Telkom Perkuat Kolaborasi Pentahelix, Dorong Kedaulatan Digital Pendidikan Tinggi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) memperkuat kolaborasi pentahelix untuk mendorong transformasi digital pendidikan tinggi sekaligus mempersiapkan kedaulatan digital Indonesia menghadapi perkembangan teknologi, termasuk era komputasi kuantum.
Komitmen tersebut disampaikan Telkom dalam Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 bertajuk “Empowering PDDikti through IDREN Collaboration: Advancing IT Governance, Cyber Resilience, and Operational Excellence” yang digelar di Aula Barat, Institut Teknologi Bandung, pada 31 Agustus–1 September 2026.
Forum yang mempertemukan rektor, Chief Information Officer (CIO), hingga Head of IT dari berbagai universitas yang tergabung dalam Indonesia Research and Education Network (IDREN), serta pimpinan universitas internasional tersebut menjadi momentum untuk memperkuat integrasi dan kualitas pelaporan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).
Baca Juga
Telkom Hadirkan EduMind Wellbeing dan AI Camp di Makassar, Libatkan 350 Peserta
Agenda ini diselenggarakan Pusat Data dan Teknologi Informasi (PUSDATIN) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama IDREN dengan pembahasan yang mencakup tata kelola teknologi informasi, konektivitas jaringan riset dan pendidikan, ketahanan siber, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara aman dan bertanggung jawab.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan, transformasi digital pendidikan tinggi membutuhkan kolaborasi seluruh ekosistem untuk menghadapi era digital dan komputasi kuantum.
“Teknologinya sudah tersedia. Kesenjangan digital dapat diatasi secara bersama-sama sehingga jauh lebih murah, lebih cepat, dan lebih aman dibandingkan dilakukan sendiri-sendiri. Tidak ada satu institusi pun yang mampu membangunnya sendirian. Di sinilah kolaborasi pentahelix menjadi kunci,” ujar Seno.
Menurut Seno, kesiapan digital perguruan tinggi semakin penting karena turut menentukan akreditasi, daya serap lulusan, hingga reputasi riset. Namun, kesiapan antarkampus masih belum merata.
Baca Juga
Telkom Solution Perkuat Bisnis B2B ICT, Bidik Pasar Asia Pasifik
Sebagian perguruan tinggi telah memiliki konektivitas IDREN dan sistem terintegrasi. Di sisi lain, masih terdapat kampus yang rentan karena bergantung pada koneksi tunggal tanpa cadangan serta memiliki sistem pelaporan yang belum terstandardisasi.
Melalui IDREN sebagai landasan bersama, satu model data nasional, serta Security Operations Center (SOC) dan Computer Security Incident Response Team (CSIRT), kesenjangan tersebut dinilai dapat ditutup secara kolektif dengan biaya yang lebih efisien.
Siapkan Infrastruktur
Selain transformasi digital, forum tersebut juga menyoroti kesiapan perguruan tinggi menghadapi ancaman keamanan siber di era kuantum. Salah satu ancaman yang menjadi perhatian adalah “harvest now, decrypt later”, yakni kondisi ketika pihak yang tidak bertanggung jawab mengumpulkan data terenkripsi saat ini untuk kemudian membongkarnya ketika teknologi komputer kuantum tersedia.
Ancaman tersebut dapat menyasar data identitas mahasiswa, kekayaan intelektual hasil riset, hingga data pendidikan nasional. Seno menegaskan, langkah awal menghadapi ancaman tersebut bukan membangun laboratorium kuantum, melainkan melakukan inventarisasi kriptografi dan menyusun rencana migrasi Post-Quantum Cryptography (PQC) yang tuntas sebelum 2030.
Telkom menyiapkan arsitektur jaringan quantum-safe yang memadukan PQC, Quantum Key Distribution (QKD), dan Zero-Trust Architecture pada lapisan jaringan akses, jaringan inti, hingga pusat data. Telkom juga telah aktif dalam satuan tugas migrasi PQC yang dipimpin Badan Siber dan Sandi Negara.
Baca Juga
TelkomGroup Tuntaskan Pemulihan 100% Layanan Telekomunikasi Pascagempa NTT
Kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, universitas, industri, komunitas, dan media diarahkan untuk mendukung agenda nasional Asta Cita dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam kerangka tersebut, terdapat tiga fondasi yang perlu dipersiapkan bersama, yakni tata kelola, tulang punggung digital, dan talenta digital. Telkom memosisikan diri dalam tiga peran utama untuk memperkuat fondasi tersebut.
Pertama, Telkom berperan sebagai tulang punggung konektivitas dan infrastruktur digital nasional. Melalui InfraNexia, Telkom menyediakan 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang akan dikelola InfraNexia. Peran tersebut juga diperkuat melalui AI-ready data center dan cloud NeutraDC, platform LLM dan AI nasional, serta SOC nasional.
Baca Juga
IHSG Ditutup Melemah 0,47% Akibat Profit Taking, Sebaliknya 6 Saham Dipimpin SMMT Cetak ARA
Kedua, Telkom mengorkestrasi inovasi kampus melalui joint lab, testbed, hingga jalur komersialisasi hasil riset menuju pasar. Serta ketiga, Telkom membuka akses terhadap teknologi mutakhir melalui kemitraan strategis global, skema investasi bersama berbasis konsumsi atau OPEX, serta penjajakan pendanaan riset.
Sejumlah implementasi juga telah dilakukan, termasuk penyediaan produk AI bagi sejumlah universitas, pra-peluncuran platform kedaulatan yang memadukan AI, komputasi awan, dan keamanan siber, serta program Digistar Class untuk mempercepat transformasi digital pendidikan tinggi melalui penyiapan talenta digital Indonesia.
Melalui partisipasinya dalam Indonesia Higher Education CIO Forum 2026, Telkom mengajak perguruan tinggi mengambil tiga langkah bersama. Pertama, menyelaraskan tata kelola dengan menunjuk penanggung jawab di tingkat institusi. Kedua, mendorong kolaborasi inovasi melalui joint lab bersama Telkom. Ketiga, memperkuat keamanan aset digital melalui inventarisasi kriptografi.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya Telkom memperkuat fondasi digital pendidikan tinggi sekaligus mendorong terwujudnya Indonesia yang berdaulat, aman, dan cerdas secara digital.
