Memproteksi Identitas Orang Asli Papua
“Identitas orang asli Papua perlu dijaga dan ditempatkan secara jelas, terutama ketika pemerintah menjalankan kebijakan perlindungan, keberpihakan, pemberdayaan, dan afirmasi yang secara khusus ditujukan kepada orang asli Papua”.
Oleh: Imanuel Gurik - Doktor lulusan Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua
INVESTORTRUST – Papua adalah rumah bagi masyarakat dengan beragam suku, bahasa, budaya, dan asal-usul. Di dalam rumah besar ini terdapat orang asli Papua sebagai masyarakat asli tanah Papua serta saudara-saudara non-orang asli Papua yang telah datang, hidup, bekerja, berkeluarga, dan ikut membangun Papua.
Keberagaman tersebut tidak perlu mengaburkan identitas. Justru identitas yang jelas dapat menjadi dasar untuk membangun persaudaraan yang sehat dan saling menghormati. Karena itu, ada tiga istilah yang perlu ditempatkan secara tepat dalam tulisan ini: orang asli Papua atau OAP, kerabat, dan orang Papua.
Kata yang perlu mendapat perhatian utama dalam sebutan orang asli Papua adalah kata ‘asli’. Kata ini menunjukkan identitas dan asal-usul masyarakat asli Papua. Dalam kerangka Otonomi Khusus (Otsus) Papua, pengertian orang asli Papua juga mempunyai dasar hukum tersendiri.
Karena itu, kata ‘asli’ tidak semata-mata berbicara tentang tempat tinggal seseorang, tetapi berkaitan dengan asal-usul serta pengakuan sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku. Seseorang dapat tinggal 20, 30, bahkan 50 tahun di tanah Papua. Ia dapat bekerja, berkeluarga, mengabdi, dan memberikan kontribusi besar bagi pembangunan Papua.
Semua itu tentu harus dihargai. Namun, lamanya tinggal tidak dengan sendirinya sama dengan asal-usul. Di sinilah pentingnya menjaga makna kata ‘asli’. Orang asli Papua bukan sekadar istilah dalam administrasi pemerintahan. Di dalamnya terdapat sejarah, masyarakat adat, suku, marga, bahasa, budaya, dan hubungan antargenerasi dengan tanah Papua.
Karena itu, identitas orang asli Papua perlu dijaga dan ditempatkan secara jelas, terutama ketika pemerintah menjalankan kebijakan perlindungan, keberpihakan, pemberdayaan, dan afirmasi yang secara khusus ditujukan kepada orang asli Papua.
Memproteksi identitas orang asli Papua bukan berarti menyatakan orang asli Papua lebih tinggi daripada masyarakat lain. Semua manusia mempunyai martabat yang sama. Yang dilindungi adalah kekhususan identitas dan hak yang melekat padanya.
Kerabat sebagai Sebutan Persaudaraan
Lalu bagaimana dengan saudara-saudara non-orang asli Papua? Dalam tulisan ini, penulis menggunakan istilah ‘kerabat’ sebagai sebutan sosial dan persaudaraan bagi masyarakat non-orang asli Papua yang hidup bersama di tanah Papua.
Kerabat adalah saudara-saudara kita yang bukan orang asli Papua, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sosial Papua melalui pekerjaan, keluarga, pelayanan, usaha, pendidikan, maupun berbagai bentuk pengabdian lainnya.
Istilah ‘kerabat’ tidak dimaksudkan sebagai klasifikasi hukum kependudukan. Ini adalah bahasa persaudaraan. Kita menghormati mereka sebagai saudara tanpa harus mengubah asal-usul mereka menjadi orang asli Papua.
Istilah ‘orang Papua’ dapat ditempatkan lebih luas. Dalam kerangka pemikiran tulisan ini, orang Papua adalah ruang kebersamaan yang mencakup orang asli Papua dan kerabat/non-orang asli Papua yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua.
Secara sederhana, orang Papua = orang asli Papua + kerabat atau non-orang asli Papua. Dengan pemahaman ini, ketiga istilah mempunyai tempat yang berbeda tetapi saling menghormati.
Orang asli Papua menunjuk pada identitas asli dan asal-usul. Kerabat menjadi bahasa persaudaraan bagi masyarakat non- orang asli Papua. Sedangkan orang Papua menjadi sebutan sosial yang lebih luas bagi masyarakat yang bersama-sama hidup dan membangun Papua.
Berbeda Identitas, Tetap Bersaudara
Perbedaan orang asli Papua dan non-orang asli Papua tidak seharusnya menjadi alasan untuk menciptakan jarak sosial. Kita dapat mengatakan dengan jelas bahwa seseorang adalah orang asli Papua tanpa merendahkan mereka yang bukan orang asli Papua. Sebaliknya, kita dapat menerima dan menghormati saudara non-orang asli Papua sebagai kerabat tanpa harus mengubah identitas asal-usulnya.
Justru persaudaraan akan menjadi lebih kuat apabila dibangun di atas penghormatan terhadap identitas masing-masing. Kita tidak harus menjadi sama untuk dapat hidup bersama. Orang asli Papua tetap orang asli Papua. Kerabat tetap dihormati dengan asal-usulnya. Keduanya dapat berjalan bersama sebagai bagian dari kehidupan Papua.
Mengapa identitas orang asli Papua perlu diproteksi? Proteksi identitas menjadi penting karena otonomi khusus menghadirkan berbagai kebijakan yang secara khusus memberikan perlindungan, keberpihakan, pemberdayaan, dan ruang afirmasi kepada orang asli Papua.
Karena itu, negara membutuhkan kejelasan mengenai masyarakat yang menjadi sasaran kebijakan tersebut. Pendataan orang asli Papua perlu semakin akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengakuan identitas perlu memperhatikan hukum, masyarakat adat, dan mekanisme yang berlaku.
Tanpa kejelasan identitas, kebijakan afirmasi dapat kehilangan ketepatan sasaran. Jadi, menjaga kata ‘asli’ bukan sekadar persoalan nama. Ia berhubungan dengan siapa yang harus memperoleh perlindungan dan keberpihakan khusus berdasarkan kebijakan otonomi khusus.
Memberikan perhatian khusus kepada orang asli Papua tidak dengan sendirinya berarti menolak atau merendahkan masyarakat non-orang asli Papua. Kebijakan afirmatif pada dasarnya hadir untuk menjawab kondisi dan kebutuhan tertentu dari kelompok yang menjadi sasaran kebijakan. Sementara hak-hak warga negara lainnya tetap harus dihormati berdasarkan ketentuan hukum.
Karena itu, dua prinsip dapat berjalan bersama: orang asli Papua memperoleh perlindungan atas identitas dan hak-hak khususnya, sementara kerabat/non-orang asli Papua tetap dihormati sebagai bagian dari kehidupan bersama di Papua. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Jangan Hilangkan Kata Asli
Generasi muda Papua perlu memahami mengapa kata ‘asli’ terdapat dalam sebutan orang asli Papua. Kata itu membawa sejarah panjang masyarakat Papua. Di dalamnya terdapat suku, marga, bahasa, adat, tanah, nilai kehidupan, dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.
Modernisasi tidak boleh membuat identitas itu hilang. Seorang anak orang asli Papua dapat menjadi dokter, profesor, pengusaha, pejabat, seniman, atlet, atau ahli teknologi kelas dunia. Tetapi pada saat yang sama, ia tetap dapat mengetahui marganya, bahasanya, kampungnya, adatnya, dan sejarah masyarakatnya. Menjadi modern tidak berarti kehilangan akar.
Papua masa depan membutuhkan identitas yang jelas sekaligus persaudaraan yang kuat. Karena itu, kita dapat membangun pemahaman sederhana: ‘asli’ adalah penegasan identitas dan asal-usul dalam sebutan orang asli Papua.
‘Kerabat’ adalah bahasa persaudaraan yang dalam tulisan ini digunakan bagi saudara-saudara non-orang asli Papua. Sedangkan ‘orang Papua’ adalah rumah kebersamaan yang lebih luas: orang asli Papua dan kerabat/non-orang asli Papua yang hidup bersama di tanah Papua. Dengan cara pandang seperti ini, tidak seorang pun harus kehilangan identitas agar dapat diterima.
Orang asli Papua tidak perlu kehilangan kata ‘asli’ untuk membangun persaudaraan. Kerabat tidak perlu menjadi orang asli Papua untuk dihormati dan dicintai sebagai bagian dari kehidupan Papua.
Inilah Papua yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya: Papua yang menjaga akar, menghargai perbedaan, melindungi identitas orang asli Papua, dan merawat persaudaraan dalam satu rumah bersama.***
