Dering Telepon Penyelamat Jiwa
Oleh Linda Boleng,
ibu rumah tangga di Boawae, Nagekeo
INVESTORTRUST.ID – Saya teringat peristiwa tiga tahun silam. Menjelang hari kemerdekaan, 17 Agustus, 2021, keluarga besar kami mendapat cobaan berat. Covid-19, virus pembawa pandemi yang melegenda itu, mendera keluarga kami.
Ada sekitar 10 orang dalam lingkaran keluarga dekat kami yang terpapar virus mematikan itu dan harus dikarantina. Ini termasuk Bapa John, suami saya.
Agar tidak meluas, kami sekeluarga segera berbenah. Kami membuat aturan ketat agar virus dari Bapa John tidak menulari penghuni rumah yang lain. Jo, si bungsu kami, tidak dapat menahan tangis. Ketika kami mencarinya, Jo terlihat sedang terisak-isak di depan tungku api.
Jo sangat mengkhawatirkan keselamatan Puela, adik sepupunya, yang terdeteksi sebagai penderita pertama di kluster keluarga kami. Kami sangat cemas dan suasana rumah mendadak suram. Betapa tidak, berita kematian akibat Covid muncul setiap hari.
Baca Juga
Pikiran Jo rupanya sudah melanglang buana ke mana-mana, hingga ia membayangkan akibat terburuk yang mungkin dialami Puela, Bapa John, dan semua anggota keluarga yang terpapar. Sambil menenangkan Jo, kami serumah berbagi tugas. Ada aturan ketat tentang pergerakan dalam rumah. Intinya, sesedikit mungkin anggota rumah yang boleh berkontak dengan Bapa John.
Tulang Punggung Keluarga
Sebagai tulang punggung keluarga, keselamatan Bapa John menjadi perhatian utama kami. Bisa dibayangkan betapa campur-aduknya perasaan kami. Di satu pihak, kami harus menjaga jarak fisik. Di lain pihak, kedekatan hati kami memaksa kami untuk dekat secara fisik dengan Bapa John.
Sekitar 12 hari Bapa John menjalani karantina mandiri di rumah. Begitupun saudara yang lain. Setelah 12 hari, kondisi kesehatan saudara yang lain membaik.
Namun, tidak dengan Bapa John. Dia mengeluhkan tubuhnya yang terasa cepat lelah, lesu, dan loyo.
Baca Juga
Dalam situasi cemas, kami menghubungi Ibu Kepala Puskesmas Boawae. Bapa John dibantu infus agar stamina tidak turun. Perawatan tetap di rumah.
Beda dengan sikap kami yang cemas, Bapa John tetap percaya diri. Ia menampilkan diri seakan-akan tidak ada hal serius yang menimpa dirinya. Ia hanya membutuhkan waktu istirahat dan sedikit tindakan medis seperti infus.
Rujukan ke RSUD
Saat itu, saya ragu-ragu untuk meminta rujukan perawatan ke Rumah Sakit Daerah (RSUD) Aeramo. Sesungguhnya, yang membuat saya ragu adalah kemampuan RSUD. Apakah RSUD yang dijadikan rujukan bisa menjamin kesembuhan Bapa John, mengingat Bapa John punya seabrek komorbid dalam tubuhnya. Belum lagi soal tekanan darah, gula darah, dan jantungnya.
Kecemasan kami terus meningkat, karena pada waktu yang sama, setiap hari ada berita orang meninggal karena Covid. Berita Covid memang begitu cepat menyebar lewat medsos, dan itu yang bikin hati semakin ciut dan ragu-ragu untuk memutuskan pilihan perawatan terbaik bagi Bapa John.
Sebagai istri, saya bingung dan berada dalam situasi dilematis. Bapa John pun ragu untuk memilih langkah terbaik bagi perawatannya.
Pagi itu, hari Sabtu. Saya lupa tanggalnya, tapi ingat harinya. Dari kamar Bapa John, saya mendengar suaranya. Ia rupanya sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.
"Kalau kamu butuh dokter spesialis, segera minta rujukan ke Aeramo," begitu suara dari seberang telepon.
Sejurus kemudian, Bapa John memanggil saya. Saya mendekat, tapi hanya sampai di balik dinding kamar. Kami berkomunikasi dari balık dinding kamar tidur.
Ia berencana ke RSUD Aeramo dan menyuruh saya menyiapkan segera berbagai perlengkapan untuk menginap. “Ini perintah Pak Bupati, Mama. Pak Bupati menunggu di ruang isolasi,” kata Bapa John.
Oo, rupanya tadi Bapa John bertelepon dengan Bupati Don (Bupati Nagekeo periode 2018-2023 Johanes Don Bosco Do), begitu saya membatin. Kami pun bergegas pergi menuju RSUD.
Pak Bupati pernah mengecek ketidakhadiran Bapa John dalam sidang DPRD Nagekeo selama sepekan terakhir. Sebagai ketua Partai Nasdem Kabupaten, ia berusaha mengetahui kondisi anggota partai, khususnya yang sedang bertugas sebagai anggota DPRD.
Lewat telepon, Bapa John menceritakan sakitnya dan kondisi terkini yang sedang dialaminya. Bupati meyakinkan Bapa John agar dirawat. Puji Tuhan. Di saat bimbang, kami mendapatkan arahan langsung dari orang yang tepat.
Saat menyiapkan perlengkapan, keraguan masih mengganjal di hati saya. Kami ragu dengan kondisi RSUD Aeramo. Bukankah itu adalah rumah sakit baru? Adakah cukup dokter? Perawat? Fasilitas?
Jujur saya sangat meragukan RS Aeramo kala itu. Saya memang kurang update tentang RS Aeramo. Tahunya saya, ya kalau bukan RS Bajawa, ya Ende, atau Maumere. Tapi, di sana banyak penderita Covid yang mati. Masyaallah.
Tidak sampai satu jam, ambulance telah parkir di halaman rumah. Bapa John diangkut ke ruang isolasi RSUD Aeramo.
Benar, di sana Dokter Ita, istri Bupati Don, telah menunggu bersama dokter spesialis penyakit dalam. Bapa John ditangani dengan cekatan.
Pertama-tama, ia dibawa ke ruang rontgen untuk difoto paru-parunya. Selanjutnya, ia dirawat intensif di ruang isolasi. Saya juga perhatikan, semua pasien Covid ketika itu mendapatkan penanganan yang cepat dan detail dari dokter dan perawatnya.
Puji Tuhan, setelah 14 hari di ruang isolasi, Bapa John dinyatakan sehat dan diizinkan pulang.
Dokter Ahlinya Banyak
Dalam 14 hari perawatan di ruang isolasi itu, saya sendiri menyaksikan situasi di RSUD. Tindakan yang diambil para dokter, fasilitas, dan perhatian pihak rumah sakit jauh dari ekspektasi awal. Terus terang, saya sempat sangat meragukan kualitas layanan RSUD Aeramo.
Setibanya kami di Boawae, saya menyampaikan cerita tentang RSUD Aeramo kepada Nenek Tha, ibu mertua saya. Nenek Tha adalah pensiunan perawat. Usianya sekarang 92 tahun.
Dengan percaya diri, saya meyakinkan Nenek Tha. “Jika nanti kami sekeluarga membutuhkan pertolongan medis, pilihan pertama kami adalah RSUD Aeramo. Di sana, kita bisa mendapatkan pertolongan yang kita harapkan. Dokter ahlinya banyak, dokter umum juga banyak, perawatnya profesional, fasilitas rumah sakit bagus, dan pasti akan terus dilengkapi,” papar saya kepada anggota keluarga.
Kami sekeluarga bermimpi punya rumah tingal di dekat RSUD Aeramo. Hal ini agar jika nanti ada anggota keluarga yang sakit dan harus dirawat, koordinasi keluarga dengan pasien dan rumah sakit bisa mudah.
Tidak ada orang yang mau sakit. Tapi, bukankah mempersiapkan dengan baik segala kebutuhan sebelum penyakit datang adalah suatu langkah bijak?
Kenangan akan peristiwa Bapa John yang dirawat di RSUD Aeramo itu benar-benar terpatri di hati kami berdua, suami istri. Kami sebelumnya tidak pernah menyangka bahwa pelayanan kesehatan di RSUD Aeramo sudah cukup bagus. Kekhawatiran kami terhadap kualitas layanan RSUD Aeramo perlahan sirna. Layanan kesehatan bermutu di RSUD Aeramo mudah dan cepat diakses serta murah.
Selagi sehat, seakan tidak ada masalah dengan tubuh kita. Tetapi, ketika didera penyakit serius seperti Covid-19 saat pandemi, baru kita menyadari betapa pentingnya tubuh yang sehat, harta terbesar dan terpenting dalam hidup kita.
Saya teringat kegusaran Kakek Yan Boleng, bapak mertua saya semasa hidupnya. Sebagai perawat senior, beliau sangat berharap hadirnya sebuah rumah sakit dengan layanan dan peralatan lengkap serta bermutu di Nagekeo. Keberadaan rumah sakit lengkap dan bermutu di Nagekeo sangat membantu pasien.
Rumah sakit rujukan yang jauh di kabupaten lain menyulitkan pasien untuk mendapatkan layanan cepat dan murah. Pasien harus menempuh perjalanan jauh dan melelahkan. Kita bisa membayangkan betapa tingginya risiko yang dipikul pasien yang sakit parah, jika harus menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkan layanan rumah sakit.
Tidak mudah mendapatkan bantuan sesama, di masa normal sekali pun. Karena itu, bantuan sesama di saat kita tidak berdaya adalah sesuatu yang luar biasa.
Dering telepon di Sabtu pagi di tahun 2021 itu adalah peristiwa yang tidak terlupakan. Kami sekeluarga senantiasa bersyukur pada Tuhan dan akan selalu teringat pada dering telepon yang menyelamatkan jiwa. (pd)
