Prabowo Minta Danantara Buru Manajemen Terbaik Dunia, Ini Profil Pemimpin Baru Garuda Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Presiden Prabowo Subianto meminta Danantara mencari talenta dan manajemen terbaik dari seluruh dunia untuk memimpin badan usaha milik negara (BUMN). Arahan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat profesionalisme dan meningkatkan daya saing perusahaan pelat merah, termasuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.
Garuda Indonesia kini diperkuat enam figur di jajaran pimpinan dan pengawas, yang terdiri dari Direktur Utama Thomas Sugiarto Oentoro serta lima eksekutif dengan pengalaman internasional di industri penerbangan.
Baca Juga
Komposisi tersebut menghadirkan kombinasi pengalaman dalam pengelolaan keuangan, strategi komersial, restrukturisasi maskapai, manajemen risiko, hingga transformasi bisnis. Kompetensi tersebut dinilai relevan bagi Garuda Indonesia yang tengah berupaya memperbaiki kinerja keuangan dan memperkuat operasional.
Thomas Sugiarto Oentoro diangkat sebagai direktur utama Garuda Indonesia pada 8 Oktober 2026 setelah menjabat wakil direktur utama sejak Oktober 2025. Sebelum bergabung dalam jajaran direksi, Thomas pernah menjabat sebagai komisaris independen Garuda Indonesia dan chief risk officer di Indonesia Investment Authority (INA).
Selama menjabat sebagai wakil direktur utama, kinerja Garuda Indonesia Group menunjukkan sejumlah perbaikan. Pendapatan pada semester I 2026 meningkat 16% menjadi US$1,80 miliar, sedangkan rugi bersih menyusut 23,2% menjadi US$113 juta.
Pada Juni 2026, jumlah armada operasional Garuda Indonesia Group mencapai 104 pesawat. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam upaya memperkuat kapasitas layanan penerbangan grup.
Profil 5 Pemimpin Internasional Garuda Indonesia
Selain Thomas, Garuda Indonesia memiliki jajaran pengawas dan direksi dengan rekam jejak internasional yang mencakup sejumlah maskapai terkemuka dunia.
1. Komisaris Independen, Jaan Albrecht
Eksekutif berkewarganegaraan Jerman–Meksiko ini memiliki pengalaman memimpin sejumlah organisasi dan maskapai penerbangan internasional, termasuk Star Alliance, Austrian Airlines, dan Saudia.
Salah satu rekam jejaknya terlihat ketika memimpin Austrian Airlines. Pada 2013, maskapai tersebut kembali membukukan laba operasional sebesar €25,1 juta, berbalik dari rugi operasional yang telah disesuaikan sebesar €6 juta pada 2012. Pada periode yang sama, biaya operasional berhasil ditekan sebesar €92 juta.
Pengalaman tersebut relevan bagi Garuda Indonesia dalam memperkuat efisiensi operasional, meningkatkan produktivitas, dan mengoptimalkan kerja sama internasional.
2. Komisaris Independen, Trey Urbahn
Berasal dari Amerika Serikat, Trey Urbahn merupakan spesialis strategi maskapai dan pengelolaan pendapatan. Ia turut membantu mendirikan Azul, pernah menjabat Chief Revenue Officer JetBlue, serta mengemban sejumlah posisi senior di bidang komersial dan strategi di TAP Air Portugal.
Saat berada dalam jajaran kepemimpinan TAP, maskapai tersebut mengangkut 14,27 juta penumpang pada 2017, meningkat 21,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat keterisian kursi mencapai 82,9%, naik 4,3 poin persentase.
Keahliannya dapat mendukung pengembangan jaringan rute, optimalisasi harga tiket, serta strategi peningkatan pendapatan Garuda Indonesia.
3. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Balagopal Kunduvara
Eksekutif asal Singapura ini memiliki pengalaman sekitar 25 tahun di Singapore Airlines. Salah satu jabatan yang pernah diembannya adalah Divisional Vice President, Financial Services, pada periode 2021–2025.
Selama periode tersebut, Singapore Airlines meraih penghargaan Maskapai Terbaik Dunia versi Skytrax pada 2023 untuk kelima kalinya.
Pada tahun buku 2024/2025, Singapore Airlines Group juga mencatatkan rekor pendapatan sebesar S$19,54 miliar dan laba operasional S$1,71 miliar.
Pengalaman Kunduvara di bidang keuangan dan manajemen risiko menjadi modal penting dalam memperkuat disiplin keuangan, pengelolaan arus kas, dan keberlanjutan bisnis Garuda Indonesia.
4. Direktur Komersial, Alan McIntyre
Alan McIntyre memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di industri penerbangan. Ia pernah menjabat Chief Customer and Commercial Officer di Jetstar serta bekerja di easyJet, Singapore Airlines, dan British Airways.
Bidang keahliannya meliputi pengembangan jaringan rute, penetapan harga tiket, manajemen pendapatan, perencanaan armada, hingga peningkatan pengalaman pelanggan.
Selama masa kerjanya di Jetstar, maskapai tersebut berulang kali meraih penghargaan Maskapai Berbiaya Rendah Terbaik Australia/Pasifik versi Skytrax, termasuk pada 2017, 2018, 2019, dan 2022.
Pengalaman tersebut berpotensi memperkuat strategi komersial Garuda Indonesia, terutama dalam meningkatkan pendapatan, mengoptimalkan kapasitas penerbangan, dan meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
5. Direktur Transformasi, Neil Raymond Mills
Eksekutif asal Inggris ini memiliki pengalaman dalam restrukturisasi dan transformasi sejumlah perusahaan penerbangan. Ia pernah menjabat CEO SpiceJet, CFO flydubai, serta President dan COO Green Africa Airways.
Mills juga pernah menjadi Chief Procurement Officer dan Head of Transformation di Scandinavian Airlines (SAS).
Pada periode 2024–2025, SAS menyelesaikan proses restrukturisasi melalui Chapter 11 pada Agustus 2024. Maskapai tersebut merestrukturisasi utang lebih dari US$2 miliar dan memperoleh investasi sebesar US$1,2 miliar.
Pengalaman Mills menjadi relevan bagi Garuda Indonesia dalam menjalankan agenda transformasi bisnis, memperbaiki struktur biaya, meningkatkan efisiensi pengadaan, serta memperkuat fondasi keuangan jangka panjang.
Tantangan Memulihkan Kinerja Garuda
Masuknya para eksekutif dengan pengalaman internasional tersebut menjadi salah satu modal bagi Garuda Indonesia untuk memperkuat daya saing di industri penerbangan global.
Namun, tantangan perusahaan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pendapatan dan perluasan jaringan penerbangan. Pengelolaan biaya, optimalisasi armada, penguatan likuiditas, serta peningkatan kualitas layanan juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
Baca Juga
Danantara Godok Garuda Indonesia Jadi Holding Maskapai BUMN, AHY Harapkan Ini
Kombinasi kepemimpinan lokal dan pengalaman global diharapkan mampu mempercepat pelaksanaan transformasi Garuda Indonesia. Pada akhirnya, efektivitas manajemen akan diukur melalui perbaikan kinerja keuangan, efisiensi operasional, kualitas layanan, dan kemampuan perusahaan menciptakan nilai secara berkelanjutan.
Arahan Prabowo agar Danantara mencari manajemen terbaik dari seluruh dunia pun menegaskan pentingnya profesionalisme dan kompetensi dalam pengelolaan BUMN. Bagi Garuda Indonesia, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pengalaman internasional para pemimpinnya menjadi kinerja yang lebih sehat dan daya saing yang semakin kuat.
