Bahlil Targetkan E20 Meluncur 2028, Bisa Pangkas Impor Bensin 4 Juta KL
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia semakin agresif mendorong bauran energi berbasis bahan bakar nabati (BBN) guna menekan impor bahan bakar minyak (BBM) dan mengurangi ketergantungan terhadap devisa dolar AS. Pasalnya, Bahlil menargetkan Indonesia untuk bisa terbebas dari impor BBM di masa depan.
Setelah berhasil menghentikan impor solar melalui implementasi biodiesel, pemerintah kini membidik pengurangan impor bensin lewat program campuran etanol atau E20. Menurutnya, langkah ini akan membuat Indonesia mengurangi kebutuhan impor bensin hingga mencapai 4 juta kiloliter(KL).
Baca Juga
Bahlil Disambut di Munas NU, Prabowo: Apa Gara-Gara Harga BBM Tidak Naik?
“Devisa kita yang paling banyak itu adalah untuk membeli BBM. Hampir US$ 30 miliar per tahun kita harus menyiapkan devisa dolar. Nah bauran energi ini kita dorong ke depan, 2028-2029 kami akan terapkan menjadi E20. Kalau E20 dikali 20% berarti itu 4 juta KL kita bisa melakukan efisiensi (bensin),” kata Bahlil dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun Indef 2026 di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
E20 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri dari 80% bensin dan 20% etanol (bioetanol). Bahlil menerangkan, sejumlah negara telah lebih dulu menerapkan penggunaan bioetanol ini, seperti Amerika Serikat (AS) dan Brasil.
“Tujuannya apa? Agar kita bisa mengurangi impor kita, agar devisa kita itu tidak keluar. Memang di tengah kondisi geopolitik yang tidak menentu, nilai tukar juga semakin tinggi, ini hukum permintaan dan penawaran terhadap dolar sebenarnya. Ketika permintaan kita kepada dolar tidak terlalu besar, maka saya yakin nilai tukar kita juga akan semakin membaik. Ini aja sebenarnya prinsipnya,” tegas Bahlil.
Baca Juga
Bongkar Rumus BBM: Harga Minyak Dunia Mulai Turun, Mengapa Pertamax Belum Melandai?
Dia memaparkan, saat ini kebutuhan konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 40 juta KL per tahun. Sementara itu, produksi dalam negeri saat ini sudah sampai 20 juta KL setelah diresmikannya kilang di Kalimantan Timur.
“Sebelum kilang kita di Kalimantan Timur diresmikan, itu 14.250.000 KL (produksinya), kemudian kita tambah dengan kurang lebih sekitar 5,5 juta KL. Jadi sekarang tinggal kita impor bensin, tinggal 20 juta KL. Nah ini membuat para importir marah. Karena pikiran saya ke depan adalah nggak boleh kita impor. Sekalipun lifting kita katakanlah nggak mencukupi, kita harus konversi dia untuk bauran energi dengan energi nabati,” ucap Bahlil.
Maka dari itu, jika program E20 berjalan maka impor bensin bakal semakin berkurang lagi. “Dari (kebutuhan impor) 20 juta kiloliter bensin sekarang, jika kita terapkan E20, berarti tinggal 16 juta KL. Tinggal kita dorong bagaimana bisa meningkatkan lifting kita untuk menghasilkan klut untuk di bensin,” pungkasnya.
