Prof Tjandra: Membangun Jamban Sama Penting dengan Membangun Rumah Sakit
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, membangun jamban sama penting dengan membangun rumah sakit internasional. Pasalnya, menjaga kesehatan dan meningkatkan usia hidup harus dimulai dari hal yang paling dasar, yaitu menjalani perilaku hidup bersih dan sehat.
“Bicara kesehatan, kita tidak hanya bicara rumah sakit, dokter, dan sebagainya. Kesehatan itu adalah yang paling utama membuat orang yang sehat tetap sehat,” kata pengamat kesehatan ini saat dihubungi Investortrust, Jumat (02/02/2024).
Prof Tjandra tidak memungkiri, membangun rumah sakit internasional dan membuat alat canggih memang bermanfaat. Namun, membangun jamban di desa, menyiapkan tempat olahraga bagi masyarakat, serta menyediakan tenaga penyuluh kesehatan gizi itu sama pentingnya dengan membuat alat canggih.
“Jadi saya tidak ingin orang berpikir kalau kesehatan itu harus ada penyakit seperti stunting, kesehatan itu harus ada kapasitas medis yang bagus-bagus. Itu memang salah satu masalah kesehatan, tetapi kesehatan yang paling utama adalah menjaga orang yang sehat tetap sehat. Dan itu dilakukan dengan perilaku hidup bersih dan sehat,” jelas dia.
Survei Penting
Selain itu, kata Tjandra, yang tidak kalah penting adalah harus ada kegiatan survei kesehatan masyarakat. Apalagi, Indonesia merupakan negara besar dengan 17 ribu pulau, di mana gangguan kesehatan bisa terjadi di mana pun di negara ini.
“Harus ada sistem, sehingga kalau ada masalah kesehatan di mana pun, itu bisa terdeteksi dengan segera, kemudian ditangani segera. Untuk itu, tidak perlu rumah sakit yang besar, tidak perlu rumah sakit internasional, tidak perlu alat-alat. Tapi (acapkali) cuma butuh sistem pencatatan dan pelaporan yang baik,” papar Tjandra.
Lebih lanjut, Tjandra juga mengatakan pentingnya memiliki kegiatan promotif dan preventif, di mana setiap orang harus bisa hidup sehat, makanan dan gizinya cukup, serta memiliki lingkungan yang bersih dan sehat. Namun, hal ini masih banyak orang Indonesia tidak bisa melakukannya.
“Sampai saat ini, masih banyak, jutaan orang di Indonesia belum punya jamban. Jadi, buang air besar sembarangan. Padahal, itu sama pentingnya dengan membangun rumah sakit bertingkat yang bertaraf internasional. Kalau jamban saja tidak punya, kemungkinan kondisi kesehatan Indonesia kan belum baik. Itu yang perlu diperbaiki. Belum lagi cerita soal lingkungan yang kumuh di sungai, polusi udara, dan sebagainya,” tutur dia.
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah social determinants of health. Jika pemerintah ingin membangun sebuah kota atau lingkungan yang baru, maka harus dipikirkan juga aspek kesehatannya.
"Aspek kesehatan itu bukan hanya dengan membangun rumah sakit. Tetapi, juga meliputi lingkungan," tandasnya.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 26,27% penduduk Indonesia mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir pada 2023. Rasio tersebut menurun dibandingkan tahun 2022 yang sebesar 29,94%.
Lebih rinci, persentase perempuan yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir sebesar 27,88%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan laki-laki sebanyak 24,66%.
Sementara dari tingkat wilayahnya, persentase masyarakat perdesaan yang memiliki keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir sebesar 26,9%. Persentasenya lebih besar dibandingkan perkotaan yang sebesar 25,81%.
Sedangkan menurut kelompok usia, penduduk yang punya keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir paling tinggi berasal dari rentang umur 60 tahun ke atas, yakni 41,49%. Kemudian, kelompok usia 0-4 tahun dengan keluhan kesehatan selama sebulan terakhir sebesar 37,4%.

