Krisis Regenerasi Sektor Pertanian Harus Jadi Perhatian Serius Para Capres
JAKARTA, investortrust.id - Krisis regenerasi petani di Indonesia jadi tantangan berat yang mestinya segera diselesaikan pemerintahan mendatang.
Kondisi tadi berakibat pada produktivitas pertanian yang stagnan, sehingga Indonesia sulit menggapai target swasembada pangan.
Sejatinya, sebagai negara agraris, pertanian merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di negeri ini.
Baca Juga
Dorong Produksi Pertanian, Mentan Amran Beri Bantuan Rp 300 Miliar untuk Petani Sumbawa
Ekonom BCA, David E Sumuel menyatakan, makin minimnya generasi muda memilih profesi sebagai petani sulit dihindari, mengingat tren pertumbuhan tingkat pendidikan masyarakat sejalan dengan peningkatan ekspektasi kondisi dan lingkungan kerja.
Isu-isu ini menurut dia penting untuk disuarakan para calon presiden (capres) pada debat kelima, yang akan berlangsung di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta, Minggu, (04/02/2024)
Sehingga kata dia, capres yang nantinya terpilih akan memperhatikan upaya perbaikan produktivitas dan masalah tenaga kerja di sektor usaha tani.
“Walaupun demikian, pemerintah juga perlu mengupayakan perluasan kesempatan kerja off-farm sehingga pekerja Indonesia tetap ter-capture pada industri pertanian dan tidak menambah beban serapan pekerja pada sektor lain (seperti perdagangan, jasa, dan manufaktur,” ujar David saat dihubungi Investortrust.id pada Jumat, (02/02/2024).
Baca Juga
Ia menilai bahwa tren farm-to-table (penyerapan produk pertanian secara langsung oleh pemerintah, konsumen industri, atau konsumen rumah tangga) dapat menjadi pendoman bagi Pemerintah untuk meningkatkan produktivitas petani. Hal itu juga dianggap dapat menciptakan rantai pasok pangan domestik yang interconnected.
“Lewat skema farm-to-table, pemerintah didorong untuk menciptakan capture market bagi petani sehingga akan muncul insentif bagi pelaku usaha tani untuk dapat meningkatkan produktifitas mereka. Pembangunan rantai pasok pangan domestik juga berfungsi sebagai penyerap tenaga kerja rural, sehingga excess tenaga kerja pertanian tidak berujung pada kelebihan tenaga kerja pada sektor,” pungkasnya.

