Mak Sium, Penjaga Warisan Budaya Batik Rifai'yah di Batang yang Tersisa
BATANG, Investortrust.id - Seorang perempuan berkebaya cokelat dan berjarik batik dengan kerudung putih muncul dari balik pintu rumahnya di Desa Wisata Batik, Kalipucang Wetan, Batang, Jakarta. Senyum lebarnya menyambut para wartawan yang bertamu ke kediamannya, pada Selasa (25/2/2024).
Lansia berusia 86 tahun tersebut lebih dikenal dengan nama Mak Sium. Ia merupakan salah satu pebatik Rifai'yah asal Kabupaten Batang yang tersisa di daerah tersebut. "Saya membatik itu dari usia 10 tahun," kata Mak Sium kepada wartawan.
Baca Juga
Warna tangannya yang menghitam membuktikan bahwa Mak Sium terbiasa dengan bahan pewarna batik. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Seusai menyambut media, termasuk Investortrust.id, dirinya langsung memamerkan keahliannya dalam membatik.
Keunikan pebatik Rifai'yah, yakni tidak menggambar wujud secara utuh. Hal ini terlihat saat Mak Sium membatik motif hewan yang digambarkan tidak secara lengkap.
Mak Sium mengaku tak pernah sekolah sejak kecil. Dia baru belajar membaca 11 tahun lalu saat usianya 75 tahun.
Keahliannya membatik menurun dari orang tuanya. Karya batik yang dihasilkan sudah tak terhitung. "Mungkin ratusan," ucapnya.
Kelihaiannya membatik terlihat saat Mak Sium mulai mengangkat canting dan meniup perlahan sebelum menuangkan ke permukaan kain. Mak Sium mengaku, membatik bukan semata mencari keuntungan, melainkan karena kesenangannya terhadap batik.
Mak Sium mampu duduk di kursi plastik pendek berjam-jam. Dia dapat menyelesaikan satu lembar kain selama 3 minggu hingga 2 bulan. Namun, penghasilan yang diperoleh tak sebanding. Bahkan pada 2018 lalu, batik yang dibuat hanya dihargai kurang Rp 500.000.
Baca Juga
Menperin Sebut Kinerja Industri Batik Anjlok, Akibat Dikepung Batik China?
Mak Sium berharap, anak-anak muda mau melestarikan tradisi membatik. Apalagi batik Batang diketahui sudah di ambang kepunahan.
Sementara itu putri Mak Sium, Muthola'ah Lisa berkeinginan meneruskan jejak sang ibu. "Punya keinginan buat batik lagi," ungkapnya
Lisa mengungkapkan, selama ini kerap membantu Mak Sium, seperti merebus air untuk keperluan pewarnaan. Hanya saja dia masih harus belajar untuk proses klowongan atau tahap membuat kontur garis, bidang, dan pola ragam hias batik. (C-14)

