“Ojo Gumunan, Ojo Kagetan”
“Di tengah derasnya algoritma dan politik perhatian, ojo gumunan dan ojo kagetan mengajak kita berhenti sejenak: tidak cepat kagum, tidak lekas terkejut, memeriksa fakta, mencermati kepentingan, dan menjaga kebebasan berpikir”.
Oleh: Bambang Intojo - Pengamat transformasi sosial politik era digital, alumni Universitas Indonesia
INVESTORTRUST - Purbaya Yudhi Sadewa datang sebagai Menteri Keuangan dengan cara yang tidak biasa. Ia tidak datang dengan bahasa birokrasi yang dingin dan penuh kehati-hatian. Pernyataannya sering lugas, berani, bahkan kadang mengejutkan. Ada yang membuat orang terperangah, ada yang membuat orang tersenyum, ada pula yang membuat orang merasa menemukan pejabat yang berbeda.
Maka Purbaya segera menjadi bahan pemberitaan. Pernyataannya dikutip, dipotong, dibagikan, dikomentari, diperdebatkan. Ia tahu bagaimana berbicara kepada publik dan, selama menjabat, namanya hampir selalu mempunyai tempat dalam percakapan publik. Bahkan setelah dicopot dari kursi Menteri Keuangan, perhatian terhadap dirinya tidak serta-merta hilang.
Dalam masa jabatannya, tentu tidak semua pernyataan, target, dan janji dapat berakhir sebagai kenyataan. Sebagian membutuhkan waktu, sebagian berubah dalam perjalanan, sebagian belum terealisasi. Tetapi perhatian publik terhadap sosoknya tidak ikut hilang.
Di situlah sebenarnya ada sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar soal Purbaya. Mengapa seseorang bisa terus menjadi perhatian meskipun antara ucapan dan kenyataan tidak selalu berjalan seiring? Pertanyaan itu membawa kita kepada sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu algoritma dan politik perhatian.
Kita hidup dalam dunia yang hampir tidak pernah berhenti membuat kita terkejut. Setiap beberapa menit muncul sesuatu yang baru. Pernyataan baru. Video baru. Tuduhan baru. Skandal baru. Tokoh baru. Musuh baru. Pahlawan baru.
Kemarin kita marah kepada seseorang. Hari ini kita mengagumi orang lain. Besok mungkin kita melupakan keduanya karena ada sesuatu yang lebih mengejutkan. Media sosial memang tidak menciptakan semua itu dari nol. Tetapi algoritma membuat semuanya bergerak jauh lebih cepat.
Algoritma membaca perhatian kita. Apa yang membuat kita berhenti menggeser layar, menonton lebih lama, memberi tanda suka, menulis komentar, membagikan, atau kembali lagi, mempunyai peluang untuk terus muncul.
Maka sesuatu yang mengejutkan mempunyai nilai. Sesuatu yang membuat marah mempunyai nilai. Sesuatu yang membuat kagum juga mempunyai nilai.
Yang kontroversial mendapatkan percakapan. Yang menghibur mendapatkan perhatian. Yang membuat orang terbelah bahkan sering mendapatkan perhatian lebih panjang.
Algoritma tidak perlu mengatakan kepada kita apa yang harus dipercayai. Ia cukup membantu menentukan apa yang terus kita lihat.
Di sinilah kita mulai memahami apa yang sebelumnya disebut sebagai rezim algoritma. Kekuasaan tidak selalu bekerja dengan melarang sesuatu. Ia bisa bekerja dengan mengatur visibilitas. Sesuatu yang terus muncul di depan mata terasa penting. Sesuatu yang tidak muncul perlahan-lahan terasa tidak ada.
Dalam dunia seperti ini, perhatian menjadi semacam mata uang. Karena itu, seorang pejabat tidak hanya berhadapan dengan persoalan bagaimana membuat kebijakan. Ia juga berhadapan dengan persoalan bagaimana kebijakan dan dirinya hadir dalam ruang perhatian publik.
Purbaya adalah salah satu contoh menarik. Gaya bicara yang lugas dan pernyataan yang berani membuatnya mudah menjadi bahan berita. Ia bisa mempertahankan keberadaannya dalam percakapan publik.
Tetapi di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Karena perhatian bukanlah bukti kebenaran. Banyak dibicarakan bukan berarti paling penting. Viral bukan berarti paling benar. Pernyataan berani bukan otomatis kebijakan yang benar.
Dan kemampuan mempertahankan perhatian bukan pula bukti bahwa semua yang dikatakan telah menjadi kenyataan. Justru di sinilah penyakit lama manusia bertemu dengan teknologi baru.
Orang Jawa dahulu mempunyai ungkapan: ojo gumunan, ojo kagetan. Jangan mudah terkagum-kagum. Jangan mudah terkaget-kaget.
Nasihat itu terasa sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana untuk zaman yang serba digital. Tetapi justru karena sederhana, ia mungkin masih berguna.
Di ruang digital, ada orang, kelompok, media, buzzer, influencer, dan berbagai akun yang ikut menaikkan atau mempertahankan sebuah isu. Mereka dapat menjadi semacam penjaga isu, meskipun perannya tidak selalu sama dan tidak selalu terkoordinasi.
Tetapi ada satu kemungkinan lain yang juga perlu diperhitungkan. Tidak setiap isu yang menjadi heboh muncul secara alamiah. Sebuah isu bisa saja sengaja diproduksi, diperbesar, atau dipelihara karena perhatian publik yang tersedot ke sana dapat membuat isu lain menjadi kurang terlihat.
Isu yang heboh bisa berfungsi seperti asap. Bukan berarti setiap asap pasti dibuat untuk menutupi sesuatu. Tetapi jika sebuah isu tiba-tiba memenuhi ruang publik, sementara pada saat yang sama terdapat persoalan lain yang lebih krusial, kita patut bertanya:
Apa yang sedang kita lihat, dan apa yang sedang tidak kita lihat lagi?
Pencopotan Purbaya memberi ruang untuk pertanyaan semacam itu. Barangkali ada konflik kebijakan dengan Danantara, misalnya soal rencana penerimaan dividen sekitar Rp120 triliun ke kas negara. Barangkali pula ada persoalan lain di lingkungan Kementerian Keuangan yang belum sepenuhnya terbuka. Ada juga kemungkinan bahwa Purbaya sedang digunakan sebagai test probe atau test the water - untuk menguji reaksi publik terhadap suatu kebijakan atau perubahan tertentu.
Barangkali ada kebenaran lain yang ingin dibuka, tetapi jika dibuka terlalu jauh justru menyentuh kepentingan yang lebih besar. Dan tentu saja masih banyak barangkali yang lain.
Semua itu belum boleh berubah menjadi kesimpulan. Fakta yang sudah diketahui harus dipisahkan dari dugaan dan narasi yang masih perlu dibuktikan. Kita perlu bertanya: apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sudah diketahui, apa yang belum diketahui, dan siapa yang mungkin berkepentingan jika satu penjelasan tertentu dipercaya publik.
Sebab dalam politik perhatian, kita bisa saja sedang melihat sebuah peristiwa. Tetapi bisa juga kita sedang melihat pertunjukan tentang sebuah peristiwa. Keduanya tidak selalu sama.
Karena itu, kewaspadaan tidak sama dengan kecurigaan tanpa batas. Tidak naif, tetapi juga tidak paranoid. Waspada terhadap berbagai skenario justru berarti tidak cepat mempercayai satu skenario.
Setiap kemungkinan harus diuji.
Itulah makna aja kagetan. Jangan karena mendengar satu kabar, kita langsung mempunyai kesimpulan lengkap. Jangan karena melihat sebuah video berdurasi satu menit, kita merasa sudah memahami seluruh persoalan.
Jangan karena sebuah tuduhan menjadi viral, kita langsung mencari siapa yang harus dihukum. Dan jangan pula karena sebuah narasi cocok dengan keyakinan kita, kita berhenti mencari fakta lain.
Sebab dalam ruang digital, kecepatan sering menjadi lawan dari ketelitian.
Yang pertama muncul sering dianggap sebagai yang paling benar. Yang paling keras terdengar sering dianggap sebagai yang paling penting. Yang paling banyak dibagikan sering dianggap sebagai yang paling dipercaya. Padahal ketiganya belum tentu benar.
Demikian pula dengan ojo gumunan. Jangan mudah terkagum-kagum. Kita bisa kagum kepada pejabat karena keberaniannya berbicara. Tetapi keberanian berbicara tidak sama dengan keberhasilan bekerja.
Kita bisa kagum kepada tokoh yang terlihat sederhana. Tetapi penampilan sederhana tidak otomatis berarti bersih. Kita bisa kagum kepada orang yang berbicara dengan istilah ekonomi yang rumit. Tetapi kepandaian menggunakan istilah tidak otomatis menghasilkan kebijakan yang baik.
Kita bisa kagum kepada sebuah program karena skalanya besar. Tetapi besarnya program tidak otomatis menjamin hasilnya. Kita bisa kagum kepada seseorang karena mempunyai jutaan pengikut. Tetapi banyak pengikut tidak sama dengan kebenaran.
Algoritma justru menyukai hal-hal semacam itu. Wajah yang dikenal. Pernyataan yang tajam. Kalimat pendek yang mudah dipotong. Konflik yang mudah dipahami. Tokoh yang mudah dipuja atau dibenci.
Semua itu mudah menjadi bahan engagement. Akibatnya, politik dapat berubah menjadi semacam panggung perhatian. Bukan hanya siapa yang mempunyai gagasan yang diperdebatkan, tetapi siapa yang paling terlihat. Bukan hanya apa yang dikerjakan yang dinilai, tetapi apa yang paling banyak muncul di layar.
Di sinilah kita perlu waspada. Bukan hanya terhadap algoritma, tetapi juga terhadap berbagai pihak yang memahami cara kerja perhatian. Ada pihak yang mungkin berusaha menaikkan sebuah isu, mempertahankannya, atau menggeser perhatian publik dari satu persoalan ke persoalan lain.
Tetapi jangan pula setiap pergeseran perhatian segera dibaca sebagai rekayasa. Kita harus mampu hidup di antara dua kemungkinan: tidak naif, tetapi juga tidak paranoid.
Kita tidak mungkin keluar dari dunia algoritma. Kita membutuhkan media sosial untuk berkomunikasi, mencari informasi, menyampaikan kritik, bahkan menjalankan kehidupan demokratis.
Persoalannya bukan bagaimana melarikan diri dari algoritma. Persoalannya adalah bagaimana tetap menjadi manusia yang mempunyai jarak terhadap algoritma.
Mungkin di sinilah pepatah Jawa lama itu memperoleh makna baru. Ojo kagetan berarti jangan biarkan kejutan mengambil alih penilaian. Ojo gumunan berarti jangan biarkan kekaguman mengambil alih penilaian.
Keduanya bukan ajaran untuk menjadi apatis. Bukan pula ajaran untuk menjadi sinis. Kita tetap boleh terkejut. Kita tetap boleh kagum. Kita tetap boleh marah. Kita tetap boleh mendukung. Tetapi jangan biarkan reaksi pertama menjadi kesimpulan terakhir.
Purbaya mungkin akan menjadi catatan dalam perjalanan pemerintahan ini. Pernyataan- pernyataannya akan tetap diingat, sebagian mungkin terbukti, sebagian mungkin tidak. Kebijakan yang pernah dibuat akan dapat dinilai berdasarkan hasilnya. Dan pencopotannya pun kelak akan lebih mudah dibaca ketika waktu memberi jarak dan fakta semakin lengkap.
Tetapi pelajaran yang lebih besar barangkali bukan tentang Purbaya. Ini tentang kita sendiri. Tentang bagaimana kita hidup dalam dunia yang setiap hari berusaha membuat kita kaget dan kagum.
Hari ini kita diarahkan ke satu isu. Besok ke isu lain. Hari ini seseorang menjadi pusat perhatian. Besok ia menjadi sasaran hujatan. Hari ini sebuah kebijakan dipuji. Besok kebijakan yang sama dilupakan karena muncul isu baru.
Jika kita selalu mengikuti arus itu, kita bukan lagi sekadar pengguna media sosial. Kita menjadi bagian dari arus perhatian yang terus bergerak tanpa sempat bertanya ke mana arahnya.
Karena itu, mungkin salah satu bentuk kemerdekaan manusia di zaman algoritma justru sangat sederhana: kemampuan untuk berhenti sejenak.
Tidak langsung percaya. Tidak langsung kagum. Tidak langsung marah. Tidak langsung takut. Tidak langsung ikut berlari. Ojo gumunan. Ojo kagetan. Sebuah nasihat lama untuk menghadapi dunia baru.
Dan mungkin, di tengah zaman ketika perhatian telah menjadi komoditas, kemampuan untuk tidak segera bereaksi adalah salah satu bentuk kebebasan yang masih bisa kita pertahankan. ***
