Arahan “Jangan Ada Proyek Mercusuar” dan Mimpi Buruk Pemoles Citra
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pada sidang kabinet pertamanya dua tahun yang lalu, 23 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto memberi arahan kepada seluruh pembantunya: "Pelajari kembali semua proyek, jangan ada proyek yang mercusuar.”
Bagi mereka yang mendapat tugas memoles citra Presiden, arahan ini adalah sebuah mimpi buruk.
Sebab, dalam komunikasi politik, proyek megah menyediakan jalan yang mudah untuk memoles citra.
Baca Juga
Prabowo Puji Kinerja Kabinet Merah Putih di 2 Tahun Pemerintahan, Ajak Terus Bekerja
Satu bangunan monumental, satu pengambilan gambar dari udara, lalu publik mendapatkan simbol yang mudah diingat. Ada yang bisa ditunjuk: inilah hasil kerja seorang Presiden.
Tetapi bagaimana jika yang dikerjakan adalah “hal hal yang kecil” seperti memperbaiki atap rumah warga? Mengganti lantai kelas yang rusak? Membangun jembatan kecil yang menghubungkan desa? Menghadirkan makanan bergizi setiap hari?
Bagaimana merangkum jutaan perubahan kecil itu dalam satu gambar?
Dua tahun capaian pemerintahan Prabowo memperlihatkan tantangan tersebut.
Foto-foto sebelum dan sesudah bedah rumah menunjukkan perubahan yang sederhana: dinding yang lebih kokoh, lantai yang lebih layak, ruangan yang lebih terang. Rumah-rumah itu tetap rumah sederhana. Tidak menjulang. Tidak menjadi destinasi wisata. Sangat mungkin kita melewatinya tanpa menoleh.
Namun, bagi keluarga yang tinggal di dalamnya, perubahan itu bisa berarti seluruh dunia.
Hujan tidak lagi selalu berarti kecemasan. Anak punya tempat yang lebih nyaman untuk belajar. Orang tua bisa beristirahat dengan lebih tenang. Ada rasa aman, harga diri, dan kebahagiaan ketika membuka pintu rumah sendiri.
Hal serupa berlaku pada sekolah yang diperbaiki. Bagi orang yang melihat fotonya sekilas, itu mungkin hanya ruang kelas yang dicat ulang.
Bagi murid dan guru, itulah tempat mereka menghabiskan berjam-jam setiap hari, tempat masa depan perlahan dibentuk.
Baca Juga
Menko Perekonomian: 2 Tahun Prabowo-Gibran, Makro Ekonomi Kita Kuat
Jembatan desa pun demikian. Ukurannya mungkin tidak seberapa. Tetapi nilainya besar bagi anak yang berangkat sekolah, petani yang membawa hasil panen, atau keluarga yang perlu mencapai fasilitas kesehatan.
Di sinilah mimpi buruk pemoles citra itu bermula: sesuatu yang sangat berarti bagi penerimanya belum tentu terlihat spektakuler bagi penontonnya.
Manfaatnya tersebar. Lokasinya berjauhan. Ceritanya harus dicari satu per satu.
Kamera harus masuk ke kampung, mendengar pengalaman keluarga, mengikuti perjalanan anak sekolah.
Angka besar harus diterjemahkan menjadi pengalaman manusia agar publik memahami artinya.
Arahan Presiden Prabowo di rapat kabinet pertamanya menuntut cara bercerita yang lebih tekun.
Komunikator harus mampu menjelaskan hubungan antara kebijakan negara dan kehidupan sehari-hari.
Pekerjaan ini juga menuntut kejujuran: membedakan target dari hasil, mendengar keluhan, serta mengakui pelayanan yang masih perlu diperbaiki.
Karena foto sebelum dan sesudah renovasi hanyalah awal. Ukuran keberhasilannya adalah apakah rumah itu nyaman dihuni, sekolah itu layak dipakai, dan jembatan itu benar-benar memudahkan hidup.
Itulah pesan terdalam dari arahan Presiden “jangan ada proyek mercusuar”: bangunlah sesuatu yang membuat rakyat merasakan manfaat negara, setiap hari.
Bagi pemoles citra, ini pekerjaan yang sulit. Bagi rakyat kecil yang merasakan hasilnya, justru di situlah kepemimpinan seorang Presiden memperoleh arti.
