BSSN: Hanya 2% Data di Pusat Data Nasional yang Di-backup
JAKARTA, investortrust.id - Badan Sandi dan Siber Nasional (BSSN) mengungkapkan cadangan data (backup) Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 hanya sebagian kecil dari data yang tersimpan di pusat data tersebut.
Seperti diketahui, PDNS 2 yang menyimpan data dari 282 instansi pemerintah terkena serangan Brain Cipher Ransomware beberapa waktu lalu. Alhasil, layanan publik di ratusan instansi tersebut lumpuh hingga berhari-hari.
Baca Juga
Pusat Data Nasional Diserang Ransomware, DJP: Data Pajak Tidak Terdampak
Kepala BSSN Hinsa Siburian menjelaskan PDNS 1 di Tangerang Selatan, Banten dan PDNS 2 di Surabaya, Jawa Timur sudah didukung oleh Pusat Data Cadangan atau Disaster Recovery Center (DRC) di Batam, Kepulauan Riau.
“DRC artinya data yang ada di Surabaya seharusnya itu harus ada persis seperti itu juga di Batam,” kata Hinsa dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI dan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/4/2024).
Namun, DRC tersebut ternyata tidak dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, cenderung tidak dimanfaatkan karena data yang dicadangkan hanya 2% dari keseluruhan data tersimpan di PDNS 2.
“Hanya 2% dari data (yang tersimpan) di Surabaya di-backup,” ungkap Hinsa.
Tentunya apa yang disampaikan oleh Hinsa sangat mengejutkan. Hal ini karena, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menyatakan data yang tersimpan di PDNS 2 dipastikan tidak bisa dipulihkan atau digunakan kembali oleh instansi pemiliknya.
Telkom melalui anak usahanya PT Sigma Cipta Caraka (Telkomsigma) merupakan pengelola dari pusat data sementara pemerintah yang meliputi PDNS 1 dan PDNS 2.
"Yang jelas, data yang sudah kena (serangan) ransomware ini sudah enggak bisa kita recovery (pulihkan)," kata Direktur Network dan IT Solution Telkom Herlan Wijanarko dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Jakarta Pusat, Rabu (26/6/2024).
Herlan menjelaskan upaya pemulihan yang dilakukan sejauh ini adalah menyiapkan pusat data cadangan agar layanan publik terdampak bisa beroperasi kembali. Upaya tersebut tergantung pada backup data yang dimiliki masing-masing instansi.
Sejauh ini, diketahui hanya 44 dari 282 instansi pemerintah yang memiliki backup data. “Hasilnya ada beberapa tenant (penyewa PDNS 2) memiliki backup, ada beberapa tidak, ada beberapa yang tidak aktif, dan ada beberapa yang belum diverifikasi,” ujar Herlan.
Baca Juga
Proteksi Pusat Data Nasional Pakai Windows Defender, Memang Efektif?
Pemulihan layanan publik yang terdampak serangan Brain Cipher Ransomware sepenuhnya bergantung pada backup dari masing-masing instansi. Hal ini karena Telkomsigma tidak punya backup dari data yang tersimpan di PDNS 1 maupun PDNS 2.
"Sistem backup-nya disiapkan, tetapi belum dimanfaatkan," ungkapnya.

