Arsari Tambang Ungkap Ancaman Krisis Diesel di Tengah Konflik Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Presiden Direktur Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo mengungkapkan tantangan utama industri pertambangan dan metalurgi di tengah gejolak geopolitik Iran-Israel/Amerika Serikat (AS), terutama terkait pasokan dan ketersediaan diesel untuk operasional tambang.
Aryo menyebut tantangan tersebut tidak hanya dialami industri timah, tetapi sektor logam lain, seperti tembaga, aluminium, dan nikel. Menurut dia, diesel menjadi komponen penting dalam operasional alat berat hingga proses produksi pertambangan.
“Kita melihat banyak negara-negara tetangga, seperti India, Pakistan, dan negara-negara di Afrika, yang kesulitan produksi karena kekurangan diesel. Jangankan harga, dapetkan saja susahnya minta ampun,” kata Aryo seusai ajang MetConnex 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (12/5/2026).
Baca Juga
Anak Usaha PT Timah Jajaki Kerja Sama Docking 13 Kapal ASDP Batam
Seiring dengan itu, Aryo mengatakan, program biodiesel di Indonesia membantu industri tambang menghadapi tekanan global tersebut. Program itu, lanjutnya, dimulai pada era Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan dilanjutkan oleh Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto.
“Kami bersyukur bahwa ketersediaan biodiesel itu membantu kita menghadapi tantangan global itu. Karena diesel, saya kurang bisa menekankan seberapa pentingnya ini dalam operasional tambang,” ujarnya.
Aryo menyoroti terjadinya supplyshock yang membuat perusahaan tambang harus cepat beradaptasi menghadapi perubahan harga dan kondisi pasar global.
Dikatakan Aryo, sejumlah pelaku industri di Timur Tengah memperkirakan gejolak geopolitik masih akan berlangsung hingga akhir 2026. Ia menyebut, dinamika politik di Amerika Serikat, termasuk pemilihan anggota parlemen pada November 2026 mendatang, dapat memengaruhi penyelesaian konflik di Timur Tengah.
"Jujur banyak teman-teman di Timur Tengah, di Abu Dhabi, Dubai, Bahrain, Qatar, dan yang lain-lain bilang, kemungkinan bisa lanjut sampai akhir tahun. Kenapa akhir tahun? Ya, kita lihat sendiri, di Amerika nanti kan ada pemilihan DPR-nya mereka November 2026. Kalau Partai Republik kalah, ini mungkin bisa memberikan tekanan kepada Donald Trump untuk benar-benar menyelesaikan apa yang terjadi di Timur Tengah," ungkapnya.
Di sisi lain, Aryo menuturkan, Arsari Tambang tengah mendorong hilirisasi industri timah melalui pembangunan Tin Research Center di Kepulauan Bangka Belitung.
Menurut dia, salah satu produk dengan nilai tambah tinggi di industri timah adalah solderpaste yang digunakan dalam industri semikonduktor. “Solderpaste ini yang dipakai untuk semikonduktor yang dipakai oleh Nvidia, Intel, dan yang lain-lain,” terang Aryo.
Ihwal itu, Aryo menekankan, pengembangan solderpaste membutuhkan investasi besar dalam riset dan pengembangan karena teknologi tersebut belum pernah dibangun di Indonesia. “Makanya Arsari Tambang berinisiatif bangun Tin Research Center, atau pusat studi timah yang kita akan bangun di Bangka Belitung,” bebernya.
Baca Juga
Pekan Depan, PT Timah-Perminas 'Groundbreaking' Proyek Logam Tanah Jarang
Dia menambahkan, pusat riset tersebut diharapkan dapat mendukung hilirisasi sekaligus investasi di bidang riset dan kekayaan intelektual nasional.
Dalam kesempatan itu, Aryo juga menilai ajang MetConnex 2026 membuka peluang kolaborasi lebih besar antarperusahaan tambang dan mitra global, terutama dalam pengembangan otomasi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), elektrifikasi, hingga penggunaan alat berat listrik.
Menurut dia, kolaborasi antarpelaku industri dapat mempercepat adopsi teknologi dan meningkatkan efisiensi industri pertambangan nasional. “Kalau kita ramai-ramai sudah tahu kebutuhannya berapa, kita bisa kerjasama dengan supplier dari luar negeri, dapet efisiensi, dapet diskon yang lebih besar, industri tambang Indonesia akan jauh lebih efisien,” pungkas Aryo.

