Ibu Kota Pindah, Tokoh Betawi Minta Jakarta Jadi Pusat Wisata Halal
JAKARTA, investortrust.id – Pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara berpotensi menurunkan aktivitas atau kegiatan perekonomian Jakarta.
Investasi yang bergeser ke IKN, juga dikhawatirkan bisa membawa dampak pada kenaikan angka pengangguran di ibu kota lama, Jakarta.
Sejatinya, kekhawatiran ini tidak perlu muncul jika pemerintah mampu membangun dan mengembangkan potensi ekonomi dan bisnis baru di Jakarta. Pengembangan kegiatan ekonomi baru ini tentu harus disesuaikan dengan potensi maupun sumber daya masyarakat Jakarta.
Baca Juga
Budaya Betawi Diyakini Tak Bakal Punah, Ternyata Ini Penyebabnya
Tokoh dan budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra menyebut, potensi dan sumber daya penting yang dimiliki warga Betawi adalah pariwisata dan kuliner halal.
Saat ini, kata pria yang akrab disapa Babe Yahya tersebut, pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang giat melakukan edukasi terkait pengembangan potensi destinasi dan kuliner halal khas Betawi.
“Kami mendukung, selain melestarikan kuliner khas Betawi, upaya ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat betawi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat,” tutur Babe Yahya saat Konfrensi Pers di Hotel Sultan Jakarta, Jumat (26/4/2024).
Lebih lanjut Yahya mengatakan, saat ini DKI Jakarta memiliki 9 destinasi pariwisata halal. Selain tempat wisata, 9 destinasi pariwisata ini memiliki restaurant bersertifikat Halal MUI dan masjid atau musholla sebagai tempat ibadah.
9 destinasi tadi yaitu Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Kepulauan Seribu, Kawasan Kota Tua, Setu Babakan, Sarinah, Thamrin City, Jalan Raden Saleh – Cikini Raya, dan Senayan.
Baca Juga
Yahya bilang, jumlah destinasi dan kuliner halal tadi masih jauh dari cukup. Untuk itu dia mengusulkan agar destinasi dan kuliner halal khas Betawi diperluas, termasuk membuka kembali pusat kuliner yang pernah ada di kawasan Pondok Indah.
“Dulu di sana ada pusat kuliner lepet dan asinan paling top di Jakarta, tapi Ketika Kawasan itu digusur menjadi perubahan mewah, kawasan kuliner ini hilang. Kami harap kawasan ini dibangun kembali,” kata dia.
Sementara soal dampak ekonomi terkait kepindahan ibu kota ke IKN, Yahya mengaku tidak kehawatir, sebab warga Betawi bisa beradaptasi dalam kondisi apapun. “Hidup dengan multi etnis saja kami bisa menciptakan kebahagiaan, kedamaian dan kebersamaan. Tentu saja kami akan bisa sekalipun ditinggalkan,” katanya.
Karena itu Yahya mengaku warga Betawi tidak merada keberatan dengan pemindahan IKN, namun dia mengingatkan agar pembagunan IKN tidak dilakukan sembrono seperti yang dilakukan Pemerintah Orde lama maupun Orde Baru dalam membangun Jakarta.
“Jangan sampai IKN dibangun sembrono seperti Jakarta, dimutilasi dengan kehadiran Kawasan-kawasan perumahan atau kawasan elite yang hanya menguntungkan segelintir pihak,” katanya.

