Anggaran BAKTI Rp 7,8 Triliun Terus Turun, 'Tongkat Estafet' Dialihkan ke Swasta
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) membutuhkan anggaran sekitar Rp 7,8 triliun per tahun untuk menjaga layanan infrastruktur telekomunikasi existing. Namun akan tersebut diproyeksikan terus turun seiring strategi exit dan masuknya operator swasta ke wilayah yang sebelumnya mendapat intervensi pemerintah.
Direktur Utama BAKTI Kemenkomdigi, Fadhilah Mathar mengatakan, Rp 7,8 triliun merupakan baseline kebutuhan untuk mempertahankan layanan yang sudah berjalan. Dana tersebut mencakup kebutuhan operasional dan pemeliharaan berbagai infrastruktur telekomunikasi BAKTI.
“Baseline-nya sekitar Rp 7,8 triliun per tahun. Tapi ini juga udah sangat menurun. Jadi semakin lama kami melakukan efisiensi dan evaluasi. Kita memastikan bahwa pemanfaatan investasi publik ini, APBN ini betul-betul bisa kita kelola dengan baik," kata wanita yang akrab disapa Indah itu di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Penurunan anggaran itu terjadi karena sebagian wilayah mulai masuk tahap exit. Saat operator komersial sudah mampu masuk dan melayani suatu wilayah, intervensi pemerintah dapat dikurangi sehingga beban pembiayaan BAKTI ikut turun.
Baca Juga
Bakti Bangun 31.000 Titik Internet, Fokus Perkuat Layanan Publik di Wilayah 3T
“Selalu turun. Ada yang exit, ada yang efisiensi anggaran. Jadi kita negosiasi ulang. Misalnya karena sudah balik modal penyediaannya, berarti kan harganya di tahun ke-2 atau di tahun ke-3 harus lebih turun,” jelas Indah.
BAKTI mulai menyiapkan mekanisme exit sejak 2024 dengan menawarkan sejumlah infrastruktur kepada operator, vendor, tower provider, atau mitra lainnya. Langkah ini ditujukan agar infrastruktur yang sudah matang dapat dikelola secara lebih mandiri tanpa terus bergantung pada pembiayaan pemerintah.
Sekadar informasi, di tahun 2026 BAKTI tak lagi mengalokasikan pembangunan BTS baru dan memilih fokus pada operasional serta pemeliharaan jaringan existing. Saat ini terdapat sekitar 6.747 BTS BAKTI yang terutama melayani wilayah 3T dan daerah yang belum menjadi prioritas jaringan komersial.
Melalui strategi tersebut, BAKTI berharap dapat mengubah pola intervensi dari pembangunan permanen menjadi pemicu masuknya investasi komersial.

