Soroti Eskalasi Konflik Timur Tengah, Kapolri Ingatkan Dampak Krisis Kemanusiaan hingga Beban Fiskal Negara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo menghadiri acara Buka Puasa Bersama TNI-Polri di Lapangan Bhayangkara, Jakarta. Dalam sambutannya, Listyo menyoroti soal kondisi geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah. Kapolri menyebut agresi dan serangan saling balas yang melibatkan Israel, Iran, hingga Amerika Serikat telah memicu krisis kemanusiaan yang memprihatinkan pasca meninggalnya pemimpin besar Iran Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah keluarganya.
"Di satu sisi hampir 1.600 korban sipil meninggal dunia dan 15.000 orang luka-luka. Tentunya ini merupakan peristiwa yang sangat memprihatinkan bagi kita semua," kata Listyo, Rabu (11/3/2026).
Situasi tersebut memicu gelombang serangan balasan yang melibatkan penggunaan jet tempur hingga menyasar instalasi vital seperti kilang minyak Aramco di Arab Saudi serta fasilitas di Teheran dan Beirut. Selain isu kemanusiaan, Listyo juga menekankan dampak langsung konflik ini terhadap harga minyak dunia. Ia mengungkapkan bahwa harga minyak Brent sempat menembus angka di atas US$ 100 per barel, yang secara otomatis membebani anggaran negara.
Berdasarkan data yang diterima dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Kapolri menjelaskan setiap kenaikan US$ 1 harga minyak dunia akan menambah beban negara sebesar Rp6,8 triliun. Menurutnya jika harga minyak terus berada di atas angka psikologis, kekuatan fiskal untuk menjaga subsidi energi akan sangat berat.
Baca Juga
Purbaya Waspadai Tiga Jalur Transmisi Perang di Teluk Persia
"Jadi kurang lebih situasi ini kalau terus dibiarkan dan tidak terkendali dan harga minyak terus meningkat tentunya kekuatan fiskal kita untuk menjaga agar harga-harga minyak khususnya tetap terjaga tentunya menjadi akan sangat berat dan berimplikasi terhadap komoditas dan kenaikan harga-harga yang tentunya tidak kita harapkan," ujarnya.
Implikasi lanjutannya adalah kenaikan harga komoditas (inflasi) yang dapat mengganggu program pembangunan nasional. Meskipun situasi masih sangat volatil, Kapolri menyebut ada sedikit angin segar setelah adanya pernyataan dari Donald Trump terkait kemungkinan Amerika Serikat mengakhiri konflik di Timur Tengah. Hal ini sempat menurunkan harga minyak Brent ke posisi 92,45 USD per barel dan West Texas Intermediate ke 88 USD per barel.
"Tentunya angka ini masih volatile, masih berubah-ubah tergantung kondisi dan situasi di Timur Tengah karena memang dinamikanya masih terus berubah-ubah sehingga ini tentunya berdampak kepada kondisi dan situasi global maupun kondisi yang ada di dalam negeri," katanya.
"Oleh karena itu tentunya pemerintah berusaha keras untuk menyikapi agar peristiwa ataupun konflik tersebut bisa segera diakhiri," imbuhnya.

