HBN 2025, Menperin: Batik Bukan Sekadar Kain Tapi Warisan Perjuangan dan Ekonomi Bangsa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyebutkan makna batik bukan hanya sekadar kain, motif, namun lebih dari itu. Ia mengatakan, batik memiliki nilai yang jauh lebih mulia, yakni terdapat nilai-nilai perjuangan, mengandung sebuah kisah, hingga ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan Agus ketika menghadiri Hari Batik Nasional (HBN) 2025. Tema HBN 2025 kali ini adalah “Bangga Berbatik” yang mana mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terus menumbuhkan kebanggaan dan tanggung jawab dalam melestarikan dan mengembangkan batik.
Selain itu, Batik Tulis Merawit Cirebon juga dijadikan sebagai ikon HBN 2025. Menperin Agus Gumiwang menjelaskan, Batik khas Cirebon tersebut baru saja memperoleh sertifikat Indikasi Geografis pada akhir tahun 2024.
"Industri batik nasional ini memiliki ekosistem yang besar, yang menopang bukan hanya budaya tapi juga ekonomi," ucap Menperin Agus di acara HBN 2025 di Museum Tekstil, Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Baca Juga
Gelar Batik Nusantara, Pelindo Dorong UMK Tembus Pasar Nasional dan Global
Menperin Agus memaparkan hingga saat ini terdapat hampir 6.000 industri batik yang tersebar di seluruh Indonesia atau lebih dari 200 sektor produksi di 11 provinsi utara batik. Sekto tersebut pun menyerap sekitar 200.000 kerja melalui lebih dari 47.000 dunia perusahaan di lebih dari 101 daerah produksi batik.
Kendati demikian, Menperin Agus juga tak menampik kalau industri batik nasional dihadapkan pada tantangan degenerasi. Berdasarkan data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik di Indonesia atau APBDI, jumlah perajin batik yang pada tahun 2020 bercatat 151.000 dan pada tahun 2024 tahun lalu turun jadi 101.000.
"Ini tantangan yang real yang harus menjadi panduan bagi kita semua untuk memastikan regenerasi jalan, sehingga batik tetap mencari sebagai budaya dan batik akan berkelanjutan sebagai industri," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Gita Gilang Kencana mengatakan, sejak Batik mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada 2009 lalu, pihaknya berkomitmen selalu menjaga semangat batik sebagai warisan budaya bangsa.
"Kami banyak menyelenggarakan berbagai acara dan kegiatan yang dikemas mengikuti zaman, agar masyarakat terus ingat dan dekat dengan batik. Mulai dari pameran, festival, hingga kegiatan kreatif bersama generasi muda, semuanya kami lakukan demi memastikan batik tetap hidup di hati kita semua," imbuh Gita.
Baca Juga
Ia menjelaskan, tahun ini, peringatan Hari Batik Nasional kembali hadir dengan tema Bangga Berbatik, dan subtema Merawit Rasa sebagai penghormatan bagi Batik Tulis Merawit dari Cirebon yang baru saja memperoleh sertifikat Indikasi Geografis.
Selain itu, Gita juga mengungkapkan rasa syukur YBI atas dukungan dan kerja sama dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Museum Seni Jakarta, serta Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang senantiasa menjadi mitra penting.
"Kami percaya, kerja sama ini akan membuka jalan bagi lahirnya kolaborasi yang lebih luas dan beragam di masa depan, dengan ruang regenerasi pembatik muda yang semakin terbuka, serta kesempatan bagi generasi penerus untuk menjadikan batik bagian dari kehidupan sehari-hari," ungkapnya.

