Indonesia Masih Jadi Tujuan Investasi Asing
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rupiah sempat menembus Rp18.000 per dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 32% sejak awal tahun. Sejumlah data ekonomi kurang menggembirakan, di antaranya, surplus neraca perdagangan yang menyusut, neraca transaksi berjalan yang kembali defisit, dan berbagai kebijakan ekonomi pemerintah yang memicu perdebatan di kalangan pelaku pasar. Ekonomi Indonesia digambarkan seakan tidak memiliki prospek dan narasi itu memicu aksi demo, Jumat (12/06/2026). Namun, di balik berbagai sentimen negatif tersebut, satu fakta penting tidak terbantahkan: Indonesia masih menjadi tujuan investasi asing yang signifikan!
Fakta itu tercermin dari besarnya dana asing yang masih tertanam di pasar keuangan domestik, baik di pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Bahkan setelah investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) besar-besaran di Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai portofolio mereka di Indonesia masih mencapai ribuan triliun rupiah.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan bahwa hingga 12 Juni 2026 investor institusi asing masih menguasai sekitar 36% kapitalisasi pasar saham Indonesia. Dengan kapitalisasi pasar BEI sebesar Rp10.524,587 triliun atau sekitar US$587 miliar, nilai kepemilikan asing di pasar saham domestik masih mencapai Rp3.704,7 triliun atau sekitar US$208 miliar.
Baca Juga
IHSG dan Rupiah Menguat, Danantara: Bukti Investor Percaya Fundamental Ekonomi RI
Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun investor asing melakukan net sell sekitar Rp67,3 triliun atau US$3,7 miliar sejak awal tahun, posisi mereka di pasar saham Indonesia tetap sangat besar. Bahkan nilai kepemilikan asing di saham Indonesia masih lebih dari 12 kali lipat dana investasi yang saat ini berhasil dihimpun Danantara Indonesia yang mendekati Rp300 triliun.
Arus keluar dana asing dari pasar saham memang menjadi salah satu faktor yang menekan IHSG sepanjang semester pertama 2026. Hingga penutupan perdagangan 12 Juni 2026, IHSG berada di level 6.007 atau turun sekitar 31,6% dibandingkan posisi awal tahun yang berada di kisaran 8.788. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, kenaikan imbal hasil US Treasury, perang di Timur Tengah, serta kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan ekonomi domestik.
Namun, cerita yang terjadi di pasar obligasi dan instrumen moneter menunjukkan gambaran yang berbeda. Setelah Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin pada Mei 2026 dan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026, investor asing mulai kembali memburu instrumen keuangan domestik.
Bank Indonesia mencatat bahwa hanya dalam dua hari perdagangan setelah kenaikan BI-Rate, yakni pada 10-11 Juni 2026, aliran modal asing yang masuk ke SRBI dan SBN mencapai Rp19,02 triliun. Rinciannya, Rp15,11 triliun mengalir ke SRBI dan Rp3,91 triliun masuk ke SBN.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan respons positif investor terhadap langkah stabilisasi yang ditempuh bank sentral. “Pascakenaikan BI-Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik,” kata Destry dalam keterangan resmi BI, Jumat (12/06/2026).
SRBI menjadi instrumen yang paling diminati investor asing. Dengan imbal hasil yang kini berada pada kisaran 6,62% untuk tenor enam bulan, 6,87% untuk tenor sembilan bulan, dan menembus 7% untuk tenor 12 bulan, SRBI menawarkan kombinasi menarik antara tingkat pengembalian dan risiko yang relatif rendah.
Hingga pertengahan Juni 2026, outstanding SRBI mencapai Rp979,88 triliun. Dari jumlah tersebut, investor asing menguasai sekitar Rp216,48 triliun atau sekitar 22%-24% dari total outstanding. Posisi tersebut menjadikan SRBI sebagai salah satu instrumen favorit investor global yang mencari imbal hasil tinggi di tengah ketidakpastian pasar internasional.
Di pasar obligasi pemerintah, porsi kepemilikan asing memang terus menurun dan pada awal Juni 2026 berada di kisaran 12,62%, level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Namun penurunan porsi tersebut lebih banyak disebabkan oleh meningkatnya kepemilikan investor domestik dan strategi diversifikasi investor global. Yang menarik, ketika imbal hasil SBN naik seiring kenaikan suku bunga BI, investor asing kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia, terutama pada tenor pendek dan menengah.
Sinyal kepercayaan investor global juga terlihat dari keberhasilan Danantara Investment Management (DIM) menerbitkan obligasi internasional perdana senilai US$1,5 miliar pada 12 Juni 2026. Obligasi yang terdiri dari tenor lima tahun dan sepuluh tahun dengan yield masing-masing 5,35% dan 5,95% tersebut memperoleh permintaan hingga US$4,6 miliar atau mengalami oversubscription lebih dari tiga kali lipat.
Investor yang membeli obligasi Danantara berasal dari Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Tingginya minat investor global terhadap instrumen yang diterbitkan sovereign wealth fund Indonesia tersebut menunjukkan bahwa pasar internasional masih melihat Indonesia sebagai destinasi investasi yang menarik dalam jangka panjang.
Baca Juga
Destry bahkan secara khusus menyebut keberhasilan penerbitan obligasi Danantara sebagai salah satu indikator positif kepercayaan investor terhadap aset-aset Indonesia. “Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” ujarnya.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ekonomi Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan. Rupiah masih berada jauh di bawah asumsi APBN, surplus perdagangan menyusut, defisit transaksi berjalan kembali muncul, dan berbagai program pemerintah membutuhkan pembiayaan yang besar. Namun di sisi lain, Indonesia tetap menawarkan sejumlah daya tarik yang sulit ditemukan di banyak negara lain: pasar domestik yang besar, pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, stabilitas politik, sumber daya alam yang melimpah, serta potensi bonus demografi.
Karena itu, meskipun terjadi gejolak jangka pendek dan arus keluar modal dari pasar saham, fakta bahwa investor asing masih menempatkan sekitar Rp3.704,7 triliun di saham Indonesia, Rp216,48 triliun di SRBI, serta terus masuk ke pasar SBN dan obligasi Danantara menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia belum hilang.
Dalam bahasa pasar, uang tidak pernah berbohong. Dan hingga pertengahan Juni 2026, uang asing masih memilih Indonesia sebagai salah satu tempat untuk bertumbuh. (Sumber: BI/KSEI/BEI/DIM/Moody’s)
