Kemenekraf Gandeng Coda, Industri Gim Indonesia Bidik Pasar Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) dan Coda resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat ekosistem industri gim nasional. Kolaborasi ini difokuskan pada peningkatan kapasitas pengembang lokal, monetisasi, hingga perluasan akses ke pasar global.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kemenekraf, Muhammad Neil El Himam mengatakan, kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari berbagai program yang telah berjalan sejak 2025. Salah satunya adalah pelatihan pengembang gim dan kampanye keamanan digital.
“Kerja sama ini sebetulnya lebih kepada memformalkan yang selama ini sudah kita lakukan antara Kemenkraf dengan Coda,” kata Neil di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, penguatan industri gim tidak hanya menyangkut pengembangan talenta. Pemerintah juga perlu membangun ekosistem yang mencakup pembayaran, transaksi, distribusi, dan promosi produk gim.
“Tugas kita adalah memperkuat ekosistem subsektor ekonomi kreatif secara keseluruhan. Kalau bicara industri gim, bukan sekadar sumber daya manusianya, tetapi juga sistem pembayaran, transaksi, distribusi, dan promosinya,” ujarnya.
Direktur Gim Kemenekraf, Luat Sihombing menilai, tantangan utama pengembang lokal saat ini adalah aspek komersialisasi. Karena itu, kemitraan dengan Coda diharapkan dapat membantu studio lokal memahami model bisnis dan peluang pasar yang lebih luas.
Baca Juga
Menekraf Dorong Industri Gim Jadi Mesin Baru Ekonomi Kreatif
Luat mengungkapkan nilai pasar gim Indonesia saat ini telah mencapai lebih dari US$ 2 miliar per tahun. Sementara kontribusi produk gim lokal terhadap PDB diperkirakan berada di kisaran 0,17% hingga 0,34%.
“Kalau bicara studio lokal, tantangannya adalah bagaimana mengurangi gap knowledge terhadap begitu luasnya kesempatan yang ada dalam industri gim,” katanya.
Menanggapi hal itu, CEO Coda, Shane Happach mengatakan, Indonesia merupakan pasar terbesar perusahaan dan menyumbang sekitar 20% pendapatan global Coda. Menurutnya, potensi talenta dan pasar domestik menjadi alasan kuat untuk terus memperluas investasi dan kolaborasi di Indonesia.
“Bagi kami kreativitas ada di sini, bakat ada di sini, dan tentu saja basis pengguna yang besar juga ada di sini. Tugas kami adalah menyediakan akses dari sisi pembayaran, distribusi, dan dukungan komersial,” ujar Shane.
Melalui kerja sama ini, Kemenekraf dan Coda akan memperluas program pelatihan, inkubasi, serta promosi gim lokal di pasar internasional. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing pengembang Indonesia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional.
