Geledah Rumah Ketua DPD Gerindra Malut, KPK Sita Dokumen Penting
JAKARTA, investortrust.id - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah Ketua DPD Partai Gerindra Maluku Utara (Malut), Muhaimin Syarif. Penggeledahan ini terkait kasus dugaan suap proyek dan perizinan yang menjerat Gubernur nonaktif Malut, Andi Gani Kasuba.
Tim penyidik menyita dokumen penting termasuk alat elektronik saat menggeledah rumah Muhaimin Syarif di kawasan Pagedangan, Tangerang. Barang bukti itu disita lantaran diduga terkait dengan kasus suap yang menjerat Abdul Gani Kasuba.
"Pada lokasi dimaksud, ditemukan dan diamankan antara lain berbagai dokumen termasuk alat eletronik yang diduga nantinya dapat menjelaskan perbuatan dari para Tersangka," kata Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Jumat (5/1/2024).
Baca Juga
KPK Periksa Ketua Partai Gerindra Maluku Utara Muhaimin Syarif
Sebelumnya, tim penyidik KPK juga menggeledah rumah tersangka Stevi Thomas dan kantor swasta di Jakarta, Kamis (4/1/2024). Namun, Ali tak memerinci pihak swasta yang kantornya digeledah tersebut.
Ali menyatakan, barang-barang bukti yang ditemukan di lokasi penggeledahan akan dipergunakan untuk melengkapi berkas perkara Abdul Gani Kasuba dan kawan-kawan.
"Penyitaan berikut analisis atas temuan bukti tersebut juga segera dilakukan untuk melengkapi berkas perkara penyidikan," katanya.
Diberitakan, KPK menetapkan Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek dan perizinan. Tak hanya Abdul Gani Kasuba, KPK juga menjerat enam orang lainnya sebagai tersangka terkait kasus tersebut. Mereka yakni, Kadis Perumahan dan Pemukiman Maluku Utara Adnan Hasanudin, Kadis PUPR Daud Ismail, dan Kepala BPPBJ Ridwan Arsan. Kemudian, Ramadhan Ibrahim yang merupakan ajudan Abdul Gani Kasuba, serta dua orang swasta bernama Stevi Thomas dan Kristian Wuisan.
Penetapan tersangka ini dilakukan KPK melalui gelar perkara setelah memeriksa secara intensif 18 orang yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta dan Maluku Utara pada Senin (18/12/2023).
Abdul Gani diduga menerima suap terkait sejumlah proyek di Maluku Utara. Salah satunya proyek jembatan dan jalan dengan total anggaran mencapai Rp 500 miliar. Dalam menjalankan aksinya, Abdul Gani Kasuba memerintahkan Adnan Hasanudin, Daud Ismail, dan Ridwan Arsan untuk menyampaikan berbagai proyek di Maluku Utara, termasuk proyek jalan dan jembatan ruas Matuting-Rangaranga, pembangunan jalan dan jembatan ruas Saketa-Dehepodo.
Baca Juga
KPK Tangkap Tersangka Pemberi Suap Gubernur Malut Abdul Gani Kasuba
Dari proyek-proyek tersebut, AGK kemudian menentukan besaran yang menjadi setoran dari para kontraktor. Di antara kontraktor yang dimenangkan dan menyatakan kesanggupan memberikan uang yaitu Kristian Wuisan.
Selain itu, Stevi Thomas juga telah memberikan uang kepada Abdul Gani Kasuba melalui Ramadhan Ibrahim untuk pengurusan perizinan pembangunan jalan yang melewati perusahannnya.
Kristian dan Stevi menyetorkan uang suap secara tunai maupun rekening penampung dengan menggunakan nama rekening bank atas nama pihak lain maupun pihak swasta. Sejauh ini, KPK menyita uang Rp 2,2 miliar yang disimpan di rekening penampung. Uang-uang tersebut kemudian digunakan di antaranya untuk kepentingan pribadi AGK berupa pembayaran menginap hotel dan pembayaran dokter gigi.
Selain suap proyek, Abdul Gani juga diduga menerima suap dari para ASN di Pemprov Maluku Utara untuk mendapatkan rekomendasi dan persetujuan menduduki jabatan di Pemprov Maluku Utara.

