Tampil di PBB, Meutya Hafid Suarakan Perlindungan 70 Juta Anak Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Viada Hafid, menyuarakan perlindungan 70 juta anak Indonesia di era kecerdasan buatan (AI). Pesan itu disampaikan dalam forum tingkat tinggi di sela Sidang Umum ke-81 PBB di New York.
Meutya hadir dalam forum Protecting Children's Rights Facing Artificial Intelligence. Forum ini membahas keselamatan dan hak anak di tengah perkembangan AI.
Forum tersebut mempertemukan pemerintah, badan PBB, perusahaan teknologi, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil. Pertemuan dipimpin Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama sejumlah pemimpin negara.
Meutya mengatakan Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam agenda tersebut. Sekitar 70 juta anak Indonesia akan tumbuh dalam ekosistem digital yang semakin dipengaruhi AI.
“Anak-anak kita akan hidup semakin dekat dengan AI. Karena itu, keselamatan dan hak anak harus kita pastikan sejak awal, bukan setelah risikonya terjadi,” ujar Meutya dalam keterangan resmi, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga
Meutya Hafid Bakal Denda 6% untuk Platform 'Nakal' Langgar PP Tunas
Menurut politisi Golkar itu, AI membuka peluang bagi anak untuk belajar dan berkreasi. Namun, teknologi tersebut juga menghadirkan risiko baru yang membutuhkan tanggung jawab bersama.
“Kita tidak bisa menyerahkan keselamatan anak kepada algoritma. Pemerintah, platform teknologi, industri, orang tua, sekolah, dan komunitas internasional harus mengambil tanggung jawab masing-masing,” jelasnya.
Indonesia menyampaikan posisi tersebut sebagai bagian dari Global Coalition for Children’s Rights and Protection in the Age of AI. Koalisi ini melibatkan pemerintah, PBB, perusahaan teknologi, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil.
Koalisi juga meluncurkan roadmap 2026-2027 untuk memperkuat keselamatan dan privasi anak. Agenda lainnya mencakup akuntabilitas, standar pengujian, literasi AI, serta penanganan penyalahgunaan AI untuk kekerasan seksual terhadap anak dan deepfake.
Meutya menilai kerja sama antarnegara penting karena perkembangan AI melintasi batas negara. “Dunia sedang menentukan aturan main AI. Indonesia ingin memastikan suara anak-anak ikut diperhitungkan dalam proses itu,” tutupnya.
