian.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Siapkan Roadmap AI hingga 2028, Bidik Terwujudnya Sovereign AI Indonesia
Dian Siswarini menjelaskan, penetapan mitra strategis InfraNexia baru akan dilakukan tahun depan setelah perusahaan menyelesaikan konsolidasi aset fiber dari beberapa anak perusahaan di bawah naungan Danantara.
“Sebelum menentukan partner, kami perlu menilai penggabungan atau konsolidasi aset fiber lain di anak usaha,” tutur Dian.
Dian Siswarini menambahkan, Telkomsel bisa sebesar sekarang karena menggandeng Singtel sebagai mitra strategis yang secara aktif mendorong disiplin, GCG, dan inovasi. “Model yang sama ingin kami terapkan di InfraNexia,” tegas Dian, tanpa menyebutkan siapa yang akan menjadi investor strategis InfraNexia dan berapa porsi kepemilikannya.
Dian menegaskan, keberhasilan model kemitraan Telkomsel-Singtel menjadi bukti bahwa kemitraan strategis lebih efektif dibanding IPO saham. “Kami ingin InfraNexia memiliki mitra yang terlibat langsung dalam operasional, bukan sekadar investor pasif,” tandas Dian.
Melalui strategi ini, kata Dian Siswarini, InfraNexia ditargetkan menjadi pemain utama di sektor fiber di Indonesia. InfraNexia dapat memanfaatkan aset secara maksimal, menghadirkan layanan berkualitas tinggi, dan mendorong pertumbuhan bisnis melalui kolaborasi dengan mitra strategis.
Baca Juga
Terdongkrak ‘Spin-off’ InfraNexia, Saham Telkom (TLKM) Jadi Primadona
Sementara itu, Direktur Wholesale & International Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba mengatakan, InfraNexia dibentuk melalui proses pemisahan (spin-off) aset fiber Telkom yang awalnya tersebar di beberapa anak perusahaan.
“Spin-off ini bertujuan memusatkan aset fiber, sehingga pemanfaatannya lebih optimal, tidak hanya untuk kebutuhan internal Telkom Group, tetapi juga untuk operator lain maupun pihak eksternal,” ucap dia.
Menurut Budi Satria, bisnis infrastruktur telko, khususnya jaringan fiber optik, kini sangat kompetitif, terutama di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.
“Kami ingin aset yang telah dibangun bisa di-leverage sepenuhnya. Melalui strategic partner, InfraNexia bisa bergerak lebih agile, kompetitif, dan memastikan operasionalnya excellent. Utilisasi jaringan akan meningkat, yang berdampak positif pada profitabilitas,” papar dia.
Budi optimistis dengan masuknya investor strategis ke InfraNexia, kinerja bisnis periusahaan itu bakal lebih baik. “Kalau IPO kan investornya relatif ‘pasif’. Kalau strategic investor, operasional akan diawasi secara langsung, sehingga layanan lebih baik, biaya lebih efisien, dan pertumbuhan bisnis lebih optimal,” ujar dia.
Budi menambahkan, utilisasi jaringan yang sebelumnya rendah dan hanya untuk internal, diharapkan meningkat setelah ada mitra strategis yang digandeng InfraNexia.
Berdasarkan catatan investortrust.id, Singtel melalui anak usahanya, Singtel Mobile, resmi menjadi mitra strategis Telkom setelah membeli saham Telkomsel pada 2001. Saat itu, Singtel mengambil alih saham yang sebelumnya dimiliki pemegang saham lain (KPN Netherlands dan Setdco Graha Nusantara), sehingga kompoisisi kepemilikan saham Telkomsel adalah 65% Telkom dan 35% Singtel.
Baca Juga
Kepemilikan Singtel di Telkomsel kemudian terdilusi menjadi 30,1%, sedangkan 69,9% lainnya dimiliki Telkom. Perubahan struktur kepemilikan terjadi setelah Telkom mengintegrasikan bisnis broadband IndiHome ke Telkomsel.
Adapun InfraNexia melakukan spin-off sebagai operating company pada Desember 2025 setelah dilakukan penandatanganan akta pemisahan(deed of spin-off) sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity dari Telkom kepada InfraNexia.
Setelah sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity beralih, InfraNexia memiliki lebih dari 50% dari total aset infrastruktur jaringan fiber Telkom yang meliputi segmen access, aggregation, backbone, serta infrastruktur pendukung lainnya.
Nilai transaksi bisnis dan aset tersebut mencapai Rp 35,8 trilliun pada fase spin-off pertama. Sedangkan fase spin-off kedua ditargetkan tuntas sepenuhnya pada 2026. Setelah transaksi, kepemilikan saham efektif Telkom di InfraNexia meningkat menjadi 99,99%.
InfraNexia digadang-gadang menjadi ‘mesin uang’ baru Telkom. Selama ini, 70-80% laba Telkom dikontribusi Telkomsel.

