Komisi I DPR Cecar Menkominfo soal Judi Online, Singgung Polwan Bakar Suami
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi dicecar habis-habisan oleh Komisi I DPR dalam rapat kerja (raker) di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/6/2024). Raker tersebut membahas upaya pemberantasan judi daring atau judi online.
Komisi I DPR sempat menyinggung kasus judi online yang menjerat seorang aparat kepolisian di Mojokerto, Jawa Timur. Diketahui seorang polisi wanita (polwan) membakar suaminya yang juga seorang polisi karena kecanduan judi online.
"Bayangkan suami istri polisi, istrinya membakar suaminya sampai meninggal. Saya kira ini kan meraka orang yang tahu secara dia aparat penegak hukum kan masalahnya. Jadi itu saya kira harus dapat perhatian betul," kata Wakil Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari.
Kemudian, anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar Nurul Arifin mempertanyakan efektivitas pemblokiran 800.000 lebih situs judi online oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Sebab, nilai transaksinya sudah mencapai Rp 100 triliun pada kuartal I-2024 dan Rp 327 triliun sepanjang 2023.
“Bapak sudah menjanjikan dan implementasinya seperti apa? Kalau kenyataannya sampai hari ini berlanjut terus dan kelihatannya semakin parah beberapa bulan pun sudah Rp 100 triliun transaksi uangnya,” ucap Nurul.
Baca Juga
Motif Polwan Bakar Suami di Mojokerto: Uang Belanja Habis untuk Judi Online
Perempuan yang dahulu dikenal sebagai aktris ini juga menyinggung pemblokiran rekening bank terkait judi online. Dia menilai upaya yang dilakukan dengan menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini jauh dari kata berhasil jika melihat besarnya nilai transaksi judi online sepanjang kuartal I-2024.
"Berarti enggak efektif dong, sementara Bapak selama ini strateginya menggandeng OJK menutup rekening-rekening yang terkait dengan judi online,” cecarnya.
Senada, anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDIP Junico Siahaan juga menagih langkah konkrit Kemenkominfo untuk memberantas judi online. Termasuk di antaranya adalah kerja sama dengan negara lain, khususnya negara yang menjadi tempat judi online dioperasikan.
“Karena naiknya (transaksi judi online) enggak main-main, makin hari ada tren kenaikan cukup besar. Tetapi kami belum lihat ada langkah serius," katanya.
Tidak Bisa Sendirian
Menanggapi cecaran tersebut, Budi Arie menyebut judi online bukanlah permasalahan yang bisa diselesaikan sendirian oleh Kemenkominfo. Diperlukan sinergi dengan kementerian atau lembaga lainnya untuk memberantas praktik perjudian yang banyak dioperasikan dari luar negeri itu.
Lebih lanjut, Budi Arie menyampaikan bahwa dalam rapat terbatas (ratas), Presiden Joko Widodo membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Judi Online yang diketuai oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam). Untuk susunannya, Budi mengaku sebagai ketua bidang pencegahan dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai ketua bidang penindakan.
“Karena pemberantasan judi online bukan tugas satu kementerian atau Kemenkominfo. (Tugasnya) Kemenkominfo iya betul, mencegah, men-take down (menutup akses ke situs judi online), tetapi yang lain-lain mesti ditangani institusi lain, seperti OJK, BI (Bank Indonesia). Ini lintas sektoral, termasuk luar negeri,” paparnya.
Selain itu, ditemukan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) di transaksi judi online. Namun, Budi Arie tak memberikan penjelasan mengenai temuan tersebut ke Komisi I DPR.
"Intinya bukan sekadar judi online, karena ada berapa kasus dia dapat duit dari mana, (karena) menang judi. Soal judi online bukan apa Pak, ini soal ekonomi keluarga, ini menyangkut ekonomi keluarga masa depan kita sebagai bangsa karena rusak, ini dirusak oleh negara lain lagi," ujarnya.
Baca Juga
Budi Arie menambahkan salah satu upaya konkret untuk memberantas judi online adalah kerja sama dengan Google. Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) itu akan membantu pemerintah memberantas peredaran konten-konten judi online menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Google sudah mempresentasikan kepada kita soal Google AI untuk bisa segera mengeksekusi berbagai situs-situs yang terindikasi, langsung kita take down, Google akan membantu dengan AI mereka," ungkapnya.

