Pesona Bena, Kampung Adat di Kaki Inerie, Bunda yang Agung (Bagian 3 dari 6 Tulisan)
Oleh: Primus Dorimulu
“Di tanah Ngada, Flores, sebuah gunung menjulang seperti ibu yang berjaga. Pada lerengnya, kehidupan bertumbuh; di kaki-kakinya, manusia merawat ingatan“.
FLORES, Investortrust— Ada gunung yang memukau karena ketinggiannya. Ada pula yang tinggal dalam hati karena cerita yang mengelilinginya. Inerie mempertemukan keduanya: tubuh yang menjulang ke langit dan nama yang mendekatkan manusia kepada kehangatan seorang ibu.
Di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, gunung ini membentuk garis yang tegas di cakrawala. Kerucutnya lancip, lerengnya mengalir ke bawah seperti bentangan kain panjang. Ketika awan mengitari tubuhnya, puncaknya seolah muncul dari lautan putih. Dalam cahaya pagi, sosoknya menyerupai piramida yang dipahat perlahan oleh waktu.
Nama yang lazim digunakan adalah Inerie. Penduduk setempat menjelaskan bahwa nama itu berasal dari kata ine, yang berarti ibu, dan rie, yang berarti cantik: ibu yang jelita, ibu yang anggun. Sebutan “Bunda Agung” dalam tulisan ini menjadi ungkapan puitis untuk menghormati keindahan dan kedudukannya sebagai simbol pemberi kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya.
Dalam sebutan itu, sebuah bentang alam terasa memiliki kedekatan dengan manusia. Gunung menjadi sosok yang dipandang, disapa, dan dikenang. Bagi orang yang pergi jauh, mudah membayangkan siluet Inerie sebagai tanda kepulangan: sesuatu yang tetap berdiri ketika banyak hal dalam hidup telah berubah.
Para peziarah yang tergabung dalam Camino de Flores, Sabtu (24/10/2026), sempat berjalan kaki membentuk setengah lingkaran di gunung kaki berapi dengan ketinggian 2.245 meter dari permukaan laut ini. Menapaki jalan dari Bajawa ke Bena, para pelancong tak puas-puas memandang keanggunan Inerie.
Flores merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), dengan lebih dari sepuluh gunung berapi, di antaranya Inerie, Ebulobo, Ranaka, Lewotobi Laki-Laki, dan Lewotobi Perempuan. Rangkaian gunung ini membentuk bentang alam Flores yang dramatis sekaligus menyimpan potensi bencana. Gunung tertinggi di Flores adalah Poco Ranaka, 2.383 meter dari permukaan laut, terletak di Manggarai, dekat kota Ruteng.
Global Volcanism Program dari Smithsonian Institution mencatat ketinggian Inerie 2.245 meter di atas permukaan laut. Gunung api strato ini menjulang di bagian selatan-tengah Flores, menghadap Laut Sawu, dan kakinya langsung menjejak laut. Di dekat puncaknya terdapat kawah berdinding terjal, sementara bagian atas lerengnya terbuka tanpa vegetasi. Keindahan bentuknya menyimpan riwayat panjang tenaga bumi yang membangun tubuh gunung.
Dari kejauhan, garis-garis Inerie tampak tenang. Namun, di balik ketenangan sebuah gunung api tersimpan waktu yang jauh melampaui umur manusia. Batuan, kawah, dan lerengnya adalah lembar-lembar sejarah yang dibaca para ahli melalui penelitian. Manusia yang tinggal di sekitarnya memiliki cara lain untuk menyimpan ingatan: cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kehidupan di Sekitar Sang Bunda
Di sekeliling Gunung Inerie, kampung-kampung adat merawat hubungan dengan tanah dan leluhur. Kampung Adat Bena menjaga warisan dalam keseharian, sementara Kampung Adat Gurusina menegakkan kembali kehidupan setelah kebakaran. Di bawah naungan Sang Bunda, masyarakat terus menanam, membangun, dan meneruskan harapan.
Gunung Inerie menjulang di atas perkampungan adat, kebun, dan lembah di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Di bawah puncaknya yang meruncing, kehidupan tumbuh dari tanah yang diolah turun-temurun. Warga menanam, memanen, membangun rumah, dan merawat hubungan dengan leluhur. Sang Bunda hadir dalam pemandangan dari halaman rumah, dalam pekerjaan sehari-hari, dan dalam ingatan mereka yang merantau tentang kampung halaman.
Gunung berapi menyimpan daya rusak sekaligus daya hidup. Saat letusan terjadi, abu vulkanik dan material panas dapat mengancam keselamatan serta menghancurkan penghidupan. Namun, dalam perjalanan panjang waktu, pelapukan material vulkanik ikut membentuk tanah yang menopang pertanian. Kesuburan, ikatan keluarga, dan kedekatan dengan tanah leluhur membantu menjelaskan mengapa masyarakat di berbagai kawasan gunung api tetap bertahan atau kembali membangun kehidupan setelah bencana.
Di sekitar Inerie, hubungan manusia dengan alam dan asal-usulnya terlihat dalam persebaran kampung adat. Bena dan Luba berada di sisi timur gunung, Tololela dan Gurusina di kawasan timur hingga tenggara, sedangkan Bela berada di sebelah utara. Di lereng selatan terdapat Maghilewa dan Watu, yang kehidupannya terhubung dengan bentang wilayah selatan Flores. Arah tersebut merupakan orientasi umum terhadap puncak Inerie.
Kampung-kampung itu mempunyai rumah, pelataran, dan sejarah masing-masing. Jalan yang menghubungkannya melintasi kebun, lembah, serta perbukitan. Menyusurinya membuka kesempatan untuk mengenal bagaimana masyarakat menata kehidupan, mengolah hasil bumi, dan mempertahankan kebudayaan di tengah perubahan zaman.
Rombongan Camino de Flores singgah di Kampung Bena pada Sabtu (24/10/2026). Dalam perjalanan untuk berefleksi, bersyukur, dan berbagi, persinggahan ini menghadirkan perjumpaan dengan warisan budaya Ngada yang terus hidup. Inerie menjulang sebagai latar, sementara rumah-rumah adat dan pelataran berbatu mengajak pengunjung mendekat pada kisah masyarakat di kakinya.
Bena berada di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu’u, di selatan Kota Bajawa. Kampung ini menempati bukit dengan permukiman memanjang dari utara ke selatan, mengikuti bentuk lahan. Rumah-rumah tradisional berdiri saling berhadapan, mengapit ruang tengah tempat berbagai simbol adat dan batu megalitik berada.
Pemerintah Kabupaten Ngada mencatat 45 rumah tradisional di Bena. Atap-atap tinggi menaungi kehidupan keluarga, sedangkan pelataran menjadi ruang bersama yang mempertemukan warga dalam keseharian dan upacara adat. Susunan kampung memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara tempat tinggal, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur.
Di ruang tengah berdiri ngadhu dan bhaga. Ngadhu berupa tiang kayu tunggal beratap yang melambangkan leluhur laki-laki. Bhaga berbentuk menyerupai rumah kecil yang melambangkan leluhur perempuan. Keduanya menempatkan ingatan tentang asal-usul keluarga di pusat kehidupan kampung.
Batu-batu megalitik juga mempunyai fungsi dalam pelaksanaan ritual. Di antara rumah, bangunan simbol leluhur, dan pelataran itu, generasi yang hidup hari ini memelihara hubungan dengan mereka yang telah mendahului. Warisan memperoleh tempat dalam ruang yang digunakan bersama dan adat yang terus dijalankan.
Masyarakat Bena mengenal sistem kekerabatan matrilineal, dengan garis keturunan mengikuti pihak perempuan. Kedudukan perempuan menjadi bagian penting dalam kesinambungan keluarga. Keterampilan menenun yang diwariskan antargenerasi turut menjaga pengetahuan dan ketekunan agar tetap hidup.
Mayoritas masyarakatnya memeluk agama Katolik sambil memelihara adat warisan leluhur. Iman, tradisi, dan pekerjaan bertemu dalam keseharian. Warga berladang, mengurus hasil kebun, menenun, serta merawat rumah dan ruang bersama.
Di Bena dan Luba, yang sama-sama berada di Desa Tiworiwu, kehidupan berlangsung di antara rumah tradisional dan tinggalan megalitik. Kopi, cengkih, dan hasil kebun lainnya menjadi bagian dari penghidupan masyarakat. Kain yang ditenun, hasil panen yang diurus, serta perjumpaan warga dengan pengunjung memberi wajah pada kampung yang terus dihuni dan dirawat.
Tata ruang Bena juga menyimpan pelajaran tentang menyesuaikan hunian dengan alam. Permukiman mengikuti kontur bukit. Bentuknya yang menyerupai perahu dimaknai dalam penuturan budaya setempat sebagai pengingat perjalanan leluhur, kerja keras, dan gotong royong. Rumah-rumah menjadi tempat berteduh sekaligus penjaga ingatan bersama.
Dari Bena, perjalanan budaya dapat diteruskan menuju kampung-kampung lain di sekitar Inerie. Tololela berada di Desa Manubhara, Kecamatan Inerie, sedangkan Gurusina berada di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebu’u. Jalur yang menghubungkan kampung, kebun, dan lembah mempertemukan pengunjung dengan bentang alam serta kehidupan masyarakatnya.
Namun, rombongan Camino de Flores tidak sempat mengunjungi Gurusina. Jarak Bena dan Gurusina sekitar empat kilometer, tetapi waktu tempuh dapat mencapai satu jam karena medan yang sulit dan jalan yang harus memutar. Di perbukitan Flores, dua tempat yang berdekatan belum tentu dapat dijangkau dalam waktu singkat.
Gurusina menempati lembah yang diapit perbukitan. Kampung ini menyimpan kisah tentang kehilangan dan keteguhan membangun kembali kehidupan. Pada 13 Agustus 2018, kebakaran hebat menghanguskan sebagian besar rumah adatnya. Laporan ANTARA ketika itu mencatat 27 dari 33 rumah adat terbakar, disertai satu rumah baca.
Api merenggut tempat tinggal sekaligus ruang yang menyimpan kehidupan keluarga dan warisan leluhur. Bagi masyarakat, membangun kembali kampung berarti memulihkan tempat untuk berkumpul, menjalankan adat, dan membesarkan generasi berikutnya.
Warga kemudian menghimpun tenaga untuk menegakkan kembali Gurusina. Dukungan pemerintah dan bantuan berbagai pihak memperkuat pemulihan. Rumah-rumah dibangun mengikuti arsitektur adat yang dikehendaki masyarakat. Tiang kembali ditegakkan, atap dipasang, dan ruang keluarga dihadirkan melalui kerja bersama.
Publikasi Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores pada Juni 2025 mengonfirmasi pembangunan kembali rumah-rumah adat tersebut. Gurusina kembali menerima pengunjung, dan sejumlah keluarga membuka rumah bagi tamu yang ingin menginap. Kehidupan kampung memperoleh kembali ruangnya.
Pelataran Gurusina pun kembali menjadi tempat perjumpaan dan pelaksanaan adat, termasuk Reba, perayaan tahunan masyarakat Ngada. Rumah-rumah yang berdiri memberi tempat bagi anak-anak untuk mengenal tradisi dan bagi keluarga untuk meneruskan warisannya. Gotong royong memulihkan bangunan sekaligus menguatkan kebersamaan.
Bena dan Gurusina sama-sama memiliki sejarah panjang. Profil desa dan pariwisata setempat memperkirakan usia Bena sekitar 1.200 tahun dan Gurusina sekitar 500 tahun. Angka tersebut merupakan perkiraan dalam publikasi lokal, bukan kepastian berdasarkan penanggalan arkeologis. Kesinambungan komunitas dan tradisinya juga perlu dibedakan dari usia bangunan yang kini berdiri, terutama di Gurusina setelah kebakaran.
Bentang kehidupan di sekitar Inerie berlanjut ke utara. Di sana, Kampung Bela berada di Desa Bela, Kecamatan Bajawa, dalam kawasan budaya Langa. Kehadirannya memperlihatkan luasnya persebaran perkampungan adat di sekeliling gunung, melintasi batas kecamatan dengan hubungan yang tetap erat terhadap alam dan warisan leluhur.
Di lereng selatan, Maghilewa di Desa Inerie dan Watu di Desa Sebowuli sama-sama masuk Kecamatan Inerie. Keduanya merupakan kampung di kawasan lereng yang mengarah ke pesisir, bukan permukiman yang langsung berdiri di tepi pantai. Kebun, jalan antarkampung, dan hubungan masyarakat menghubungkan kehidupan mereka dengan wilayah selatan Flores.
Dari Bena hingga Gurusina, dari Bela hingga kampung-kampung di lereng selatan, Inerie menaungi beragam kisah manusia. Tanah menjadi tempat mencari nafkah, rumah adat menjaga ingatan keluarga, dan pelataran kampung menyediakan ruang untuk merawat kebersamaan.
Bagi rombongan Camino de Flores, persinggahan di Bena memberi kesempatan untuk menyentuh sebagian kehidupan itu. Para peziarah disambut warga dengan hangat dan makan-minum di rumah mereka. Usai makan siang, Mari Pangestu dan rombongan sempat menari bersama warga di tengah Kampung sambil memandang Gunung Ineria yang anggun.
Gurusina belum sempat didatangi, tetapi kisah kebangkitannya melengkapi gambaran tentang keteguhan masyarakat di kaki Inerie: merawat yang diwariskan dan membangun kembali ketika kehilangan datang.
Di sekitar Sang Bunda, tangan-tangan terus mengolah kebun, menegakkan rumah, dan menuntun anak-anak mengenal asal-usulnya. Inerie menjulang menjaga cakrawala; masyarakat di kakinya menjaga agar kehidupan selalu mempunyai akar dan harapan selalu mempunyai rumah.
Legenda
Gunung Inerie di Ngada dan Ebulobo di Nagekeo menjadi dua tokoh utama dalam sejumlah legenda tersebut. Ebulobo mencintai Inerie, tetapi keinginannya menikah terhalang persoalan belis atau mas kawin. Ia juga menghadapi pesaing, Masih, pengawal yang dicintai Inerie.
Persaingan berujung pertarungan. Inerie membela Masih dan menyerang Ebulobo dengan parang. Sebagian rambut Ebulobo terpotong dan terlempar ke kawasan di luar Aimere. Dalam legenda itu, asap Ebulobo dimaknai sebagai tanda kewaspadaan menghadapi serangan, sedangkan batu Jaramasi di dekat Inerie dikaitkan dengan Masih dan kudanya.
Ada pula versi berbeda: Inerie dan Ebulobo, yang disebut pula Amburombu, merupakan pasangan suami istri. Ketika bertengkar, Inerie melemparkan sendok hingga salah satu gigi Ebulobo tanggal. Lekukan pada puncak gunung kemudian dihubungkan dengan kejadian tersebut.
Versi lain menjelaskan Ine Rie sebagai istri Manu Lalu. Kehidupan mereka terganggu oleh Ebu Lobo yang ingin merebut Ine Rie. Dalam pertarungan, tombak Ebu Lobo mengenai hiasan rambut Ine Rie hingga terlempar ke Poso Rora. Ine Rie membalas dengan melemparkan tombak yang mengenai punggung Ebu Lobo.
Kisah-kisah tersebut merupakan warisan tutur, bukan penjelasan geologis tentang terbentuknya gunung. Melaluinya, masyarakat memberi wajah manusia pada bentang alam: gunung dapat mencintai, terluka, dan menyimpan kenangan. Bagi pengunjung, mendengarkan legenda menjadi cara mengenal Flores lebih dekat melalui alamnya sekaligus ingatan orang-orang yang menghuninya.
Bagi pejalan yang menyusuri Ngada dan Nagekeo, legenda memberi kedalaman pada pengalaman melihat gunung. Pemandangan mengundang kekaguman; cerita membuka percakapan tentang cara masyarakat memahami tempat tinggalnya.
Kisah pertarungan dan cinta tersebut merupakan warisan tutur, bukan penjelasan ilmiah mengenai terbentuknya gunung atau aktivitas vulkaniknya. Nilainya terletak pada ingatan budaya dan hubungan yang dibangun masyarakat dengan alam.
Merawat legenda berarti juga merawat ketepatan penuturannya: menyebut siapa yang bercerita, dari kampung mana versi itu berasal, dan bagian mana yang berbeda dari cerita tetangga. Dengan cara itu, kekayaan tradisi tetap terdengar dalam keragamannya.
Melalui legenda, pegunungan memperoleh wajah manusia. Nama-nama tempat membawa perasaan; bentang alam menjadi ruang untuk menuturkan pengalaman batin. Di hadapan Inerie, orang dapat membayangkan betapa eratnya hubungan antara tempat tinggal dan cerita yang membentuk rasa memiliki terhadap tanah kelahiran.
Masa Lalu Terasa Dekat
Di tempat seperti ini, masa lalu terasa dekat. Ia hadir dalam susunan rumah, dalam penghormatan kepada leluhur, juga dalam keterampilan yang diteruskan. Tradisi tenun ikat Bena, misalnya, tetap menjadi bagian dari warisan masyarakatnya. Benang yang disusun menjadi kain memberi gambaran sederhana tentang kebudayaan: sesuatu yang bertahan karena tangan-tangan berikutnya bersedia meneruskan pekerjaan.
Perjalanan dapat berlanjut melalui jalur yang menghubungkan Bena, Tololela, dan Gurusina, hingga pemandian air panas Malanage. Jalur wisata budaya ini mempertemukan kampung, alam, dan pengalaman berjalan kaki. Setiap persinggahan memberi kesempatan untuk mengenal Inerie dari kehidupan yang berlangsung di sekelilingnya.
Bagi pendaki, Inerie menawarkan perjumpaan yang lebih dekat dengan lereng dan puncaknya. Pemerintah Kabupaten Ngada menyebut Desa Watumeze sebagai titik awal pendakian, dengan perkiraan perjalanan menuju puncak sekitar tiga hingga lima jam, serta menganjurkan pendampingan pemandu lokal. Di lerengnya, kekaguman perlu berjalan bersama penghormatan terhadap medan dan pengetahuan orang setempat.
Namun, menikmati Inerie tidak selalu menuntut perjalanan sampai ke puncak. Berdiri di halaman kampung, memandang awan bergeser di atas rumah-rumah adat, atau mengikuti perubahan cahaya pada lerengnya pun dapat menjadi pengalaman yang mendalam. Ada keindahan yang justru terasa ketika kita berhenti, membiarkan mata memandang lebih lama dan pikiran berjalan lebih pelan.
Mungkin di situlah sebutan Bunda Agung menemukan maknanya. Ia mengajak kita melihat tanah sebagai tempat yang menghidupi dan kebudayaan sebagai ikatan yang perlu dirawat. Kekaguman kepada Inerie menemukan bentuknya dalam penghormatan kepada kampung-kampungnya, kebersihan jalurnya, dan ruang hidup masyarakat yang telah lama berada di sana.
Ketika senja meredup dan garis gunung perlahan menyatu dengan langit, Inerie tetap tinggal dalam pandangan batin. Tegak, hening, dan terasa dekat.
Inerie, Bunda Agung: di hadapanmu manusia belajar mendongak; di kakimu manusia mengingat tempat berpijak. (Bersambung)
