Identitas Ganda “Kemelanesiaan- Keindonesiaan” Orang Papua
Poin Penting
|
Oleh Oksianus Bukega
INVESTORTRUST - Dunia kita sekarang dicirikan sebagai “keterhubungan berskala global” (global interconnectedness). Dalam cuaca yang demikian itu, sebagian individu, kelompok masyarakat bahkan negara sedang berusaha merumuskan identitas dirinya (identitas multikulturalisme dan politik identitas). Kenyataan yang tidak dapat di pungkiri adalah: Indonesia sebagai bagian dari jagat global memiliki kebudayaan lokal sendiri yang tidak semestinya lenyap pada arus global itu.
Dalam arus global itu apakah mungkin perjumpaan global-lokal itu menjadi suatu wacana di mana masing-masing bertindak sebagai subjek. Dalam alur argumen ‘merumuskan identitas diri’ inilah penulis hendak membahas identitas ganda orang Papua antara kemelanesiaan dan keindonesiaan dari sudut pandang analisis multikulturalisme.
Apakah identitas ganda orang Papua dibentuk dari dalam (multikultur) atau dari luar (politik identitas)? Mengapa identitas ganda orang Papua perlu dibahas saat di mana setiap individu, kelompok, bahkan negara ada di sepanjang garis ‘liminalitas “melting pot” versus “salad bowl” dan “global village”?
Identitas Multikulturalisme
Sparrow berkisah bahwa “Saya memandang diri saya bukan sebagai satu kesatuan budaya, melainkan sebagai persekutuan dari berbagai entitas budaya yang berbeda. Karena saya telah menghabiskan waktu di berbagai lingkungan budaya, saya telah mengembangkan beberapa identitas budaya yang berbeda dan menyatu sesuai dengan kebutuhan saat itu.” (Sparrow, 2000).
Peningkatan kontak antarbudaya secara global disebabkan oleh faktor-faktor seperti imigrasi, kecepatan perjalanan dan komunikasi, serta kehadiran perusahaan internasional, sulit untuk diabaikan. Tidak diragukan lagi, multikulturalisme dan globalisasi memengaruhi bagaimana orang memandang diri mereka sendiri dan yang lain, dan bagaimana mereka mengatur dunia di sekitar mereka.
Keberadaan dan pentingnya multikulturalisme telah lama diakui dalam psikologi, tetapi fenomena ini baru diteliti secara empiris dalam beberapa dekade terakhir (Nguyen & Matinez, 2019). Identitas multikultural memiliki implikasi tidak hanya dalam psikologi tetapi juga dalam aspek sosial. Mengapa? Jawabannya, isu tentang bagaimana individu mengembangkan rasa keanggotaan kelompok komunitas, nasional, budaya, etnis, politik dan ras menjadi sangat penting dalam situasi benturan budaya, percampuran, dan integrasi.
Kenyataan yang tidak bisa disepelekan dari pembahasan mengenai identitas multikulturalisme ialah bahwa masyarakat dan budaya Indonesia-Papua adalah multikultur (culture diversity). Untuk merespon konsep identitas multikuturalisme, yang mana banyak menyita perhatian global, maka integrasi paham tersebut dipandang penting dan perlu diterjemahkan ke dalam konteks identitas masyarakat dan budaya Indonesia-Papua.
Tidak ada kesepakatan mengenai pengertian dan makna konsep identitas multikulturalisme di antara para ahli. Istilah indentitas multikulturalisme memiliki makna yang berbeda-beda. Karena itu penafsiran dan pemaknaannya sesuai dengan konteks istilah itu diinterpretasikan.
Paham identitas multikulturalisme telah diterima secara luas sebagai satu atau lebih istilah. Paham itu dapat dipahami lebih luas sebagai berikut. Pertama, digunakan sebagai deskripsi demografis Masyarakat. Kedua, sebuah ideologi dari individu atau pemerintah bahwa keragaman etnis, ras, budaya dan agama harus dijunjung tinggi.
Ketiga, kebijakan atau program khusus yang dilakukan oleh pemerintah atau Lembaga. Keempat, teori politik normatif spesifik yang menjabarkan prinsip-prinsip untuk mengatur masyarakat yang beragam. Istilah multikultur mengacu pada kenyataan adanya keanekaragaman kultural; sedangkan istilah multikulturalisme mengacu pada sebuah tanggapan normatif atas fakta itu (Parekh, 2006; Bakry 2021; Molan 2015).
Kita hidup di dunia yang didefinisikan oleh keberagaman budaya, dan dengan demikian pengalaman multikultural telah menjadi komponen rutin kehidupan banyak individu. Kontak dan percampuran budaya yang dihasilkan dari migrasi, kolonisasi, globalisasi ekonomi, kebijakan multikultural, negara multibangsa serta perjalanan cepat dan paparan media menjelaskan mengapa semakin banyak individu menggambarkan diri mereka sebagai bikultural atau multikultural (Sutrisno & Putranto, 2004).
Dalam konteks Indonesia-Papua, menempatkan identitas multikulturalisme segera mengundang tanda tanya (?), tetapi setidaknya mengikuti garis-garis sejarah kebangsaan etnisitas yang berbenturan dengan pendudukan (imperilasime) dan penguasaan (kolonialisme), telah membantu menggambarkan multikultur, multietnis dan politik identitas keindonesiaan dan kepapuaan. Mengikuti garis sejarah demikian membantu kita, sedapat mungkin, memosisikan pula tantangan-tantangan yang menggiringnya.
Baca Juga
Identitas Ganda orang Papua: Kemelanesiaan vs Keindonesiaan
Identitas ganda kemelanesiaan dan keindonesiaan orang Papua dalam konteks multikulturalisme, melalui penelusuran dan perbandingan teks-teks akademis, yang membahas secara langsung terkait identitas multikulturalisme belum banyak mendapat tempat, sementara politik identitas etnik barangkali mudah diakses (Hanita, 2019).
Gerakan minoritas versus mayoritas, hegemoni migrasi, perjuangan untuk mendapatkan pengakuan atas kelompok minoritas, rasisme, gerakan feminisme baru, pengondisian etnogenesis, gerakan pengakuan etnis untuk penentuan nasib sendiri, merupakan beberapa tema umum yang dapat diturunkan dan bisa dikritisi dari garis sejarah pendudukan (imperialisme) dan penjajahan (kolonialisme).
Mengikuti pengakuan umum bahwa multikulturalisme adalah istilah yang longgar dan terbuka untuk ditafsirkan sesuai dengan konteks, maka tema-tema umum yang telah disebutkan akan dipaparkan dalam resonansi pemahaman dan pemaknaan multikulturalisme dan politik identitas secara umum dalam konteks Papua yang membantu membentuk identitas ganda orang Papua.
Gerakan minoritas dan mayoritas di Papua bisa ditelusuri dari dua sisi, sisi internal dan sisi eksternal. Sisi internal berkaitan langsung dengan keberagaman etnis (kultur kepapuaan) dan sisi eksternal berkaitan dengan pendudukan dan penguasaan oleh etnis-etnis lain (kultur keindonesiaan) yang adalah sebagai konsekuensi langsung dari warisan pendudukan dan penguasaan (kolonial).
Gerakan untuk menentukan siapa yang minoritas dan siapa yang mayoritas sudah berlangsung lama dalam internal etnis Papua, hanya saja tak nampak secara keseluruhan. Pemetaan dan penguasaan teritorial; identifikasi, pengelompokan dan pemisahan etnis; persaingan dan perebuatan ruang-ruang hidup (sumber daya: tanah, hutan, laut, udara); pengendalian modal-modal sosial budaya dan ekonomi; merupakan wajah multikulturalisme dan politik identitas sebagai buah dari pendudukan dan kolonisasi.
Program hegemoni migrasi, praktek rasisme internal dan eksternal, gerakan pengakuan minoritas, sistem patriarki yang dipraktekkan secara hirarkis, gerakan etnogenesis yang sedang berlangsung, gerakan penentuan nasib sendiri masyarakat adat adalah wajah multikulturalisme dan politik identitas di Papua. Sekali lagi, perlu ditekankan bahwa situasi yang bisa dipandang ‘oposisi biner’ ini merupakan warisan imperial dan kolonial yang masih berlangsung.
Papua Barat dan anggota lainnya yang mengantungi identitas ‘melanesia’ seperti Kaledonia Baru, Fiji, Kepulauan Solomon, Papua New Guinea, merupakan contoh unik dari hegemoni migrasi, etnogenesis perbatasan, penentuan nasib sendiri, di mana masyarakat adat berjuang untuk mendapatkan identitas dan otonomi di tengah dinamika kolonial yang kompleks.
Jaringan patronase, sengketa tanah, dan kreasi budaya berperan penting dalam membentuk identitas Papua modern, yang menunjukkan bahwa paksaan imperial dan kolonial dapat memupuk identitas baru, kemelanesiaa vs -keindonesiaan, di samping perjuangan teritorial. Sementara segregasi oleh kekuatan tangan besi (militeristik) kolonial mengukuhkan identitas yang berlawanan, upaya asimilasi tahap akhir menantang solidaritas etnis yang sudah mapan. Demikianlah kondisi-kondisi Papua modern yang bisa ditinjau dan digambarkan melalui sudut pandang multikullturalisme dan politik identitas (Resubun, 2004; Lawson, 2013 ; Bukega, 2024).
Baca Juga
Dalam konteks identitas ganda kemelanesiaan versus keindonesiaan, identitas ganda orang Papua mencerminkan kompleksitas yang dihadapi individu-kolektif dalam konteks kemelanesiaan dan keindonesiaan. Dalam analisis multikulturalisme, identitas ini sering kali diinterpretasikan sebagai hasil interaksi antara budaya lokal dan pengaruh yang lebih luas dari identitas nasional Indonesia.
Kedalaman sejarah dan budaya Papua memberikan kontribusi penting terhadap identitas orang Papua, dengan tradisi dan praktik yang kaya yang mencerminkan akar kemelanesian mereka. Namun, integrasi Indonesia yang lebih luas juga mendorong perkembangan identitas ganda ini, di mana orang Papua tidak hanya diidentifikasi berdasarkan etnisitas mereka tetapi juga sebagai bagian dari bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Dengan demikian, interaksi antara kemelanesiaan dan keindonesiaan di Papua mengunjukkan pandangan yang berharga mengenai bagaimana populasi yang beragam dapat beradaptasi dan membentuk identitas dalam kerangka multikulturalisme, sekaligus menghadapi tantangan dalam mempertahankan keunikan budaya orang Papua.
*) Oksianus Bukega, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

