Mungkinkah Prabowo-Gibran Menang Pilpres Satu Putaran? ini Hitung-hitungan LSI
JAKARTA, investortrust.id - Sejumlah lembaga survei menunjukkan elektabilitas capres nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Namun, hingga kini, belum ada lembaga survei yang menasbihkan Prabowo-Gibran memenangkan Pilpres 2024 dalam satu putaran. Hal ini mengingat elektabilitas Prabowo-Gibran belum menembus angka 50%+1.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan mengatakan, umumnya lembaga survei melakukan survei terhadap 1.200 responden dengan margin of erro 2,9%. Dengan margin of error tersebut, elektabilitas Prabowo-Gibran harus mencapai angka 54% agar dapat mengeklaim kemenangan dalam satu putaran.
"Kalau misalnya 02 (Prabowo-Gibran) dari data survei cukup aman untuk memenangkan satu putaran dia harus berada di posisi 54%. Kalau 54%, margin of error berada di posisi minus berarti dia 51%. Berarti aman dia," kata Djayadi Hanan dalam diskusi Konvergensi bertajuk "Pilpres Satu Putaran, Mungkinkah?" di kantor Investortrust.id, Jakarta, Senin (29/1/2024).
Baca Juga
KedaiKopi: Momentum dan Modal Sosial Bisa Balikkan Keadaan Jelang Pilpres
Dikatakan Djayadi, saat ini, survei beberapa waktu terakhir menunjukkan elektabilitas Prabowo Gibran berada di angkat 42% hingga 48%. Prabowo-Gibran bisa menang satu putaran dengan angka tertinggi 48% ditambah margin of error 3%. Namun, jika margin of error minus 3%, artinya elektabilitas Prabowo-Gibran berada di angka 45%.
"Satu putaran itu mungkin, tetapi tidak pasti. Mungkinnya kalau dia berada di posisi 51%, bagaimana jika di posisi 45%," katanya.
Baca Juga
Wamenkominfo Sebut Jumlah Misinformasi di Pilpres 2024 Berkurang
Djayadi mengaku tidak kaget elektabilitas Prabowo-Gibran tak kunjung menembus angka 50%+1. Hal ini mengingat Pilpres 2024 diikuti oleh tiga pasangan calon tanpa incumbent. Selain itu, ketiga capres yang bertarung di Pilpres 2024 sudah dikenal publik. Dengan demikian, tidak ada kejutan terkait kepribadian tiga capres tersebut.
"Terakhir, basis pemilih ketiga calon saling tumpang tindih satu sama lain, dan masing-masing punya basis kuat," katanya.

