Petrus Tjandra Imbau Mahasiswa Aktif Wujudkan Kedaulatan Pangan
JAKARTA, Investortrust — Masalah pangan akan segera teratasi dan Indonesia akan mencapai kedaulatan pangan jika sumber daya alam dikelola dengan baik. Sumber daya alam mampu mendukung upaya Indonesia mewujudkan kedaulatan pangan asalkan dikelola dengan tepat, antara lain, lewat peningkatan produktivitas produk, hilirisasi, dan industrialisasi. Produksi crude palm oil (CPO) yang saat ini baru sekitar 48 juta ton harus bisa didongkrak ke 100 juta ton per tahun.
“Persoalan yang ada di depan mata perlu segera kita atasi guna mencegah dampak yang lebih kompleks dan buruk,” kata Petrus Tjandra di hadapan mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Rabu (16/08/2023). Pengusaha kelahiran Lampung itu menyebutkan potensi sawit sangat besar. Pohon sawit memberikan manfaat sangat besar, mulai dari batang, dahan, daun, dan tandan.
Petrus Tjandra menjadi narasumber dalam kegiatan Pengenalan Sistem Akademik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (PSAF FMIPA) di Universitas Indonesia dengan mengusung tema "Peran dan Kontribusi FMIPA UI dalam Pengembangan Riset dan Peningkatan Nilai Sawit Indonesia".
“Besok (Kamis, 17 Agustus 2023 — Red) kita merayakan kemerdekaan RI ke-78. Tapi, hingga saat ini kita belum berdaulat sepenuhnya atas sandang pangan dan papan. Pakaian yang kita pakai berasal dari kapas yang 100 persen impor. Tergantung impor terus mau sampai kapan?” tuturnya.
Bersama mahasiwa FMIPA UI — Petrus Tjandra (ketiga dari kiri) berfoto bersama Prof Bambang Brodjonegoro, Menristek RI 2019 (keempat dari kiri). Yang lainnya, dari kiri ke kanan, Vyan T Afkar (Moderator), Dr Dewi Susiloningtyas, MSi (Manajer Kemahasiswaan FMIPA UI), Prof Budiawan (Wakil Dekan I FMIPA UI), Prof Muhamad Dimyati (Guru Besar FMIPA UI), dan Dr Tito Latif Indra (Wakil Dekan II FMIPA UI). Foto Istimewa.
Petrus menjelaskan, kapas berisi selulosa yang diolah menjadi fiber. “Nah, dalam satu hektare sawit itu bisa menghasilkan 31 ton biomassa dengan 34% di antaranya adalah selulosa. Jika dibuat fiber gampang sekali. Karenanya kita tantang UI berpartisipasi dalam riset yang berguna untuk kepentingan bangsa ini,” tutur alumnus Universitas Indonesia ini.
Ia juga memaparkan bagaimana kondisi dinamis bangsa untuk menanggulangi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan masa depan. Upaya untuk mengatasi tantangan harus dimulai dari mahasiswa dan kampus harus menjadi kawah candradimuka yang menghasilkan peneliti atau periset andal.
Menyambut peringatan kemerdekaan RI ke-78, Petrus mengakui bahwa bangsa Indonesia belum sepenuhnya berdaulat di bidang sandang, pangan, dan papan. Kondisi ini mestinya menjadi perhatian dan tantangan para peneliti.
CPO
Buah tandan segar sawit tidak hanya untuk minyak goreng, bahan pangan, dan kosmetik, tapi juga untuk biodiesel dan bensin. “Terdapat dua potensi energi yang dapat dihasilkan dari kelapa sawit, yaitu biodiesel dan bensin sawit,” jelas Petrus.
Menko Marvest RI Luhut Panjaitan, kata Petrus, pernah menjelaskan di Davos Swiss beberapa waktu lalu bahwa Indonesia bisa menghentikan penggunaan bahan bakar fosil dan beralih ke BBM sawit di tahun 2045. Target ini perlu disambut dengan sungguh-sungguh meski hingga hari ini belum mendapatkan respons yang berarti dari pemerintah maupun pengusaha, bahkan sebaliknya, mendapat kecaman dunia terkait isu deforestasi dan peningkatan emisi gas rumah kaca.
Dari sisi potensi dan prospek, demikian Petrus, target yang dilontarkan Luhut sangat mungkin bisa diwujudkan. “Pada tahun 2045 akan ada produksi 100 juta ton minyak mentah sawit. Dan nilainya US$ 100 miliar dan 30% untuk bahan pangan. Dengan demikian, di 2045, kita punya renewable energy. Tapi, tidak semua pihak setuju dengan pemaparan Pak Luhut,” jelas Petrus.
Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan, produksi CPO Indonesia tahun 2022 sebesar 46,7 juta ton. Dari jumlah itu, ekspor 26,3 juta ton atau 56,3%. Devisa hasil ekspor CPO tahun 2022 sebesar US$ 39,3 miliar atau setara Rp 558 triliun. Nilai ekspor CPO bisa didongkrak ke US$ 100 miliar per tahun.
Menurut Petrus, yang lebih menantang adalah bagaimana cara mewujudkan program 100 juta ton CPO di tahun 2045 tanpa deforestasi dan peningkatan efek emisi gas rumah kaca. Setiap satu hektare lahan bisa menghasilkan 30 hingga 36 ton tandan buah segar jika dirawat dengan sempurna. “Tapi, yang ada sekarang 9 ton saja,” kata CEO Agro Investama Group ini.
Produktivitas rendah terjadi lantaran penanaman, perawatan, dan panen tidak sesuai dengan prosedur yang baik. Bibit, misalnya, harus diambil dari pembuat benih agar menghasilkan sawit yang baik. “Kerap kali, saat terdesak kebutuhan, buah yang masih mentah dipotong. Padahal, kadar minyaknya baru 14%. Malah ada petani yang takut memetik saat matang karena khawatir busuk,” katanya.
Jika perawatan hingga panen dilakukan dengan sempurna, maka dalam satu hektare sawit bisa menghasilkan 25 ton tandan buah segar. Jika saat ini terdapat 16 juta hektare lahan sawit, sawit yang dihabiskan bakal mencapai 100 juta ton dengan asumsi setiap 25 ton tandan buah segar mengandung kadar minyak 25%. “Bukan tidak mungkin apa yang disampaikan Pak Luhut bisa terwujud,” kata pria yang mendaftar sebagai senator DPD RI Lampung ini.
Lantas bagaimana agar sawit yang dipetik benar-benar matang dan tidak ada kekhawatiran menjadi busuk ketika dikirim dari petani ke pabrik? Solusi yang ditawarkan Petrus, pabrik harus lebih dekat dengan kebun. Dengan demikian, jarak bisa dipangkas dan waktu bisa lebih efisien.
Dari sisi teknologi, pabrik juga harus meninggalkan sistem boiler dan beralih ke metode dry heated atau pengeringan dengan udara panas. Penggunaan metode ini mampu menekan emisi gas rumah kaca. Petrus mengajak para peneliti untuk mengambil peran dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan sandang.
“Saya yakin, para peneliti muda dari Indonesia termasuk dari Universitas Indonesia ini dapat mendukung target produksi 100 juta ton minyak sawit di tahun Indonesia Emas 2045, tanpa deforestasi dan tambahan emisi gas rumah kaca," tutupnya.
Pada kesempatan yang sama, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro juga memaparkan bahwa peneliti harus proaktif mempublikasikan dan mempresentasikan hasil penelitiannya kepada pengusaha dan pemerintah supaya dapat diterapkan.
"Peneliti harus akrab dengan dunia swasta seperti Petrus Tjandra ini,” kata Bambang seraya menunjukkan Petrus Tjandra. Petrus adalah pelaku, sedang mahasiwa masih sibuk di laboratorium dan hasil belum pernah sampai ke industri.
Alexandra Samantha, mahasiswa FMIPA UI, mengatakan Petrus Tjandra yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia penelitian, menyampaikan pesannya mengenai kemajuan kelapa sawit Indonesia baik secara nasional maupun internasional untuk mencapai target pemerintah mencapai produksi 100 juta ton CPO pada tahun 2045 tanpa merusak hutan dan mengurangi emisi karbon.

