Pusat Data Nasional Diretas Gegara Pemerintah Perangi Judi Online, Begini Tanggapan Kemenkominfo
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah belum bisa memastikan apakah serangan ransomware ke Pusat Data Nasional (PDNS) 2 berkaitan dengan gencarnya pemberantasan judi daring atau judi online, khususnya pemutusan jalur internet ke Kamboja dan Davao-Filipina.
Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria mengatakan, dugaan tersebut masih diinvestigasi pihak terkait, seperti Kemenkominfo, Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN), Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Resersere Kriminal (Bareskrim) Polri, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Saat ini, semuanya masih berfokus untuk memulihkan layanan publik yang lumpuh akibat serangan ransomware ke PDNS 2.
Baca Juga
Terungkap 5 Provinsi dengan Pelaku Judi Online Terbanyak, Jabar Teratas
Sebagai catatan, ransomware merupakan sejenis program jahat, atau malware, yang mengancam korban dengan menghancurkan atau memblokir akses ke data atau sistem penting hingga tebusan dibayar.
"Kita belum berasumsi ke sana ya, masih dalam investigasi. Sekarang kita konsentrasi membereskan ini (pemulihan layanan publik) dulu. Apakah ada kaitannya dengan judi online atau tidak itu nanti masih dalam tahap investigasi selanjutnya," katanya ketika ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (26/6/2024).
Lebih lanjut, Nezar menjelaskan, saat ini, seluruh pihak terkait masih berupaya memulihkan layanan publik yang terganggu dengan cara migrasi data ke peladen (server) atau pusat data cadangan. Namun, upaya tersebut juga terhambat lantaran tidak semua instansi pemerintah yang terdampak punya pencadangan data (backup).
Baca Juga
Pemerintah Pastikan Tak Mau Bayar Tebusan Pusat Data yang Diretas
Nezar menyebut dari 282 instansi pemerintah di tingkat pusat maupun daerah yang menggunakan PDNS 2, hanya 44 yang sudah melakukan pencadangan data. Oleh karena itu, dibutuhkan waktu hingga berhari-hari untuk memulihkan layanan publik yang lumpuh akibat serangan ransomware ke PDNS 2.
"Untuk migrasi itu, kita harus sampaikan di tempat mendarat yang baru itu juga harus clean (bersih). Nah, ini enggak main-main karena nanti kalau semua data dipindahkan. Lalu itu di rumah yang baru juga ternyata ada file yang terinfeksi ikut kan jadi mengulang lagi (kejadiannya)," tuturnya.

