IESR: PLTS Atap Kunci Dekarbonisasi Manufaktur, Potensi Surya RI Baru Termanfaatkan di Bawah 1%
Poin Penting
|
BEKASI, investortrust.id – Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap dapat menjadi salah satu solusi untuk mempercepat dekarbonisasi sektor manufaktur. Namun, kontribusinya akan lebih optimal apabila diiringi peningkatan efisiensi energi dan elektrifikasi proses produksi di industri.
Direktur Riset dan IESR, Raditya Wiranegara, mengidentifikasi dua langkah cepat untuk menekan emisi sektor manufaktur. Keduanya mencakup optimalisasi efisiensi energi melalui pemanfaatan panas yang terbuang serta penggantian mesin produksi dengan peralatan yang lebih efisien, dan elektrifikasi proses industri.
Baca Juga
Bauran EBT Jawa Barat Tembus 23,58%, PLTS Atap Industri Capai 350 MW
"Jadi sebenarnya kalau yang kami identifikasi sebenarnya ada dua quick wins upaya dekarbonisasi di sektor manufaktur. Yang pertama terkait dengan efisiensi energi. Yang kedua adalah terkait dengan elektrifikasi," ujar Raditya dalam acara peresmian PLTS atap CCEP Indonesia di Bekasi, Rabu (4/11/2026).
Menurut dia, PLTS atap maupun pembangkit surya berskala besar, seperti PLTS ground-mounted dan PLTS terapung, dapat berperan dalam mendukung elektrifikasi industri. Dengan demikian, proses produksi yang sebelumnya menggunakan sumber energi beremisi tinggi dapat beralih ke listrik yang dipasok dari sumber energi bersih.
Raditya menjelaskan, kombinasi elektrifikasi dan pemanfaatan energi terbarukan dapat memberikan manfaat ganda bagi industri. Selain meningkatkan efisiensi proses produksi, penggunaan listrik dari PLTS juga berpotensi menekan emisi karbon yang dihasilkan dari kegiatan operasional manufaktur.
"Sehingga ketika proses elektrifikasinya didukung oleh sumber yang bersih, dalam hal ini kita berbicara PLTS atap, dampaknya jadi lebih banyak, selain lebih efisien juga bisa membantu mengurangi emisi karbon," kata dia.
Dari sisi potensi, Indonesia memiliki sumber daya energi surya yang sangat besar. Kementerian ESDM memperkirakan potensi teknis energi surya nasional mencapai sekitar 3 terawatt (TW) atau setara 3.000 gigawatt (GW). Namun, IESR melakukan penyaringan lebih lanjut dengan mempertimbangkan kondisi lahan dan kelayakan finansial proyek, termasuk tingkat pengembalian investasi atau internal rate of return (IRR).
Berdasarkan perhitungan tersebut, potensi energi surya yang dinilai layak secara keekonomian mencapai sekitar 336 GW di seluruh Indonesia. Sementara itu, kapasitas PLTS yang telah terpasang, baik PLTS atap, ground-mounted, maupun pembangkit untuk kebutuhan industri atau captive, baru sekitar 1,6 GW.
Baca Juga
PLTS 100 GW Dinilai Dukung Pertumbuhan Ekonomi 8%, Ini 4 Kebijakan yang Dibutuhkan
"Artinya kalau kita bandingkan dengan total potensi yang ada, itu di bawah 1% yang baru dimanfaatkan. Artinya masih ada banyak potensi yang belum termanfaatkan," ungkap Raditya.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pengembangan PLTS di kawasan industri. Menurut Raditya, lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat dipertimbangkan untuk pembangunan PLTS ground-mounted guna memasok kebutuhan listrik bersih bagi para penyewa atau tenant di kawasan tersebut, selain pemanfaatan instalasi panel surya di atap bangunan pabrik.
