PIEC: Indeks Demokrasi Indonesia Turun, Cenderung Mengarah ke Otoritarianisme
JAKARTA, investortrust.id - Paramadina Institute of Ethic and Civilization (PIEC) bekerjasama dengan Yayasan Persada Hati menggelar Kajian Etika dan Peradaban Edisi ke-125 yang bertajuk "Sumber-Sumber Otoritarianisme Dalam Budaya Politik Indonesia".
Diskusi yang berlangsung di Ruang Elang - Grand Ballroom, Ambhara Hotel, Jakarta Selatan, Rabu (10/1/2024) ini menghadirkan sejumlah narasumber.
Ketua PIEC, Pipip A. Rifai Hasan mengungkapkan, saat ini indeks demokrasi Indonesia mengalami penurunan. Bahkan, memiliki kecenderungan yang kuat mengarah ke otoritarianisme.
"Padahal sejak kemerdekaan Republik Indonesia, kita telah menganut sistem politik demokratis konstitusional yang modern, yang cukup memberikan atau membatasi penyalahgunaan kekuasaan atau kekuasaan yang tidak terkontrol," ujar Pipip.
Baca Juga
Pakar Tata Negara: Saat Ini Demokrasi Digunakan Hanya untuk Meraih Kekuasaan
Diskusi yang dimoderatori oleh Peneliti PIEC, Rizki Damayanti, juga memberi kesempatan kepada Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Semiarto Aji Purwanto untuk memberikan pandangannya.
Menurut Aji, otoritarianisme atau otoriter dapat berasal dari berbagai sumber sesuai dengan ilmu yang menjelaskannya, seperti social sciences, political science, humanity, psychology, atau multidisplinary approach.
"Kita bisa melihat otoriter disini dari berbagai macam sudut pandang. Tapi, saya akan pilih dari perspektif yang saya kuasai, yaitu social science atau antrophology science khususnya,” katanya.
Aji menjelaskan, salah satu pandangan yang sangat populer mengenai otoritarianisme ini berasal dari perspektif Adorno. Di mana, otoritarianisme dipengaruhi oleh karakter psikologis, struktur kepribadian otoriter, kondisi sosial, prejudice dan intoleransi, serta budaya massa dan propaganda.
Baca Juga
"Media dan pola komunikasi dapat memperkuat nilai otoriter pada kasus tertentu," katanya.
Selain itu, Aji mengatakan, sumber-sumber otoritarianisme di Indonesia dapat ditelusuri dari konteks budaya dan historis, terutama dengan melihat survei traits dari budaya dominan atau mayoritas.
"Melihat sumber otoritarianisme dari sisi budaya lebih menunjukkan aspek ideologis assumption and belief dari individu sebagai bagian dari komunitas yang sudah bertahan lama dan sulit hilang," paparnya.
Adapun, dari aspek kontekstual menjadi bagian penting untuk melihat dinamika pelaku dan situasi yang menyelimutinya.
Baca Juga
"Dalam kasus Indonesia kontemporer, faktor-faktor penguasaan politik dan ekonomj menjadi alasan munculnya otoritarianisme," tandasnya.

