Merasa Sudah di Puncak Berarti Mati
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Setiap orang punya cara sendiri untuk mengukur keberhasilan. Ada yang merasa hidupnya sukses ketika kekayaan bertambah, jabatan naik, pengaruhnya menguat, atau namanya menjulang.
Gema Merdeka Goeyardi, bisa jadi, sudah memiliki segalanya. Ia sudah dianggap sukses sebagai pengusaha, analis pasar keuangan, trader, akademisi, dan penerbang. Nama Gema juga sedang tenar-tenarnya sebagai pegiat media sosial (medsos).
Tapi Founder sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Astronacci International, Astro Jet, dan Astronacci Aviation LLC yang dikenal karena mengembangkan metode analisis pasar Astronacci ini tak pernah merasa sudah berada di puncak.
Gema memilih untuk memosisikan diri sebagai orang yang sedang mendaki, terus mendaki. Itu karena ia memegang teguh keyakinan bahwa ia tak boleh berhenti belajar, tak boleh membatasi diri, dan harus terus berkarya agar segala pencapaiannya mendatangkan manfaat bagi orang lain.
Bagi Gema, keberhasilan justru bisa menjadi awal petaka ketika seseorang merasa sudah sampai di tujuan. Saat seseorang merasa sudah sukses, saat itu pula ia sesungguhnya telah “mati”.
“Kalau sudah di puncak, terus ngapain? Ya turun,” kata Gema Merdeka Goeyardi kepada jurnalis investortrust.id, Maulana Kautsar, Mohammad Defrizal, dan Abdul Aziz di studio investortrust.id, Jakarta, baru-baru ini.
Gema Goeyardi tidak ingin terjebak dalam perasaan telah mencapai segalanya, apalagi kemudian berhenti mengembangkan diri. Doktor bidang manajemen keuangan sekaligus analis teknikal dan instruktur penerbangan ini percaya bahwa setiap orang punya sesuatu yang bisa dipelajari dan dikerjakan selama ia masih hidup.
Bahkan, pria kelahiran Surabaya, 17 Agustus 1986 berjuluk The Billionaire Trader itu memiliki ukuran yang tidak lazim untuk menandai akhir perjalanan. “Saya merasa berada di puncak ketika saya meninggal, ketika saya mati. Itu filosofi saya,” tandas dia.
Kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan untuk terdengar berbeda. Perjalanan hidup Gema memperlihatkan bagaimana ia berulang kali harus memulai kembali segalanya setelah rencana yang disusun tidak berjalan sesuai harapan.
Impian Gema menjadi pilot, misalnya, pernah dihentikan oleh keluarga. Ia juga pernah jatuh bangkrut setelah uang yang dikumpulkan selama bertahun-tahun ludes tak tersisa akibat kejatuhan pasar saham.
Namun, ia tidak menjadikan dua pengalaman itu sebagai alasan untuk mengakhiri pencarian.
Ada sesuatu yang menarik dari cara Gema memandang kegagalan. Ia tidak selalu melihatnya sebagai tanda bahwa seseorang telah memilih jalan yang salah.
Kegagalan, menurut Gema Goeyardi, bisa menjadi petunjuk bahwa ada bagian dari strategi, kemampuan, atau cara berpikir yang belum tepat. Artinya, ada sesuatu yang perlu diperbaiki sebelum perjalanan dilanjutkan.
Pandangan itu terbentuk jauh sebelum namanya dikenal di kalangan pelaku pasar modal dan pengikut konten edukasi investasi.
Saat masih kecil, Gema sudah memiliki satu keinginan yang sangat spesifik: menerbangkan pesawat. Bukan sekadar bekerja di industri penerbangan, melainkan benar-benar duduk di kokpit dan mengendalikan pesawat sendiri.
Keinginan tersebut bertahan ketika ia tumbuh dewasa. Di SMA, ia mempelajari dunia penerbangan secara otodidak dan bermain simulator. Ia mengikuti perkembangan pesawat dan membayangkan suatu hari bisa menerbangkan pesawat sungguhan.
Saat lulus SMA pada usia 16 tahun, Gema merasa waktunya untuk mewujudkan impian itu sudah dekat. Namun, hidup tidak selalu mengikuti rencana yang dibuat seseorang.
Gema sempat mengikuti tes bakat di sebuah sekolah penerbangan swasta di Jakarta. Orang tuanya bersedia membiayai pendidikan tersebut. Tetapi di tengah proses itu, ibunya menangis karena tidak rela anaknya menjadi pilot. Ia takut Gema mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Keputusan keluarga menghentikan langkahnya.
Gema, saat itu, menganggap peristiwa tersebut sebagai prahara. Impian yang dipelihara sejak SD membentur karang.
Ia merasa hancur.
Toh, ia tidak bersedia mengubur cita-citanya begitu saja.
“Saya bersumpah kepada diri saya, apa pun akan saya lakukan agar saya menjadi pilot,” kenangnya.
Janji itulah yang kemudian membawanya menjalani jalan memutar yang panjang.
Gema Goeyardi tidak langsung menemukan pekerjaan yang menjanjikan, apalagi sumber pendapatan yang bisa membiayai sekolah penerbangan. Ia bekerja serabutan agar bisa menghasilkan uang. Pernah menjadi calo tiket pesawat, tenaga penjualan, berbisnis udang, mengurus penyewaan pesawat, hingga menangani pengiriman udang.
Pada fase itu, menjadi pilot bukan lagi sekadar persoalan memilih profesi. Ia harus lebih dahulu menyelesaikan persoalan yang sangat mendasar: dari mana biayanya?
Pada akhir 2006, Gema mulai mempelajari saham. Setahun kemudian, ia mulai membeli saham dan masuk ke pasar modal. Ia melihat investasi sebagai salah satu jalan untuk mengumpulkan modal yang dibutuhkan.
Saat itu, akses terhadap informasi belum semudah sekarang. Internet masih terbatas, sementara bahan pembelajaran investasi juga belum sebanyak yang tersedia saat ini.
Ia belajar sambil menjalani prosesnya. Pasar modal kemudian memperkenalkannya pada dua sisi yang bertolak belakang: peluang untuk mengembangkan kekayaan dan risiko kehilangan uang dalam waktu singkat.
Gema memulai perjalanan investasinya dengan modal sekitar US$2.000 dan kemudian mengembangkan kekayaannya hingga US$5 juta melalui investasi, termasuk di pasar emas berjangka. Keuntungan yang diperoleh sebagian kembali diinvestasikan ke berbagai instrumen, termasuk saham.
Prahara kedua datang.
Tahun 2008 adalah salah satu pengalaman paling pahit dalam hidup Gema Goeyardi. Kejatuhan pasar saham Indonesia menghapus uang yang telah dikumpulkannya, sedikit demi sedikit, selama bertahun-tahun.
Sebelum masuk pasar modal, Gema bahkan pernah mengajar piano dan bermain sulap untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
“Market mengalami crash. Uang yang saya dapatkan dari tahun 2003, dari mengajar piano, main sulap, uang receh yang saya kumpulin, habis semua di market,habis,” tutur dia, dengan suara tercekat.
Dalam situasi tersebut, ayah Gema membantu menyelamatkannya dari keterpurukan finansial. Dukungan keluarga menjadi penopang ketika ia harus menghadapi kenyataan bahwa kerja keras tidak selalu berakhir dengan hasil yang diharapkan.
Pengalaman itu juga mengubah cara Gema memandang investasi. Gema tidak ingin kembali mengalami kehancuran yang sama.
Jika sebelumnya Gema hanya berusaha memahami bagaimana memperoleh keuntungan, setelah itu ia juga ingin memahami kapan risiko membesar dan kapan pasar berpotensi berbalik arah.
Ia mulai bertanya-tanya:
Bagaimana jika penurunan pasar bisa diperkirakan lebih awal?
Bagaimana jika investor memiliki cara untuk mengenali saat harga berhenti jatuh dan mulai berbalik naik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kelak menjadi salah satu titik awal pengembangan Astronacci. Namun, saat itu, Gema masih memiliki tujuan lain yang belum tercapai.
Ia ingin kembali ke impian masa kecilnya.
Pada 2016, setelah sekitar sembilan tahun masuk ke pasar modal, ia berangkat ke Amerika Serikat (AS). Yang menarik, Gema tidak hanya datang untuk menjadi murid di sekolah penerbangan yang sudah ada. Ia mendirikan sekolah penerbangan sendiri dan menjadi murid pertamanya.
Ia mengelola usaha tersebut dengan mengikuti ketentuan Federal Aviation Administration (FAA), badan pemerintah AS yang mengatur penerbangan sipil. Untuk pelatihan, ia bekerja sama dengan instruktur dan klub penerbangan yang menyediakan pesawat.
Hebatnya, Gema mampu menyelesaikan pelatihan private pilot atau pilot pribadi hanya dalam 14 hari. Ia kemudian melanjutkan instrument rating, yakni kualifikasi untuk terbang dengan mengandalkan instrumen, selama 10 hari.
Total jenderal, waktu pelatihan yang dicatatnya sekitar 24 hari. Ia menyebut pencapaian tersebut sebagai rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Tentu saja semua itu tidak datang tanpa persiapan. Selama bertahun-tahun sebelum berangkat ke AS, Gema telah mempelajari dunia penerbangan secara mandiri. Ia memahami dasar-dasar yang diperlukan.
Impian yang sempat terkubur lebih dari satu dekade akhirnya menemukan jalannya. Salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup Gema terjadi pada 2021, ketika ia pertama kali menerbangkan Boeing 737.
Gema tidak pernah bekerja sebagai pilot maskapai penerbangan, tetapi memperoleh kesempatan menjadi kapten Boeing 737 melalui jalur yang ditempuhnya.
Selain Boeing 737, Gema memiliki kualifikasi untuk menerbangkan sejumlah jenis pesawat lain, termasuk Boeing 777, Airbus A320, dan Airbus A330, dengan posisi serta kewenangan yang berbeda sesuai kualifikasi masing-masing. Ia juga memiliki pengalaman menerbangkan pesawat jet Citation dan Embraer 145.
Di Indonesia, Gema Goeyardi memiliki lisensi Airline Transport Pilot Licence (ATPL), yaitu lisensi pilot angkutan udara, dan pernah mengajar di sekolah penerbangan. Selain itu, ia tengah mendalami penerbangan helikopter. Berikut penuturan lengkapnya:
Apa sebetulnya yang Anda kejar dalam hidup?
Sejak SD, saya sudah ingin menjadi pilot. Waktu SMA, saya belajar dunia penerbangan secara otodidak, bermain simulator, dan mendalami berbagai hal tentang pesawat. Saya ingin suatu hari bisa menerbangkan pesawat sungguhan.
Saya lulus SMA pada 2003, saat usia 16 tahun. Setelah itu, saya berencana masuk sekolah penerbangan dengan biaya dari orang tua. Saya sempat mengikuti tes bakat di salah satu sekolah penerbangan swasta di Jakarta. Namun, saat tes berlangsung, mama saya menangis karena tidak rela anaknya menjadi pilot. Beliau takut saya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Akhirnya rencana itu dihentikan. Saya kecewa berat, bahkan merasa hancur karena impian yang sudah saya bangun sejak kecil tiba-tiba kandas.
Dari situ saya bersumpah kepada diri saya, apa pun akan sayalakukan agar saya menjadi pilot. Saya belum tahu bagaimana caranya, tetapi saya akan bekerja keras untuk mewujudkannya.
Yang Anda lakukan setelah itu?
Saya bekerja apa saja untuk mengumpulkan uang. Saya pernah menjadi calo tiket pesawat, tenaga penjualan, berbisnis udang, sampai mengurus penyewaan pesawat dan pengiriman udang. Apa pun yang bisa menghasilkan uang, saya coba.
Pada akhir 2006, saya mulai mempelajari saham. Kemudian, pada 2007, saya mulai masuk ke pasar modal dan membeli saham.
Waktu itu kondisinya berbeda dengan sekarang. Literasi keuangan belum berkembang seperti saat ini, akses internet juga masih terbatas. Jadi, saya harus belajar sendiri dan mencari informasi dari berbagai sumber.
Tujuan Anda masuk pasar modal?
Tujuan saya sederhana: menghasilkan uang agar suatu hari bisa membiayai sekolah penerbangan. Saya mulai masuk pasar modal pada 2007, lalu berangkat ke AS pada 2016. Jadi, sekitar sembilan tahun saya berjuang untuk mewujudkan impian itu.
Selama periode tersebut, saya tidak hanya berinvestasi. Saya juga belajar, mengembangkan kemampuan, dan mencoba memahami bagaimana pasar bergerak.
Akhirnya Anda berhasil mengupulkan uang?
Saya berhasil mengumpulkan uang, dari modal awal US$2.000 berkembang menjadi US$5 juta dalam delapan tahun. Saya memperoleh keuntungan yang kemudian saya investasikan kembali ke pasar modal, termasuk saham.
Uang untuk membiayai sekolah pilot memang berasal dari perjalanan investasi saya. Saya mengembangkan modal melalui berbagai instrumen, menginvestasikan kembali keuntungan, dan terus belajar dari setiap pergerakan pasar.
Akhirnya terkumpul dana yang bisa saya gunakan untuk mengejar impian masa kecil. Ketika berangkat ke AS, uang yang benar-benar saya siapkan untuk mewujudkan hobi dan cita-cita tersebut nilainya hampir Rp3 miliar.
Semudah dan sesederhana itu?
Perjalanannya tidak berlangsung begitu saja. Saya melalui proses panjang, termasuk berinvestasi di pasar emas berjangka. Saya melewati kejatuhan pasar pada 2008, kemudian pemulihan pada 2009 dan tahun-tahun berikutnya, termasuk kembali menghadapi gejolak pasar pada 2011.
Saya juga mengalami kerugian dan harus menghadapi berbagai situasi sulit. Namun, dari proses itulah saya belajar mengelola risiko dan memahami bahwa pasar memiliki siklus.
Anda langsung belajar di sekolah penerbangan di AS?
Justru saya mendirikan sekolah penerbangan sendiri di sana, dan saya menjadi murid pertamanya.
Kok bisa?
Saya mendirikan usaha, mengelola sekolah penerbangan, menyewa pesawat, dan merekrut instruktur. Saya juga bekerja sama dengan klub penerbangan atau flying club yang memiliki instruktur dan pesawat yang dapat digunakan untuk pelatihan. Dengan demikian, pelatihan berjalan di bawah merek sekolah yang saya dirikan.
Bagaimana Anda memastikan standar pelatihannya memenuhi ketentuan penerbangan AS?
Kami mengikuti ketentuan Federal Aviation Administration (FAA), yaitu badan pemerintah AS yang mengatur penerbangan sipil. Kami mengurus usaha dan operasional sekolah sesuai ketentuan yang berlaku, kemudian bekerja sama dengan penyedia pesawat dan instruktur. Jadi, pelatihan yang saya jalani mengikuti standar dan sistem penerbangan AS.
Berapa lama Anda menyelesaikan pendidikan pilot?
Saya memegang rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk penyelesaian lisensi private pilot (pilot pribadi) dan instrument rating (kualifikasi penerbangan menggunakan instrumen) dalam 24 hari.
Saya menyelesaikan pelatihan private pilot dalam 14 hari, kemudian melanjutkan pelatihan instrument rating selama 10 hari. Totalnya tepat sekitar 24 hari pelatihan, sebagaimana tercatat dalam buku catatan penerbangan atau logbook saya.
Bisa secepat itu?
Sistem pendidikan penerbangan di AS memang memungkinkan proses yang relatif cepat. Sejak dulu, seseorang bisa menyelesaikan pendidikan hingga memperoleh lisensi commercial pilot (pilot komersial) dalam waktu sekitar enam bulan, bergantung pada program dan intensitas pelatihannya.
Dalam kasus saya, persiapan itu sebenarnya sudah berlangsung sejak kecil. Saya sudah lama mempelajari dunia penerbangan, bermain simulator, dan mendalami berbagai hal tentang pesawat, meskipun saat itu belum tahu kapan bisa masuk sekolah pilot.
Ketika akhirnya memiliki kesempatan, saya sudah memiliki bekal pengetahuan dan langsung memusatkan perhatian pada pelatihan. Saya memang mendorong diri sendiri untuk menyelesaikannya secepat mungkin.
Anda bisa menerbangkan pesawat jenis apa saja?
Untuk pesawat kecil bermesin tunggal atau single-engine aircraft, saya bisa menerbangkan berbagai jenis pesawat. Saya juga memiliki kualifikasi untuk pesawat bermesin ganda atau multi-engine aircraft dengan batas berat tertentu, sesuai lisensi dan kualifikasi yang saya miliki.
Untuk pesawat jet, saya memiliki sejumlah kualifikasi tipe atau type rating. Saya pernah menjadi kapten pada Boeing 737 dan Airbus A320, serta Boeing 777. Saya juga memiliki lisensi Airbus A330, dengan posisi sebagai second-in-command (kopilot atau pilot pendamping).
Selain itu, saya pernah menjadi kapten pada pesawat jet Citation, termasuk Citation 500 dan 560, serta Embraer 145. Secara keseluruhan, saya memiliki enam kualifikasi tipe untuk pesawat jet. Saya juga memiliki rencana untuk mengikuti peningkatan kualifikasi ke Boeing 787, jika semuanya berjalan sesuai harapan.
Cara Anda mempertahankan kemampuan sebagai penerbang?
Tentu kemampuan pilot harus terus dipelihara melalui latihan dan pembelajaran. Saya biasa berangkat ke AS untuk terbang karena saya memiliki pesawat di sana. Saya juga memiliki akses ke pesawat di Johor Bahru, Malaysia, serta simulator penerbangan.
Selain itu, saya memiliki jadwal belajar khusus setiap akhir pekan, sekitar empat jam sehari. Karena kualifikasi saya cukup banyak, materi yang dipelajari bergantian. Bulan ini, misalnya, saya mempelajari kembali Boeing dan Airbus A320. Bulan berikutnya, saya mengulang materi Boeing 777, lalu beralih ke pesawat-pesawat yang lebih kecil.
Semua itu membutuhkan disiplin tinggi. Memiliki lisensi saja tidak cukup. Pengetahuan dan keterampilan harus terus diperbarui.
Jenis pesawat yang paling sulit Anda terbangkan?
Mungkin helikopter. Helikopter membutuhkan keterampilan dan ketenangan yang sangat tinggi. Pada pesawat biasa, ketika pesawat sudah stabil di udara, pilot bisa mempertahankan kendali lebih mudah, bahkan menggunakan sistem autopilot jika tersedia.
Helikopter berbeda. Pilot harus mengoordinasikan tangan dan kaki secara bersamaan untuk mengendalikan pesawat. Helikopter juga merupakan wahana terbang yang sangat tidak stabil. Gerakan kendalinya harus sangat halus. Penyesuaian yang terlalu besar sedikit saja bisa membuat helikopter kehilangan kestabilan.
Saya sudah memiliki 3-4 jam pengalaman terbang helikopter karena sedang mempersiapkan diri untuk mengambil kualifikasi menerbangkan helikopter.
Pernah menerbangkan pesawat di Indonesia?
Pernah. Saya memiliki lisensi Airline Transport Pilot Licence (ATPL), yaitu lisensi pilot angkutan udara, di Indonesia. Saya juga pernah mengajar di salah satu sekolah penerbangan. Selain itu, saya pernah menerbangkan tiga unit pesawat Boeing untuk pengiriman kepada Polri dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).
Pengalaman paling membahagiakan Anda selama menjadi pilot?
Saat pertama kali menerbangkan Boeing 737 pada 2021. Itu adalah salah satu impian terbesar saya sejak kecil. Dulu, orang-orang mengenal saya sebagai orang yang sangat tergila-gila pada dunia penerbangan.
Saya bahkan dijuluki gipil, singkatan dari gila pilot. Saya selalu membayangkan suatu hari bisa menerbangkan Boeing. Ketika akhirnya terwujud, kebahagiaannya luar biasa.
Saya juga punya pengalaman terbang bersama istri dan anak-anak. Itu kebahagiaan yang berbeda karena saya menerbangkan pesawat sendiri bersama keluarga. Saya pernah membawa istri dan anak-anak ke Las Vegas. Kami makan siang, menonton pertunjukan, lalu pulang.
Pengalaman seperti itu sangat menyenangkan. Namun, jika berbicara tentang impian masa kecil yang paling mendasar, menerbangkan Boeing 737 tetap menjadi salah satu pencapaian terbesar saya.
Saya bahkan tidak pernah bekerja sebagai pilot maskapai penerbangan. Karena itu, kesempatan menjadi kapten Boeing 737 melalui jalur yang saya tempuh terasa sangat istimewa. Tidak banyak orang yang memperoleh kesempatan seperti itu.
Anda juga mendirikan Astronacci, bagaimana ceritanya?
Orang sering mengaitkan saya dengan Astronacci ketika pasar saham sedang merah atau mengalami penurunan. Menurut saya, itu menarik karena ketika pasar sedang naik, banyak orang merasa dirinya hebat. Namun, ketika pasar jatuh, sebagian investor mulai kebingungan dan ingin keluar dari pasar.
Saya justru ingin membantu investor memahami kapan penurunan pasar berpotensi berakhir dan kapan pembalikan arah mungkin terjadi.
Dari mana ide itu muncul?
Gagasan itu berawal dari pengalaman buruk saya pada 2008, ketika pasar saham mengalami kejatuhan akibat krisis subprime mortgage (kredit perumahan berisiko tinggi) di AS. Saya mengalami kerugian besar.
Saat itu saya berpikir, seandainya saya mengetahui lebih awal kapan pasar akan jatuh, mungkin saya bisa keluar sebelum kerugian membesar. Sebaliknya, jika saya mengetahui kapan pasar mencapai titik terendah, saya bisa mempertimbangkan untuk masuk kembali.
Sayangnya, waktu itu saya belum memiliki metode untuk membaca pergerakan pasar seperti yang saya inginkan. Setelah mengalami kerugian, saya mulai mencari pendekatan yang dapat membantu saya memahami waktu dan siklus pergerakan harga.
Dari pengalaman itu, saya mulai memahami bagaimana menghadapi pasar yang sedang jatuh dan bagaimana memanfaatkan peluang ketika pasar kembali pulih.
Bagaimana Anda kemudian mengembangkan metode Astronacci?
Saya mempelajari bahwa di AS, pendekatan financial astrology (astrologi keuangan) telah digunakan selama sekitar satu abad untuk menganalisis waktu pergerakan pasar. Namun, pendekatan yang ada, menurut saya, terlalu kompleks.
Saya kemudian mencoba menyederhanakannya dengan menggabungkan analisis gelombang Elliott atau Elliott Wave Analysis, deret dan rasio Fibonacci, serta astrologi. Dari situ, saya mengembangkan metode untuk mengidentifikasi siklus pasar dan memperkirakan kapan pembalikan arah harga berpotensi terjadi.
Intinya, saya ingin mengetahui bukan hanya ke mana harga bergerak, melainkan juga kapan perubahan arah itu mungkin berlangsung.
Memangnya ada hubungan antara siklus astrologi dan perilaku investor?
Dalam pendekatan yang saya gunakan, siklus tersebut dikaitkan dengan perilaku atau behavior manusia. Saya berangkat dari gagasan bahwa perilaku manusia memiliki pola yang berulang dan pola itu dapat memengaruhi keputusan investasi.
Karena itu, saya mencoba menghubungkan siklus waktu dengan pergerakan harga pasar. Namun, tentu saja, dalam penerapannya, kita tetap perlu melihat hasil pengujian, konsistensi pola, dan tingkat akurasinya. Tidak ada metode yang bisa menjamin seluruh prediksi pasar selalu benar.
Metode Astronacci sudah diuji secara akademis?
Saya mengembangkan penelitian tersebut dalam pendidikan doktoral saya di Universitas Persada Indonesia. Untuk mencari promotor yang bersedia mendalami topik ini, prosesnya tidak mudah. Akhirnya, Prof. Hamdy Hadi dan Prof. Imam Ghozali dari Universitas Diponegoro (Undip) terlibat sebagai promotor. Disertasi saya juga terbit dalam jurnal yang terindeks Scopus kuartil tiga atau Q3.
Bisa diterima para praktisi dan akademisi pasar modal?
Saya menyadari bahwa ada orang yang meragukan pendekatan ini. Bagi saya, kritik merupakan bagian dari proses akademis. Jika seseorang menganggap metode saya salah, silakan melakukan penelitian tandingan, menguji pendekatannya, dan memublikasikan hasilnya. Yang penting, perdebatan seharusnya dilakukan dengan bukti dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.
Seberapa akurat metode Astronacci dalam memperkirakan pembalikan arah pasar?
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, ketika pasar turun, saya merasa bisa memperkirakan kapan penurunan itu berpotensi berakhir dengan tingkat ketepatan 70–80%. Tapi itu merupakan penilaian berdasarkan pengalaman dan penerapan metode yang saya gunakan, bukan jaminan bahwa setiap prediksi akan benar. Hasilnya tetap bergantung kondisi pasar dan cara pengukuran yang digunakan.
Bagi saya, pengalaman mengalami kerugian besar pada 2008 menjadi pelajaran penting. Saya ingin memiliki pendekatan yang membantu investor lebih siap menghadapi penurunan pasar dan tidak hanya bereaksi setelah kerugian terjadi.
Sejak kapan metode Astronacci digunakan secara komersial?
Kami mulai mengembangkan Astronacci secara komersial pada 2009. Sejak itu, penggunanya terus bertambah.
Berapa banyak penggunanya dan dari kalangan mana saja?
Saat ini, jumlah orang yang pernah atau sedang menggunakan layanan kami sudah lebih dari 200.000 orang. Selama ini, kelompok pengguna terbesar kami berada pada rentang usia 32–45 tahun. Kelompok ini umumnya sudah memiliki pengalaman yang cukup untuk memahami pentingnya analisis waktu dalam investasi.
Sementara itu, generasi muda yang baru mengenal pasar modal setelah pandemi Covid-19 sering kali memiliki karakter berbeda. Sebagian dari mereka mengenal investasi melalui aset kripto dan meme coin (aset kripto yang populer karena tren atau komunitas), yang pergerakan harganya bisa sangat cepat.
Mereka terkadang lebih tertarik pada keuntungan besar dalam waktu singkat. Karakter seperti itu belum tentu sejalan dengan pendekatan Astronacci.
Namun, saya melihat pergeseran demografi. Jika dahulu pengguna kami didominasi kelompok usia 36–50 tahun, sekarang semakin banyak pengguna berusia lebih muda, bahkan mulai dari akhir usia 20-an.
Jika kita tarik benang merah dari perjalanan hidup Anda, nilai apa yang membuat Anda mampu bertahan, berkembang, dan mengatasi berbagai kesulitan?
Saya selalu berpegang pada Roma 8:28 (Perjanjian Baru), yang mengajarkan bahwa segala sesuatu dapat bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan dan hidup sesuai dengan tujuan-Nya.
Bagi saya, apa pun yang terjadi dalam hidup tidak terlepas dari kedaulatan dan izin Tuhan. Saya percaya bahwa setiap pengalaman, termasuk kegagalan, memiliki makna dan dapat membawa kebaikan.
Namun, kepercayaan itu bukan alasan untuk berdiam diri. Saya tetap harus bertanggung jawab, profesional, melakukan yang terbaik, dan terus belajar.
Ketika gagal, saya menganggap ada sesuatu yang belum tepat dalam proses yang saya jalani. Artinya, saya harus mengevaluasi diri dan mencari apa yang perlu diperbaiki.
Saya juga banyak belajar dari kisah Nabi Ayub. Ia pernah mengalami masa kejayaan, kemudian menghadapi ujian berat dan kehilangan banyak hal, tetapi tetap mampu bertahan.
Kisah itu mengingatkan saya bahwa kehidupan manusia memiliki siklus. Kita bisa berada di atas, kemudian jatuh karena kesalahan sendiri atau keadaan di luar kendali. Setelah itu, kita harus berjuang untuk bangkit dan berusaha mencapai keadaan yang lebih baik. Itulah salah satu landasan saya menjalani hidup.
Prinsip yang Anda pegang dalam bekerja dan berbisnis?
Saya selalu berusaha agar apa yang saya lakukan berguna bagi banyak orang dan mampu membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik. Bagi saya, pusat pemikiran kita tidak boleh hanya diri sendiri. Kita harus memikirkan orang lain.
Ketika mengambil keputusan, saya selalu bertanya: jika saya melakukan ini, apakah kehidupan orang lain bisa menjadi lebih baik? Apakah kepentingan mereka bisa terbantu?
Saya juga mengajarkan hal itu kepada murid-murid saya. Dalam pemasaran maupun bisnis, kita tidak seharusnya hanya memikirkan keuntungan pribadi. Kita perlu melihat bagaimana usaha yang kita bangun dapat membantu kemajuan industri dan ekosistem secara keseluruhan.
Memang, jika terlalu memikirkan orang lain, ada kemungkinan kita dimanfaatkan atau bahkan ditipu. Namun, itu bukan alasan untuk berhenti berbuat baik. Yang penting, kita tetap belajar, menjaga kewaspadaan, dan memahami risiko.
Bagi saya, keberhasilan tidak semata-mata diukur dari seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya berorientasi pada hasil atau goal-oriented. Saya menetapkan sasaran dan tenggat. Bagaimana cara mencapainya bisa diserahkan kepada tim, selama hasil akhirnya sesuai dengan sasaran yang ditentukan dan tetap memenuhi standar yang berlaku. Namun, saya cukup tegas ketika seseorang melakukan kesalahan berulang kali.
Dalam keadaan tertentu, saya juga bersedia mengerjakan sendiri pekerjaan yang seharusnya dilakukan tim saya. Bahkan, kalau saya harus membersihkan toilet, saya akan melakukannya. Tidak ada masalah bagi saya.
Respons Anda dalam menghadapi kegagalan?
Saya ibaratkan belajar memasak. Kadang masakan terlalu asin, kurang matang, atau justru terlalu matang. Kita harus terus mencoba sampai menemukan titik keseimbangan yang tepat, sehingga rasanya enak ketika dikunyah dan setelah ditelan.
Begitu juga dengan kehidupan dan pekerjaan. Kita harus menemukan kombinasi yang tepat antara kemampuan, strategi, disiplin, pengalaman, dan waktu. Kegagalan menjadi bahan evaluasi untuk menemukan keseimbangan tersebut.
Dengan pencapaian yang sudah diraih sekarang, apakah Anda merasa sudah berada di puncak kesuksesan?
Belum. Menurut saya, tidak ada puncak selama kita masih hidup.
Apa maksudnya?
Kalau seseorang merasa sudah mencapai puncak, biasanya setelah itu ia mulai turun. Ia merasa nyaman, masuk ke comfort zone (zona nyaman), lalu kehilangan dorongan untuk berkembang. Kalau sudah di puncak, terus ngapain? Ya turun.
Saya tidak ingin seperti itu. Bagi saya, puncak kehidupan baru terjadi ketika saya meninggal dunia. Jadi, saya merasa berada di puncak ketika saya meninggal, ketika saya mati. Itu filosofi saya. Selama masih hidup, saya harus terus belajar, berkarya, dan meningkatkan kemampuan.
Artinya, Anda merasa belum sukses?
Belum. Perjalanan saya masih panjang. Bahkan, kalau saya menjadi orang terkaya di Indonesia, saya akan bertanya lagi, berada di urutan berapa saya di dunia? Kalau sudah menjadi orang terkaya di dunia, apakah saya lebih kaya daripada makhluk lain di galaksi Bima Sakti?
Pertanyaan seperti itu memang terdengar berlebihan, tetapi intinya sederhana: selalu ada ruang untuk berkembang. Kita tidak boleh membatasi diri dengan pencapaian yang sudah diraih.
Lalu, apa definisi sukses menurut Anda?
Bagi saya, sukses memiliki dua dimensi. Pertama, saya mampu mencapai apa yang saya inginkan dan menjalani sesuatu yang benar-benar menjadi minat atau passion saya. Kedua, kehidupan saya mulai berguna bagi orang lain.
Sekarang, ketika bertemu saya, sebagian orang tidak hanya meminta foto. Ada yang menyampaikan bahwa hidupnya berubah setelah mengikuti materi atau pembelajaran yang saya bagikan.
Ada yang menjabat tangan saya dan berkata, “Terima kasih, Pak. Hidup saya sekarang berubah menjadi lebih baik.”
Bagi saya, itulah kesuksesan.
Kalau bertemu artis Hollywood, misalnya, orang mungkin hanya ingin berfoto bersama. Namun, ketika seseorang bertemu saya lalu menyampaikan bahwa apa yang saya lakukan membantu mengubah kehidupannya, itu memiliki makna yang berbeda.
Saya ingin keberadaan saya memberikan dampak nyata bagi orang lain, bukan hanya membuat saya dikenal.
Bagaimana Anda menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi?
Terus terang, itu salah satu kekurangan saya. Saya belum memiliki kesempatan untuk benar-benar menerapkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance.
Menurut saya, waktu yang tersedia tidak banyak. Selama masih berada dalam usia produktif, saya ingin bekerja lebih keras agar bisa menghasilkan karya yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Orang yang sudah memiliki stabilitas kehidupan yang baik mungkin lebih leluasa menjaga keseimbangan tersebut. Saya merasa belum memiliki keleluasaan seperti itu.
Saya tetap bekerja pada akhir pekan. Namun, saya juga berolahraga dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Cara Anda menghilangkan rasa jenuh?
Kalau sedang jenuh, saya pergi memancing atau terbang. Menariknya, sebagian besar pekerjaan saya juga merupakan hobi saya. Karena itu, saya menikmati apa yang saya kerjakan.
Bagi saya, bekerja tidak selalu harus identik dengan tekanan atau stres. Ketika kita mengerjakan sesuatu yang kita sukai, pekerjaan itu bisa menjadi bagian dari kesenangan hidup.
Jika bisa mengulang perjalanan hidup dari awal, apakah Anda akan tetap memilih jalur yang sama seperti sekarang?
Saya akan tetap memilih jalur ini. Namun, mungkin saya akan lebih tajam dalam mengambil keputusan dan lebih disiplin agar pencapaian saya bisa diraih lebih cepat.
Lima tahun lalu, misalnya, mungkin saya sudah bisa mencapai beberapa hal yang sekarang baru terwujud. Salah satu penyebabnya adalah saya dahulu belum cukup mampu mengendalikan emosi.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Kita juga harus mampu mengelola diri sendiri, terutama ketika menghadapi tekanan dan membuat keputusan penting.
Apa titik terendah dalam kehidupan Anda yang akhirnya mengubah cara pandang terhadap kesuksesan?
Tahun 2008, ketika saya mengalami kerugian besar di pasar saham. Saya sudah mengumpulkan uang sejak 2003. Saat itu, saya juga pernah mengajar piano, bermain sulap, dan melakukan berbagai pekerjaan untuk mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Setelah bekerja dan menabung selama bertahun-tahun, uang yang saya miliki akhirnya habis akibat kejatuhan pasar saham Indonesia.
Market mengalami crash. Uang yang saya dapatkan dari tahun 2003, dari mengajar piano, main sulap, uang receh yang saya kumpulin, habis semua di market, habis.
Saya merasa semua usaha selama tujuh sampai delapan tahun seolah-olah lenyap dalam sekejap. Namun, pengalaman itu mengubah cara saya memandang risiko. Saya menjadi jauh lebih berhati-hati dan tidak ingin mengalami kehancuran yang sama lagi.
Seberapa besar peran keluarga dalam membantu Anda melewati masa-masa sulit?
Sangat besar. Ketika saya mengalami kehancuran finansial pada 2008, Papa membantu menyelamatkan saya. Beliau memberikan dukungan ketika saya berada di titik terendah.
Sampai sekarang, Papa masih mengikuti podcast yang saya buat dan memberikan kritik. Beliau tidak segan mengatakan bagian mana yang kurang, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana seharusnya saya menyampaikan sesuatu.
Dukungan keluarga sangat penting bagi saya. Mereka membantu saya mempertahankan harapan ketika keadaan sedang sulit.
Apa pesan ayah Anda yang paling membekas dan membantu Anda bangkit?
Papa mengingatkan bahwa jika saya mengalami kegagalan, itu pun berada dalam kehendak Tuhan. Saya percaya bahwa pada akhirnya selalu ada kebaikan yang bisa diambil dari setiap kejadian.
Kalau kita percaya bahwa pada akhirnya ada kebaikan, kegagalan seharusnya tidak membuat kita menyerah. Kegagalan hanya sementara.
Seseorang bisa menjadi putus asa ketika kehilangan harapan. Karena itu, kita harus memiliki harapan dan berusaha mencapainya. Dalam proses tersebut, dukungan keluarga menjadi sangat penting. Kalau keluarga tidak mendukung, perjalanan akan terasa jauh lebih berat.
Nilai-nilai itu sudah saya kenal sejak kecil. Keluarga memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara saya memandang kehidupan.
Anda termasuk orang yang religius?
Saya tidak selalu menyebut diri saya religius. Namun, saya percaya bahwa hidup saya memiliki tujuan dan tujuan itu berasal dari Sang Pencipta. Saya juga manusia biasa yang memiliki kelemahan.
Ada kalanya saya tidak pergi ke gereja karena lelah atau sibuk. Itu bagian dari kekurangan saya. Bagi saya, yang penting adalah terus berusaha memahami tujuan hidup dan menjalani kehidupan dengan tanggung jawab.
Bagaimana Anda memaknai masa pensiun?
Bagi saya, pensiun adalah ketika saya meninggal dunia. Saya tidak ingin berhenti menggunakan pikiran selama masih mampu berkarya. Otak harus terus dilatih melalui kegiatan yang menantang, belajar, dan memecahkan masalah.
Kalau kita terlalu lama berhenti berpikir dan hanya ingin bersantai, kemampuan kita bisa menurun. Saya ingin tetap aktif dan menikmati kehidupan selama masih diberi kesempatan.
Bagi saya, menikmati hidup bukan berarti berhenti bekerja. Saya justru menikmati hidup melalui pekerjaan, kegiatan yang saya sukai, dan karya yang bisa saya berikan kepada orang lain.
Jika perjalanan hidup Anda diringkas menjadi sebuah filosofi, apa itu?
Untuk kehidupan, saya punya satu kalimat: jangan pernah berhenti belajar karena hidup tidak pernah berhenti mengajar.
Untuk karier, prinsip saya adalah jangan gunakan keterbatasanmu untuk menilai dunia yang tak terbatas.
Kita tidak boleh membatasi kemampuan diri hanya berdasarkan keadaan saat ini. Kalau kita terus membatasi diri, kita akan berhenti berkembang dan terjebak dalam zona nyaman. ***
BIODATA
* Nama: Gema Merdeka Goeyardi.
* Tempat/tanggal lahir: Surabaya, 17 Agustus 1986.
* Istri: Awwy Rafael Catalina.
Pendidikan & Gelar:
* Sarjana Ekonomi (SE), Magister Manajemen (MM), Magister Hukum (MH), Doktor (Dr) Bidang Manajemen - Universitas Narotama Surabaya.
* Sertifikasi Profesional: CAT, CFTe, MFTA, MCFI, ATP.
Karier:
* Pendiri & CEO: Astronacci International, Astro Jet, dan Astronacci Aviation LLC.
* Penerbangan: Captain Pilot.
Penghargaan:
* 7 Penghargaan MURI atas berbagai penemuan dan kontribusinya.
