Meutya Hafid Dorong Anak Muda Jadi Pemimpin Digital di Era AI
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Viada Hafid mengajak generasi muda Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi dan pemimpin digital. Menurutnya, perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membuka peluang bagi anak muda untuk menciptakan nilai tambah bagi Indonesia.
Ajakan tersebut disampaikan Meutya dalam Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (30/10/2026). Dia menilai Indonesia perlu meningkatkan peran dari pasar teknologi digital menjadi negara yang mampu menciptakan dan mengendalikan teknologi.
Meutya menyebut nilai ekonomi digital Indonesia saat ini mencapai sekitar US$ 100 miliar, terbesar di ASEAN. Nilai tersebut diproyeksikan tumbuh hingga US$ 360 miliar pada 2030, tetapi pertumbuhan ekonomi digital perlu diikuti peningkatan kemampuan masyarakat dalam menguasai teknologi.
Dalam paparannya, Meutya mengingatkan bahwa akses terhadap teknologi belum tentu membuat masyarakat memiliki kemampuan digital yang memadai. “Terkoneksi secara digital tidak otomatis menjadikan kita berdaya secara digital,” katanya.
Baca Juga
Indonesia Digital MeetUp 2026 Dorong UMKM Jadi Pemain Utama Ekonomi Digital
Untuk menghadapi perkembangan AI, Meutya menekankan pentingnya kepemimpinan digital yang tetap berorientasi pada manusia. Dia juga menyampaikan tiga pesan utama bagi generasi muda, yakni berani bertanya, berani menciptakan, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
Pertama, anak muda perlu memiliki rasa ingin tahu dan kemampuan mempertanyakan cara kerja teknologi, termasuk memahami prinsip, kemampuan, serta keterbatasannya. Kedua, mereka didorong menciptakan solusi berbasis AI dari Indonesia untuk Indonesia, mulai dari membantu guru dan petani hingga meningkatkan efisiensi UMKM serta layanan publik.
Ketiga, Meutya mengingatkan pentingnya tanggung jawab dan etika dalam mengembangkan teknologi. Menurutnya, inovasi tidak cukup hanya dinilai dari kemampuan teknologi tersebut, tetapi juga harus mempertimbangkan manfaat, penerima dampak, serta risiko yang mungkin muncul.
Politisi Partai Golkar itu kemudian mengaitkan peran generasi muda dalam perkembangan teknologi dengan momentum Sumpah Pemuda. “Indonesia membutuhkan digital leadership,” tegasnya.
