Dinilai Masih Mahal, ATSI Minta Tarif Verifikasi Biometrik Dipangkas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) meminta tarif verifikasi biometrik untuk registrasi kartu SIM diturunkan karena dinilai masih terlalu mahal. Saat ini, biaya verifikasi biometrik mencapai sekitar Rp 3.000 per transaksi, jauh di atas biaya verifikasi Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang selama ini digunakan operator.
Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir mengatakan, besaran biaya tersebut menjadi tantangan bagi industri telekomunikasi seiring penerapan registrasi biometrik secara nasional. ATSI pun tengah berdiskusi dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk mencari skema tarif yang lebih efisien.
"Kami mengharapkan harga untuk hit (percobaan) biometrik ini murah. Sekarang sekitar Rp 3.000 per transaksi, itu cukup menantang bagi operator," ujar Marwan di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, biaya itu dapat bertambah apabila proses verifikasi harus dilakukan lebih dari satu kali. Misalnya, pada pelanggan yang baru memenuhi syarat usia untuk memiliki kartu identitas sehingga memerlukan verifikasi ulang.
Baca Juga
Cegah Nomor 'Bodong', Kemenkomdigi Klaim Kesuksesan Registrasi Biometrik Tembus 83%
Marwan mengungkapkan, ATSI sebelumnya memperkirakan biaya layanan pengenalan wajah (face recognition) dapat berada di kisaran Rp 200 per transaksi. Sementara itu, biaya verifikasi NIK yang selama ini digunakan operator berada di kisaran Rp 70 karena teknologi tersebut sudah semakin matang.
"Kami juga sudah menghitung kebutuhan investasi teknologinya bersama para vendor. Karena itu kami menilai teknologi biometrik saat ini seharusnya sudah jauh lebih murah," sambungnya.
ATSI kini tengah menyusun usulan resmi kepada Dukcapil dengan tembusan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi). Industri berharap tarif verifikasi biometrik tidak lagi berada di level Rp 3.000 per transaksi.
"Kami sedang menghitung angkanya. Harapannya tentu tidak sampai Rp1.000 per transaksi karena menurut kami dengan teknologi sekarang biaya itu sudah sangat memungkinkan," tutup Marwan.
