Profesi Wartawan Tetap Diperlukan
Kita hidup dalam dunia yang terus berubah. Dan faktor utama yang mengubah dunia dengan sangat cepat adalah teknologi. Teknologi membuat hidup lebih efisien, produktif, dan lebih mudah. Tapi, teknologi juga menyebabkan desrupsi terhadap produk lama dan membuat manusia terengah-engah untuk melakukan perubahan.
Kita kini berada di era revolusi industri 4.0, revolusi yang memungkinkan lahirnya ICT (information and communication technology) atau teknologi informasi dan komunikasi (TIK). ICT memungkinkan pengiriman informasi lebih cepat dan pola komunikasi yang mengatasi ruang dan waktu.
Disebut era revolusi industri 4.0 karena ada tiga era sebelumnya yang sudah kita lewati. Era revolusi industri 1.0 ditandai oleh penemuan mesin uap dan penerapan konsep mekanika. Era revolusi 2.0 ditandai oleh penemuan listrik. Penemuan komputer, internet, digitalisasi, dan otomasi menandai era revolusi 3.0. Micro processor di komputer memiliki kemampuan mengolah, menyimpan, dan mengirimkan data secara cepat.
Revolusi industri 4.0 ditandai oleh sensor yang bisa ditanamkan di berbagai benda. Benda fisik yang ditanamkan sensor bisa dihubungkan ke internet atau ke lingkungan siber. Lahirlah Internet of things (IoTs). Sensor atau piranti elektronik ditempelkan di benda yang bisa mengirimkan sinyal. Sinyal itu bisa dikenal oleh jejaringan siber, jaringan internet, atau digital. Karena itu, IoTs juga disebut cyber physical system.
Kunci industri 4.0 ada pada sensor. Sensor yang ditanamkan pada benda membuat benda bisa melihat, merasa, dan menjadi cerdas seperti manusia. Era 4.0 juga ditandai oleh lahirnya artificial intelligence (AI), robotika, data center, dan block chain.
Sebentar lagi Indonesia memasuki era revolusi industri 5.0. Benda-benda tidak saja hanya diberikan sensor, melainkan juga ditanamkan server dan alat penggerak. Server adalah otak dari komputer.
AI berkembang masif dan robot pintar menggantikan pekerjaan manusia.
Paralel dengan perkembangan evolusi industri, lahir society 1.0 hingga society 5.0. Di bidang sosial, manusia bergerak dari era nomaden (1.0), ke era pertanian (2,0), era industri (3.0), dan informasi (4.0), dan era masyarakat baru, new society era (5.0). Era society 5.0 menitikberatkan pada manusia. Semua kemajuan teknologi diciptakan untuk kebahagiaan manusia. Kemajuan teknologi harus mampu memberikan rasa nyaman dan membahagiakan manusia. Keberadaan hi-tech harus dilengkapi dengan hi-touch, sentuhan insansi.
Kita sedang bergerak dari era informasi ke era masyarakat baru, masyarakat yang mampu menggunakan kemajuan digital dengan cerdas. Masyarakat yang mampu menyeleksi informasi yang membanjiri media sosial setiap detik.
Semua kemajuan teknologi ini sangat mempengaruhi kemajuan ICT dan kemampuan ICT melahirkan berbagai platform digital yang mampu menyebarkan informasi dengan cepat. Perusahaan teknologi yang memiliki platform digital seperti Google dan Meta (FB) mengoperasikan mesin pencari yang canggih, membentuk algoritma dan ekosistem yang membuat mereka menguasai informasi dan kue iklan.
Perusahaan teknologi menjadi platform digital sekaligus media yang memproduksi berita dan menyebarkan berita selain menjadi agregator. Kita berada di era di mana informasi dihargai murah karena platform digital besar seperti Google, Yahoo, dan Meta menjadi agregator. Semua berita yang masuk jaringan internet diambil gratis oleh agregator dan menyebarkannya untuk tujuan komersial.
Dengan berita yang begitu banyak, agregator mendapatkan advertensi dalam jumlah besar. Sebagian besar kue iklan di Indonesia “dimakan” oleh Goggle dan Youtube. Platform media pun menjadi “enemy”, musuh media arus utama yang beritanya “diambil” dan kue iklannya “dirampas”.
Masyarakat pers Indonesia kini sedang berjuang untuk mendapatkan “publisher right”. Penerbit media massa memiliki sepenuhnya hak atas produk yang dihasilkan. Setiap berita yang dihasilkan ada biaya yang dikeluarkan. Penerbit membayar gaji wartawan dan karyawan media, berbagai biaya produksi, dan biaya overhead. Semua agregator wajib membayar berita yang diambilnya.
Namun, di lain pihak, kelahiran platform digital membuat interaksi sosial berjalan lebih intens dan platform digital pun menjadi media sosial (medsos) yang aktif dan atraktif. Medsos sangat memanjakan masyarakat sebagai audiens. Sebelum masyarakat mencari, berita sudah datang menghampiri. Ketika kita membuka smartphone di pagi hari, berita sudah ada WhatsApp. Begitu seterusnya. Tanpa perlu dicari, informasi datang ke gadget kita bagai air bah.
Kekuatan platform digital dalam menyebarkan informasi sangat dahsyat. Banyak media online yang justru membutuhkan platform digital besar seperti Google dan YouTube. Setiap berita yang diproduksi wajib untuk memperhatikan cara kerja search -engine atau mesin pencari di Googgle. Media online akhirnya mengejar klick-bait. Akurasi dan kualitas berita dikorbankan.
Motif bisnis jauh melebihi motif untuk “menyebarkan informasi yang benar, mengedukasi, dan mempengaruhi masyarakat” agar naik kelas menjadi bangsa beradab dengan menjunjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, kebhinekaan, dan UUD sebagaimana diamanatkan UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
Ketika ditanya, siapa penentu kebenaran hari ini, Prof Yuval Noah Harari mengatakan, “Kebenaran hari ini ditentukan oleh hasil teratas mesin pencarian Google.” Harari adalah penulis sejumlah buku best seller, yakni Sapiens, Homo Deus, dan terakhir, 21 Lessons for the 21st Century.
Di era post truth, kemenangan lebih penting daripada kebenaran. Demi memenangkan opini, hoaks pun dipakai. Di era post-truth atau pasca-kebenaran, tujuan untuk memenangkan opini publik jauh lebih penting dibanding cara untuk mempengaruhi opini publik. Semua cara yang mampu mengaduk-aduk emosi masyarakat dan mempengaruhi opini publik digunakan efektif untuk mencapai tujuan. Media online pun berlomba mengejar click-bait dengan menyebarkan berita yang diinginkan masyarakat, bukan yang sungguh dibutuhkan masyarakat.
Platform digital menjadi kebutuhan mainstream media. Berita, gambar, dan video yang diproduksi media arus utama disebarkan lewat medsos agar bisa menjangkau lebih banyak audiens. Platform digital media sosial menjadi “friend” media arus utama. Itu sebabnya, muncul sebutan “friendemy”, teman tapi musuh, musuh tapi teman. Media arus utama dan media sosial pun berkolaborasi.
Lalu pertanyaannya, masihkah media massa diperlukan masyarakat? Media massa, terutama media massa arus utama, tetap diperlukan. Media massa arus utama menjadi rujukan masyarakat yang sehari-hari diguyur berbagai informasi, baik informasi yang benar, separuh benar, dan yang hoax.
Berbagai jenis platform digital mempermudah penyebaran hoax. Kehadiran sosmed membantu percepatan penyebaran berbagai jenis informasi. Setiap orang bisa menjadi “reporter” yang menyebarkan informasi apa saja yang ditemui dan dipunyainya. Informasi disebarkan tanpa verifikasi. Penyebaran informasi di medsos jauh berbeda dengan informasi media arus utama, khususnya soal akurasi.
Media arus utama bekerja dengan standar jurnalisme yang tinggi. Proses memproduksi dan menyebarkan berita harus berpedoman pada UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan berbagai regulasi yang diatur Dewan Pers. Media arus utama hanya menyebarkan berita yang sudah diverifikasi.
Media arus utama bekerja dengan idealisme sesuai fungsi, tugas, dan perannya sebagaimana ditegaskan dalam UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Media arus utama bekerja untuk memenuhi hak rakyat Indonesia akan informasi yang benar, tepat, dan akurat. Media arus utama melaksanakan perannya untuk mengedukasi bangsa dan mempengaruhi masyarakat” agar naik kelas menjadi bangsa beradab dengan menjunjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, kebhinekaan, dan UUD.
Dengan membanjirnya informasi, yang dibutuhkan para siswa dan mahasiswa saat ini adalah kemampuan untuk memahami informasi, membedakan informasi yang penting dan yang tidak, dan memanfaatkan informasi untuk mempermudah hidup.
Pendidikan di sekolah, kata Harari, harus lebih memperkuat empat “C”, yakni critical thinking, communication skill, collaboration, dan creativity.
Dalam jurnalisme positif, aktivitas jurnalistik tidak saja harus dijalankan dengan baik dan benar sesuai kaidah jurnalistik, melainkan juga mampu membangun peradaban bangsa. Berita yang disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga menumbuhkan optimisme dan perilaku positif masyarakat sebagai pembaca dan audiens.
Keberadaan media arus utama tetap dibutuhkan guna membangun peradaban dan masyarakat yang sehat. Selama ada media arus utama, selama itu pula wartawan tetap diperlukan.
Primus Dorimulu,
CEO & Pemred investortrust.id
