3 Hari Mati Lampu di Sebagian Jawa, IESR Sebut Konsumen Alami Kerugian Finansial
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Institute for Essential Services Reform (IESR) mempertanyakan penjelasan awal terkait gangguan sistem kelistrikan yang menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah wilayah di Jawa selama 3 hari terakhir. Pasalnya, kejadian ini dinilai merugikan konsumen secara finansial.
CEO IESR Fabby Tumiwa mengatakan, walaupun konsumen berhak mendapatkan ganti rugi, tapi nilai ganti rugi tersebut tidak sebanding dengan biaya dan kerugian yang terjadi akibat pemadaman listrik
“Pemadaman bergilir yang terjadi selama 3 hari terakhir merugikan konsumen secara finansial. Oleh karena itu masyarakat perlu mendapatkan penjelasan transparan tentang kondisi keandalan pasokan listrik oleh Kementerian ESDM sebagai regulator dan PLN sebagai operator,” ujar Fabby, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga
PLN Bagi-bagi Voucher Listrik pada Juni, Syaratnya Isi Token di Aplikasi 'Mobile'
Fabby menyebut ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab pemadaman listrik, antara lain minimmnya cadangan daya, gangguan pasokan bahan bakar, jadwal perawatan pembangkit yang tidak sinkron, hingga gangguan transmisi.
IESR mendesak pemerintah perlu melakukan investigasi independen berbasis data guna mengidentifikasi penyebab langsung, faktor pemicu, dan akar masalah gangguan tersebut. Hasilnya perlu dipublikasikan secara terbuka agar dapat menjadi pembelajaran bagi perbaikan sistem ketenagalistrikan nasional sekaligus memperkuat akuntabilitas kepada publik.
“Investigasi menyeluruh bisa menjawab pemicu dan penyebab utama pemadaman,” tegas Fabby.
PLN juga perlu memastikan pemberian kompensasi kepada pelanggan yang terdampak sesuai ketentuan tingkat mutu pelayanan (TMP) yang berlaku. Pemadaman listrik dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi rumah tangga, pelaku usaha, industri, dan layanan publik.
Menurut Fabby, kejadian ini juga menunjukkan pentingnya percepatan penguatan jaringan transmisi dan distribusi, modernisasi sistem proteksi, serta pengembangan smart grid untuk meningkatkan ketahanan sistem terhadap gangguan di masa depan.
IESR menilai sistem kelistrikan Indonesia akan terus mengalami kerentanan apabila tetap didominasi oleh bahan bakar fosil dan tersentralisasi seperti sekarang. Dalam jangka pendek, pemanfaatan PLTS atap yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi (battery energy storage system/BESS) dapat membantu meningkatkan ketahanan pasokan listrik di tingkat pelanggan.
Baca Juga
Pemadaman Listrik di Jawa, Ketahanan Pasokan Batu Bara PLTU Jadi Sorotan
“Oleh karena itu, Kementerian ESDM harus segera memperbarui ketentuan Permen ESDM No. 2/2024 tentang PLTS Atap, dengan mengganti mekanisme kuota sistem sebagai syarat bagi konsumen. Relaksasi PLTS atap dan BESS dapat mempercepat penambahan daya listrik dan mengurangi beban listrik yang harus dipasok oleh PLN,” terangnya.
IESR menilai dalam jangka menengah, percepatan pembangunan pembangkit energi terbarukan, salah satunya melalui program 100 GW PLTS yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto harus segera diimplementasikan, serta pembangkit energi terbarukan lainnya, serta modernisasi jaringan listrik, apabila Indonesia ingin menghindari krisis listrik nasional dalam dua tahun mendatang.
