Krisis Regenerasi Pemulia Tanaman Ancam Ketahanan Pangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia tengah menghadapi krisis regenerasi pemulia tanaman (breeder) yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang. Jumlah pemulia aktif saat ini sangat terbatas, padahal kebutuhan varietas unggul terus meningkat untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, penurunan produktivitas lahan dan alih fungsi lahan pertanian.
Menanggapi situasi tersebut, Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia (PERIPI) bersama PT East West Seed Indonesia (Ewindo) dan IPB University, akan menyelenggarakan Indonesian Breeder Award 2025 (IBA) mengusung tema “Breeding is Giving” pada 19 November 2025 di IPB International Convention Center (IICC), Bogor.
Acara yang akan dihadiri oleh sekitar 150 peserta dari unsur pemerintah, akademisi dalam dan luar negeri, pelaku usaha, pemulia tanaman, asosiasi, dan komunitas pertanian ini bertujuan untuk mendorong inovasi, memperkuat kolaborasi riset, serta mendorong regenerasi pemulia tanaman guna pengembangan varietas unggul berkelanjutan.
Ketua PERIPI, Profesor Muhamad Syukur mengatakan bahwa peran pemuliaan tanaman sangat sentral terhadap peningkatan kualitas dan produktivitas pertanian. Terlebih, pada tahun 2050 Indonesia harus dapat menghasilkan jumlah pangan dua kali lipat dibanding sekarang, karena jumlah penduduk semakin meningkat. Sementara di sisi lain, tantangan lingkungan juga akan semakin berat.
“Itu semua hanya bisa diatasi dengan menghasilkan varietas-varietas yang adaptif terhadap cekaman lingkungan dan punya produktivitas tinggi,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (13/11/2025).
Baca Juga
DPR Soroti Konflik Agraria dan Ketimpangan Infrastruktur di Daerah Terpencil
Persoalannya jumlah pemulia tanaman di Indonesia saat ini sangat jauh dari ideal dan tidak sebanding dengan kebutuhan pengembangan varietas baru. Dari sekitar 1.000 pemulia tanaman yang terdaftar di PERIPI, mungkin hanya separuh bahkan seperempatnya atau 250 orang yang benar-benar melakukan kegiatan pemuliaan. Padahal saat ini dibutuhkan minimal 10 ribu pemulia tanaman untuk melayani petani sekitar 30 juta petani Indonesia.
Lebih lanjut Prof. Syukur berharap penyelenggaraan IBA 2025 dapat menjadi ‘pupuk’ buat pengembangan riset dan pemuliaan tanaman di Indonesia.
Hal yang sama disampaikan oleh Managing Director Ewindo Glenn Pardede. Dia menjelaskan bahwa di Ewindo penelitian atau pemuliaan tanaman adalah cara bermakna untuk berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Menurutnya, penyelenggaraan IBA 2025 ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi bagi para pemulia, tetapi juga panggilan untuk menumbuhkan generasi penerus di bidang yang sangat strategis ini. Melalui ajang ini, kami ingin menginspirasi generasi muda agar melihat pemuliaan tanaman sebagai profesi yang mulia. Setiap benih unggul yang dihasilkan adalah wujud nyata kontribusi untuk petani dan bangsa.
Baca Juga
BWI Dorong Pemanfaatan Tanah Wakaf untuk Ketahanan Pangan, Energi, hingga 3 Juta Rumah
Selain memberikan penghargaan kepada pemulia berprestasi, kegiatan ini juga menghadirkan forum ilmiah dan diskusi lintas sektor dengan narasumber pakar dari berbagai lembaga riset dan universitas dalam maupun luar negeri, serta pembuat kebijakan. Melalui kegiatan ini diharapkan lahir sinergi nyata antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha dalam memperkuat ekosistem perbenihan nasional.
“Benih adalah awal dari ketahanan pangan. Setiap varietas baru yang diciptakan pemulia merupakan kontribusi langsung bagi keberlanjutan pangan Indonesia,” tutup Glenn.

