Terungkap, Penulis Paper MBG untuk Nobel yang Catut Nama Prabowo Bukan Dosen
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengungkap temuan awal terkait makalah ilmiah atau paper yang mengusulkan program makan bergizi gratis (MBG) sebagai kandidat Nobel Perdamaian 2026. Paper yang diunggah ke platform Social Science Research Network (SSRN) tersebut menjadi sorotan lantaran mencatut nama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pihak lain
Tim investigasi yang dibentuk Mendiktisaintek Brian Yuliarto telah telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mengumpulkan informasi dan dokumen, serta meminta klarifikasi dari pihak-pihak yang terkait. Berdasarkan proses investigasi sejauh ini, tim tersebut menemukan para pihak yang dicatut namanya tidak mengetahui, tidak pernah diminta persetujuan, dan tidak terlibat dalam proses penyusunan maupun pengunggahan paper tersebut. .
Baca Juga
Prabowo Tinjau Berbagai Produk Inovasi BRIN, Ada Teknologi Nuklir hingga MBG
Temuan tersebut diperkuat berdasarkan informasi dari kampus penulis utama berasal yang menyebut penulis utama berinisial DD telah membuat pernyataan dan menyampaikan permohonan maaf terkait peristiwa tersebut. Tak hanya itu, tim Kemendiktisaintek menemukan DD sebagai penulis utama paper tersebut belum menyandang gelar guru besar dan bukan dosen perguruan tinggi.
"Berdasarkan hasil penelusuran sementara, DD belum menyandang jabatan akademik guru besar dan tidak terafiliasi sebagai dosen pada perguruan tinggi," tulis Kemendiktisaintek dalam keterangannya yang dikutip Jumat (7/8/2026).
Tak hanya itu, berdasarkan informasi yang diperoleh tim Kemendiktisaintek, DD baru menjalani sidang promosi doktor beberapa waktu yang lalu.
Dalam kesempatan ini, Kemendiktisaintek juga menjelaskan mengenai platform SSRN. Menurut Kemendiktisaintek, SSRN bukanlah lembaga yang berwenang dalam proses Nobel Perdamaian. SRRN merupakan sebuah repositori atau platform publikasi preprint tempat peneliti membagikan naskah ilmiah.
"Oleh karena itu, keberadaan suatu paper di SSRN tidak berarti isi maupun klaim yang dimuat di dalamnya telah diverifikasi atau diakui oleh Komite Nobel," katanya.
Selain itu, pencantuman nama seseorang dalam sebuah paper di SSRN tidak serta-merta menunjukkan yang bersangkutan telah mengetahui atau memberikan persetujuan sebagai penulis. Informasi mengenai penulis diunggah oleh pihak yang mengirimkan naskah.
"Apabila terdapat nama yang dicantumkan tanpa persetujuan, hal tersebut merupakan persoalan etika publikasi ilmiah yang perlu diklarifikasi dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku," katanya.
Demikian juga dengan penggunaan istilah nomination atau nominasi dalam judul sebuah paper tidak dapat diartikan sebagai adanya nominasi resmi Nobel. Proses nominasi Nobel memiliki mekanisme tersendiri yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang, sementara identitas para nominator maupun nominasi yang diajukan dijaga kerahasiaannya oleh Komite Nobel selama 50 tahun. D
"Dengan demikian, keberadaan paper di SSRN tidak dapat dijadikan bukti bahwa seseorang telah memperoleh nominasi resmi Nobel," katanya.
Baca Juga
Bos Bulog Tegaskan MBG Gunakan Beras Premium, Bukan Beras Subsidi
Meski demikian, Kemendiktisaintek menegaskan investigasi mengenai paper yang mengusulkan MBG mendapat Nobel Perdamaian ini masih terus berlangsung. Tim akan bekerja secara objektif, profesional, dan berbasis fakta untuk memastikan seluruh fakta terungkap secara utuh.
" Apabila ditemukan pelanggaran etika akademik maupun ketentuan lain yang berlaku, Kementerian akan mengambil langkah sesuai kewenangan dan peraturan yang berlaku. Hasil investigasi akan disampaikan kepada publik setelah seluruh proses pendalaman dan klarifikasi selesai dilakukan," katanya.

