CISDI Ungkap Konsumsi Rokok Dongkrak Angka Kemiskinan Nasional
JAKARTA, investortrust.id – Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengungkap peningkatan angka kemiskinan akibat belanja tembakau atau rokok mencapai 3,23% atau setara 8,77 juta jiwa pada 2021.
Salah satu Peneliti Senior untuk Advokasi Pengendalian Tembakau CISDI, Gea Melinda menyatakan, konsumsi tembakau sangat berdampak buruk terhadap kebutuhan esensial bagi rumah tangga miskin. Dia menekankan, dana yang bisa diinvestasikan ke kebutuhan esensial malah crowding out ke konsumsi rokok tembakau.
“Sebenarnya bisa buat untuk kebutuhan esensial, tapi malah crowding out buat kebutuhan tembakau. Akhirnya mengurangi kebutuhan esensial lainnya seperti kebutuhan makanan, transportasi, pendidikan, dan seterusnya,” kata Gea kepada investortrust.id di Jakarta, Selasa (12/12/2023).
Sementara itu, Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 yang dirilis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Juni 2022 menyebutkan, selama 10 tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah perokok dewasa sebanyak 8,8 juta jiwa.
Pada 2011, jumlah perokok sekitar 60,3 juta jiwa, kemudian bertambah menjadi 69,1 juta jiwa pada 2021. Berdasarkan data tersebut, dapat dihitung pengeluaran rokok masyarakat Indonesia yang sebanyak 69,1 Juta jiwa tersebut sekitar Rp64 triliun per tahun.
Gea juga menuturkan, konsumsi produk tembakau ini menarik orang ke dalam garis kemiskinan. “Riset kita tentang impoverishing effect of tobacco use menyoroti konsumsi tembakau itu menarik orang ke dalam garis kemiskinan. Seperti yang kita ketahui dari data BPS, pengeluaran untuk produk tembakau adalah dua terbesar (setelah beras di nomor satu). Bahkan, itu (konsumsi tembakau) tiga kali lipatnya dari telur,” ujar Gea.
Baca Juga
Bikin Miris! Remaja Indonesia Habiskan Separuh Pengeluaran untuk Membeli Rokok
Peneliti CISDI, I Dewa Gede Karma Wisana turut menyampaikan, adanya dugaan peningkatan jumlah perokok di tahun-tahun berikutnya. Dia juga menyebutkan pentingnya peralihan konsumsi tembakau agar kebutuhan nutrisi keluarga di garis kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan rumah tangganya.
“Hal ini penting untuk kita terus berupaya mengalihkan konsumsi rokok, khususnya di rumah tangga miskin, agar mereka bisa berkonsumsi jauh lebih efektif dan bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan mereka,” tegas Dewa.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2023 ada sekitar 25,9 juta penduduk miskin di Indonesia. Persentase penduduk miskin nasional ini menyusut dalam setahun terakhir dari 9,54% pada Maret 2022, menjadi 9,36% pada Maret 2023. Garis Kemiskinan per kapita pada Maret 2023 dipatok sebesar Rp550.458 per kapita per bulan. Lalu, garis kemiskinan rumah tangga sebesar Rp2.592.657 per rumah tangga miskin per bulan. (CR-3)

