E20 di 2028 Butuh 20 Pabrik Baru, ESDM Hitung Kebutuhan Bioetanol Tembus 1,39 Juta KL
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Target implementasi bensin campuran bioetanol 20% atau E20 pada 2028 bakal membutuhkan tambahan kapasitas produksi dalam negeri secara besar-besaran. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan kebutuhan bioetanol murni akan melonjak hingga sekitar 1,39 juta kiloliter saat E20 diterapkan.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan mandatori bioetanol akan difokuskan pada bensin nonsubsidi atau non-PSO. Pelaksanaannya tidak menggunakan alokasi subsidi maupun kompensasi dari APBN.
“Mandatori bioetanol ini difokuskan pada jenis bensin nonsubsidi (non-PSO), tanpa menggunakan alokasi subsidi maupun kompensasi APBN,” kata Eniya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Berdasarkan kalkulasi pemerintah, permintaan bensin non-PSO nasional diproyeksikan mencapai 6,65 juta kiloliter pada 2026. Angka tersebut meningkat menjadi 6,81 juta KL pada 2027, 6,97 juta KL pada 2028, 7,14 juta KL pada 2029, dan 7,35 juta KL pada 2030.
Dengan asumsi pencampuran E5 pada 2026, kebutuhan bioetanol murni diperkirakan mencapai 333.000 KL. Ketika campuran meningkat menjadi E10 pada 2027, kebutuhan naik menjadi 681.000 KL. Sementara penerapan E20 pada 2028 akan membutuhkan sekitar 1,39 juta KL bioetanol murni.
Baca Juga
Dorong Implementasi E10 di Indonesia, Pertamina NRE-USGBC Teken MoU
“Untuk E20, kebutuhan bioetanol murni ini akan meningkat secara signifikan seiring dengan peningkatan volume bensin non-PSO yang digunakan masyarakat,” ujar Eniya.
Lonjakan kebutuhan tersebut membuat pemerintah harus mengejar pembangunan pabrik baru. Pada 2027, ditargetkan ada tambahan 15 pabrik dengan kapasitas produksi sekitar 373.000 KL bioetanol. Jika E20 diberlakukan penuh secara nasional pada 2028, tambahan 20 pabrik baru diperlukan.
Baca Juga
Bahlil Siapkan Mandatori E10 pada 2027, Indonesia Bidik Campuran Etanol 20% untuk Tekan Impor BBM
Kebutuhan pembangunan fasilitas produksi masih berlanjut setelah E20 berjalan. Pemerintah menargetkan tambahan 11 pabrik masing-masing pada 2029 dan 2030 untuk menopang peningkatan kebutuhan bioetanol domestik. “Sebagai langkah awal komersial, PT Pertamina telah menjual varian E5 secara sukarela melalui produk Pertamax Green 95 sejak tahun 2023,” tutur Eniya.
Saat ini pemerintah tengah mematangkan uji teknis untuk campuran E10 dan E20. Pengujian tersebut dibahas melalui forum interaktif yang melibatkan pengguna, asosiasi industri, serta produsen bahan bakar nabati (BBN).
Selain mengejar kesiapan teknologi dan kapasitas produksi, pemerintah menetapkan seluruh bahan baku bioetanol wajib berasal dari dalam negeri. Kebijakan tersebut diharapkan mendorong investasi pada industri pengolahan domestik sekaligus membangun rantai pasok bioetanol nasional.
