Dari Sukarno ke Pavarotti, Dirgayuza: Indonesia Butuh Lebih Banyak ‘John Coast’
JAKARTA, investortrust.id – Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia ternyata memiliki mata rantai sejarah yang tak terduga hingga ke panggung opera dunia. Di antara mata rantai itu terdapat John Coast, seorang warga Inggris yang membantu Republik Indonesia memperjuangkan pengakuan internasional dan kelak menjadi impresario yang menangani sejumlah seniman dunia, termasuk tenor legendaris Italia Luciano Pavarotti.
Asisten Khusus Presiden RI Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan, dalam catatannya bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/08/2026), mengangkat kisah Coast untuk menunjukkan perjuangan sebuah bangsa tidak hanya berlangsung di medan perang dan meja perundingan. Kemampuan menceritakan Indonesia kepada dunia juga menjadi bagian penting dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
“Setiap kali Luciano Pavarotti mengakhiri Nessun Dorma dengan pekikan ‘Vincerò!’—aku akan menang—ketahuilah bahwa orang yang menemukannya juga pernah bantu kemerdekaan Indonesia didengar dan diakui dunia,” tulis Dirgayuza.
Baca Juga
Momen Prabowo Cium Sang Merah Putih saat Pimpin Upacara HUT RI di Istana
Orang yang dimaksud adalah John Coast, warga Inggris yang kemudian dikenal sebagai press attaché Presiden pertama RI Sukarno. Sejumlah sumber sejarah menghubungkan Coast dengan Republik Indonesia pada masa revolusi. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) antara lain menyimpan surat Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim tertanggal 30 Agustus 1948 mengenai tugas Coast sebagai penasihat Jawatan Luar Negeri. Arsip Belanda juga mencatat surat Sutan Sjahrir mengenai pengangkatan Coast sebagai penasihat Republik dengan kedudukan di Bangkok pada Juli 1948.
Menurut Dirgayuza, posisi Coast menarik dilihat dari perspektif komunikasi pemerintahan modern. Struktur pemerintahan saat itu tentu berbeda dan Coast bukan seorang menteri. Namun, tugas yang dijalankannya mempunyai kemiripan dengan fungsi komunikasi pemerintah saat ini, yaitu memastikan posisi dan kepentingan Indonesia dapat dipahami masyarakat internasional.
Peran tersebut sangat penting karena Proklamasi 17 Agustus 1945 belum serta-merta membuat kedaulatan Indonesia diterima dunia. Belanda berusaha membangun persepsi internasional bahwa Indonesia masih merupakan bagian dari wilayah kolonialnya. Karena itu, perjuangan Republik berlangsung dalam beberapa medan sekaligus, yakni pertempuran bersenjata, diplomasi, komunikasi internasional, dan perebutan opini publik dunia.
Coast berada dalam salah satu medan tersebut. Sebelum membantu Indonesia, ia merupakan perwira Inggris yang pernah menjadi tawanan perang Jepang dan dipaksa bekerja di jalur kereta Thailand-Burma. Setelah Perang Dunia II, Coast bekerja di bagian pers Kementerian Luar Negeri Inggris di Bangkok sebelum meninggalkan pekerjaannya dan terlibat dalam perjuangan Republik Indonesia. Memoarnya menggambarkan keterlibatannya mulai dari membantu komunikasi Republik, penyiaran, menembus blokade, hingga memperjuangkan posisi Indonesia kepada pers dan kalangan politik di luar negeri.
Dokumen sejarah memperkuat gambaran bahwa Coast bukan sekadar simpatisan asing. Arsip mengenai 1948 mencatat laporan Coast tentang pembentukan Indonesia Office di Bangkok. Haji Agus Salim juga menyebut Coast telah diangkat menjadi penasihat Jawatan Luar Negeri dan mempunyai tugas yang berkaitan dengan berbagai perwakilan Republik di luar negeri.
Dirgayuza menuturkan, perjuangan Coast kemudian mencapai salah satu momentum penting ketika Konferensi Meja Bundar (KMB) berlangsung di Den Haag pada 1949. Coast berada dekat dengan delegasi Indonesia yang dipimpin Mohammad Hatta dan terlibat dalam hubungan dengan pers. Sumber sejarah Bank Indonesia yang membahas KMB bahkan mengutip catatan Coast mengenai kondisi Hatta selama perundingan yang melelahkan di Den Haag.
KMB menjadi salah satu titik menentukan perjalanan diplomasi Indonesia. Perundingan tersebut berujung pada penyerahan kedaulatan oleh Belanda pada 27 Desember 1949. Dalam pandangan Dirgayuza, pekerjaan komunikasi seperti yang dilakukan Coast ikut penting karena Indonesia perlu meyakinkan masyarakat internasional bahwa Republik bukan sekadar gerakan separatis di sebuah koloni, melainkan sebuah bangsa yang telah menyatakan kemerdekaan dan mempertahankannya.
Kisah Coast tidak berhenti setelah revolusi. Ia kemudian menetap di Bali dan, dengan dukungan Presiden Sukarno, membawa kelompok seniman Bali dari Peliatan melakukan pertunjukan di luar negeri. Tur Dancers of Bali pada awal 1950-an membawa gamelan dan tari Bali ke panggung Eropa dan Amerika Serikat. Dengan demikian, peran Coast bergeser dari membantu memperkenalkan perjuangan politik Indonesia menjadi memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.
Dari sinilah muncul hubungan sejarah yang menarik antara Sukarno, Indonesia, Coast, dan Pavarotti. Setelah kembali ke London, Coast membangun karier sebagai impresario internasional. Ia menangani sejumlah seniman besar dunia, termasuk José Carreras, Jon Vickers, Mario Lanza, hingga Luciano Pavarotti. Sumber mengenai perjalanan Coast menyebut ia menemukan Pavarotti ketika tenor muda Italia itu belum dikenal luas, dalam sebuah kompetisi vokal di Modena.
Pavarotti kemudian menjelma menjadi salah satu tenor paling terkenal dalam sejarah opera modern. Salah satu penampilannya yang paling ikonik adalah aria Nessun Dorma dari opera Turandot karya Giacomo Puccini, yang mencapai klimaks dengan seruan “Vincerò!”—“Aku akan menang”.
Bagi Dirgayuza, mata rantai sejarah itu mengandung pesan yang tetap relevan bagi Indonesia 81 tahun setelah Proklamasi. Tantangan komunikasi Indonesia memang telah berubah.
Pada masa revolusi, Republik membutuhkan dunia untuk mengakui bahwa Indonesia telah merdeka. Kini, tantangannya adalah membuat dunia memahami siapa Indonesia, apa yang telah dicapai, dan ke mana bangsa ini hendak bergerak.
“Jika kita tidak menceritakan Indonesia, orang lain akan menceritakannya dari sudut pandang mereka,” kata Dirgayuza.
Menurut dia, Indonesia tentu belum sempurna dan masih mempunyai banyak persoalan yang harus diperbaiki. Namun, kekurangan tersebut tidak berarti berbagai pencapaian, kekuatan, dan nilai positif Indonesia tidak perlu dikomunikasikan kepada masyarakat internasional.
Indonesia, kata Dirgayuza, merupakan rumah bagi lebih dari 290 juta manusia dengan ratusan suku, bahasa, tradisi, dan latar belakang yang mampu hidup bersama sebagai satu bangsa. Indonesia juga tidak mempunyai ambisi menguasai bangsa lain dan memilih bekerja sama dengan berbagai negara untuk mendorong kemajuan dan perdamaian.
Karena itu, menurut Dirgayuza, Indonesia membutuhkan lebih banyak figur seperti John Coast dalam konteks zaman sekarang—orang-orang yang memahami Indonesia sekaligus mempunyai kemampuan membawa cerita Indonesia melintasi batas negara.
“Kita membutuhkan lebih banyak ‘John Coast’ masa kini: orang-orang yang mampu membawa kemajuan, kebudayaan, dan kebaikan Indonesia menembus batas dunia,” tulis Dirgayuza.
Baca Juga
Penuh Khidmat, Prabowo Pimpin Upacara Detik-Detik Proklamasi di Istana Merdeka
Kisah Coast pada akhirnya memperlihatkan bahwa diplomasi sebuah negara tidak selalu dilakukan oleh diplomat formal. Senjata diplomasi dapat berupa berita, jaringan internasional, seni, musik, kebudayaan, hingga kemampuan membangun narasi tentang sebuah bangsa.
Dari pekik “Merdeka!” pada 1945 hingga “Vincerò!” yang kelak menggema dari panggung Pavarotti, terselip perjalanan seorang Inggris yang pernah memilih berdiri bersama Republik ketika Indonesia masih berjuang agar suaranya didengar dunia.

