Ambulans Satu-satunya Rusak, Biarawati di Naob Mohon Bantuan Presiden Prabowo
Poin Penting
|
KEFAMENANU, Investortrust.id — Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Santa Maria Bunda Pembantu Abadi di Naob, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) Sr. dr. Barbara Wilhelmin Key, PRR, memohon bantuan Presiden Prabowo Subianto untuk memulihkan layanan ambulans rumah sakit tersebut. Satu-satunya ambulans yang selama ini digunakan untuk menjemput dan mengantar pasien rusak berat akibat kecelakaan, sehingga pelayanan bagi pasien kusta dan masyarakat di desa-desa terpencil terganggu.
Barbara mengatakan, ambulans tersebut mengalami kecelakaan pada 27 September lalu saat melayani pasien lanjut usia. Kendaraan itu kini tidak dapat dioperasikan, sementara kebutuhan untuk menjangkau pasien tetap mendesak.
Baca Juga
Kemenkes Minta RS Setop Kejar Setoran, Fokus pada Kesembuhan Pasien
“Kami sangat kewalahan karena mobil tidak beroperasi lagi. Kami berdoa dan berharap bisa ditolong Bapak Presiden,” ujar Barbara di Desa Naob, Kecamatan Noemuti Timur, Kabupaten TTU, Rabu (14/10/2026).
Biarawati kelahiran Lamalera, Pulau Lembata, itu menjelaskan pelayanan rumah sakit menjangkau masyarakat di Kabupaten TTU, Timor Tengah Selatan, Belu, dan Malaka, termasuk kawasan perbatasan Indonesia–Timor Leste. Sebagian pasien tinggal di wilayah yang sulit dijangkau dengan kondisi jalan berbatu, berdebu, dan berlumpur.
Menurut Barbara, keberadaan ambulans sangat penting untuk menghubungkan masyarakat di pelosok dengan pelayanan kesehatan. Selama 29 tahun, rumah sakit milik Kongregasi Putri Reinha Rosari tersebut telah memberikan pelayanan gratis kepada pasien kusta.
“Kondisi jalan di sejumlah desa di wilayah pelayanan kami masih berbatu-batu sehingga ambulans kami perlu ekstra hati-hati. Selama 29 tahun rumah sakit kami sudah memberikan pelayanan secara gratis kepada penderita kusta. Karena itu, saya memberanikan diri meminta tolong Bapak Presiden,” tuturnya.
Dokter lulusan Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta itu mengatakan, sebelum kecelakaan, ambulans tersebut digunakan setiap hari untuk menjemput dan mengantar pasien, khususnya pasien kusta. Kini, kerusakan kendaraan membuat petugas kesulitan merespons permintaan penjemputan dari desa-desa terpencil. “Sampai saat ini bila ada pasien yang harus kami jemput di desa terpencil, tidak bisa kami lakukan,” ujarnya.
Keterbatasan itu juga menimbulkan kekhawatiran ketika masyarakat membutuhkan pertolongan segera. Barbara menggambarkan betapa sulitnya meminta keluarga pasien menunggu saat seorang anak mengalami kejang di lokasi yang jauh dari fasilitas kesehatan. “Padahal setiap detik adalah nyawa,” katanya.
Barbara menuturkan, para petugas rumah sakit selama ini menjalankan pelayanan dengan semangat “debu di kaki, surga di hati”. Jarak yang jauh, medan berat, maupun batas antarkabupaten tidak menyurutkan komitmen mereka untuk mendatangi masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
“Kami sungguh menyadari bahwa kami adalah satu-satunya harapan pasien kusta dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Hari ini, harapan itu yang butuh diselamatkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, biaya perbaikan ambulans sangat besar dan berada di luar kemampuan rumah sakit yang menjalankan pelayanan sosial tersebut. Karena itu, ia berharap bantuan Presiden dapat membuat layanan ambulans kembali beroperasi dan memungkinkan petugas menjangkau pasien seperti sebelumnya.
Baca Juga
Prabowo Targetkan Modernisasi 350 RS dan 10.000 Puskesmas dalam 3 Tahun
Barbara menegaskan, pihaknya tidak meminta gedung baru atau peralatan kesehatan mewah. Kebutuhan mendesak rumah sakit adalah tersedianya kembali ambulans agar pelayanan antar-jemput pasien dapat berjalan normal.
“Kami tetap setia melayani pasien kusta dan masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Kami rindu melayani dengan kasih hingga ke pelosok terpencil sekalipun. Satu-satunya doa dan harapan kami bisa ditolong Bapak Presiden,” tuturnya.
