Selamat Jalan, Pak Rachmat Gobel!
Poin Penting
|
“Tidak ada seorang pun yang tahu apakah ia masih akan menyaksikan matahari terbit esok pagi. Namun, setiap orang dapat memilih bagaimana ia dikenang ketika matahari itu akhirnya terbit tanpa dirinya. Rachmat Gobel memilih meninggalkan warisan, bukan sekadar kenangan.”
JAKARTA, Investortrust.id — Apakah besok pagi kita masih hidup? Tidak seorang pun mengetahui, apakah ia masih akan hidup esok pagi. Kita dapat merencanakan, bekerja, dan berusaha sebaik mungkin, tetapi hidup pada akhirnya bukan sepenuhnya berada dalam kendali kita. Hidup adalah anugerah, dan Tuhanlah Sang Pemberi sekaligus Pemilik kehidupan.
“Maut datang seperti pencuri pada waktu malam”, kata orang bijak. Maknanya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengingatkan agar manusia selalu hidup dalam kesiapsiagaan, berjaga-jaga, dan setia melakukan yang benar. Kematian bisa datang kapan saja, tanpa pemberitahuan.
Pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Apakah besok pagi kita masih hidup?” melainkan, “Jika malam ini adalah malam terakhir kita, sudahkah kita hidup dengan benar, mengasihi sesama, mengampuni, dan berdamai dengan Tuhan?”
Ada pepatah, “Hiduplah setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirmu, tetapi bekerjalah seolah-olah engkau masih akan hidup seratus tahun.” Kalimat itu mengajarkan keseimbangan: tetap merencanakan masa depan dengan penuh tanggung jawab, tetapi jangan pernah menunda berbuat baik, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, atau menyatakan kasih kepada orang-orang yang kita cintai.
Kita memang tidak memegang hari esok, melainkan hari ini. Dan hari ini adalah kesempatan yang Tuhan percayakan kepada kita untuk hidup dengan iman, harapan, dan kasih. Sebab masa depan ada di tangan Tuhan, tetapi kesetiaan kita kepada-Nya diwujudkan dalam pilihan-pilihan yang kita buat hari ini.
Ketika kabar duka itu tersiar pada Jumat (10/07/2026) pagi, tak seorang sahabat dan kenalannya yang percaya. Karena hingga Kamis (09/07/2026), ia masih tampak sehat dan bugar. Ia masih berkantor hingga malam dan sempat olahraga. Tiba di rumah kediamannya sekitar pukul 23.00 WIB. Istri dan anak-anaknya melihat semua keadaan berjalan seperti biasa. Setelah membersihkan badan dan bercakap-cakap dengan keluarga, ia beristirahat.
Jelang pukul 03.00 WIB, waktu rutin ia salat Tahajud, keluarga melihat kondisinya tidak lagi normal. Rachmat Gobel pun dilarikan ke rumah sakit terdekat, Brawijaya Hospital, Jl Saharjo. Rumah kediaman Rachmat di Jl Supomo 55A. Kedua ruas jalan ini bersambung. Dari arah Manggarai menuju Pancoran, kita terlebih dahulu melewati Jl Saharjo dan jelang Pancoran berubah menjadi Jl Supomo. Tidak lama di rumah sakit, dokter mengatakan, secara klinis, Rachmat sudah tiada. Ia pergi dengan tenang di tengah orang-orang yang dicintainya tanpa meninggalkan pesan.
Baca Juga
Sebelum Meninggal, Rachmat Gobel Sempat Sumbang Rp1 Miliar untuk Gedung Syarikat Islam
"Tidak, tidak ada sakit, hanya memang mungkin ini waktunya," kata Mohammad Arif Rachmat Gobel seusai pemakaman Rachmat Gobel di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (10/07/2026). Putra Rachmat Gobel itu menjelaskan, ayahnya tidak memiliki riwayat penyakit sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Tidak ada satu pun pihak keluarga yang mengetahui atau pun menduga bahwa ayahnya pergi begitu cepat di usia 64 tahun.
"Alhamdulillah almarhum kembali dengan keadaan yang paling ideal, tanpa sakit, tanpa apa," tutur putra tunggal Rachmat Gobel. Rachmat meninggalkan seorang istri, Retno Damayanti dan dua orang anak, yaitu Nurfitria Sekarwillis Kusumawardhani dan Mohammad Arif Rachmat Gobel.
Arif mengenang ayahnya sebagai sosok panutan yang menjadi mentor utama di dalam keluarga besar mereka. "Beliau bukan hanya ayah, tetapi juga guru, dan mentor bagi kami semua. Kami sangat kehilangan," ungkap
Sudah Dipersiapkan
Ketika sejumlah pemred media massa diundang ke Osaka dan Tokyo, April 2025, Arif, sapaan akrab Mohammad Arif Rachmat Gobel, ikut dalam rombongan. Ia bersama Heru Santoso, Direktur Panasonic Gobel Indonesia, sibuk melayani perjalanan dan penginapan kami, termasuk berbagai pertemuan. Ia dididik ayahnya untuk melayani. Pemimpin adalah pelayan.
Saya masih ingat, pada acara makan malam bersama Toshihiro Nikai, politisi senior Jepang dari Liberal Democratic Party (LDP) di Restoran Sushizanmai, Tokyo, Jumat (18/04/2025), Arif hadir melayani kami. Malam itu, malam istimewa. Hari itu, Arif berulang tahun ke-30 dan Toshihiro menyampaikan sebuah petuah penting tentang pentingnya tidak membicarakan keburukan orang lain.
Membicarakan keburukan orang lain, kata politisi berusia 87 tahun itu, merusak reputasi orang yang dibicarakan, apalagi yang disampaikan tidak sepenuhnya benar atau tanpa konteks. Sebagai politisi, Toshihiro mungkin berpikir, membicarakan keburukan orang lain berpotensi merusak hubungan dan keharmonisan. Lingkungan menjadi tidak sehat dan penuh kecurigaan. Dalam jangka panjang, membicarakan keburukan orang lain akan menciptakan budaya saling menjatuhkan, bukan saling mendukung. Suatu saat bisa berbalik, kita pun bisa jadi bahan omongan orang lain. Suasana seperti ini tidak bagus untuk membangun organisasi politik yang solid.
Jamuan makan malam itu menjadi sebuah pertemuan istimewa karena ikut hadir pada peristiwa itu adalah pemilik Sushizanmai Kiyoshi Kimura, anggota DPR RI sekaligus ketua Persahabatan Indonesia-Jepang dan Chairman and shareholders Panasonic Gobel Group Rachmat Gobel, serta para petinggi korporasi, di antaranya Head of Overseas Industrial Park Business Unit Shigeo Fukuda, Head of Overseas Real Estate Business Unit Ryuhei Ohno, Team Leader of Overseas Real Estate Business Unit (Indonesia, Vietnam, Philippines etc) Hiroshi Ninomiya, Marketing Manager of Diverse Urban Development Dept PT Sumitomo Indonesia Ryoichi Muranishi, President Director and Group CEO Gobel Group Hiramsyah S. Thaib, Vice President Panasonic Gobel Indonesia Heru Santoso, dan Director PT Gobel International Mohammad Arif Rachmat Gobel.
Malam itu sungguh special. Selain tempat makan adalah restoran Sushizanmai pusat, Kiyoshi Kimura, pendiri dan pemilik, ikut dalam jamuan makan malam. Tampak ketiga tokoh malam itu —Toshihiro, Kimura, dan Rachmat Gobel— sudah sangat akrab. Kimura pernah ke Gorontalo, September 2022, menghadiri Festival Kuliner Ikan Tuna. Si Raja Tuna itu membawa serta lima chef dan sejumlah ahli pemotong tuna dari Jepang. Dijuluki “Raja Tuna” karena Kimura sering memenangkan lelang tuna sirip biru (bluefin tuna) pada awal tahun di pasar ikan Tokyo.
Sushizanmai masuk kategori restoran elite karena sashimi yang disajikan tidak hanya diperoleh dari pasar, melainkan diperoleh langsung dari laut lewat perusahaan tangkap milik perusahaan Kimura. Tidak semua tuna boleh masuk restoran Sushizanmai, melainkan hanya dari laut tertentu. Untuk mengetahui ikan tuna yang berkualitas, Kimura cukup menjilat air laut yang menjadi habitat tuna. Ia sempat menjilat air laut di Gorontalo dan disimpulkan bahwa tuna di perairan Gorontalo tidak cocok masuk restorannya. Tuna kelas satu, demikian Kimura, ada di perairan Harafuru, bagian timur Maluku dan Papua.
Baca Juga
Tokoh Industri Elektronik Tanah Air Rachmat Gobel Dimakamkan di TMP Kalibata
Diam-diam, Arif sudah menjalin hubungan dengan manajemen Sushizanmai, perusahaan milik Kiyoshi Kimura. Ia mengajak Sushizanmai membuka restoran di Indonesia. “Persentasi sepenuhnya dilakukan Arif. Pak Rachmat tidak ikut,” kata Heru.
Inilah salah satu cara Rachmat Gobel mendidik putranya. Selain belajar teknis bisnis industri elektronik yang menjadi bidang usaha utama Panasonic Gobel Indonesia, Arif diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mempelajari budaya dan politik Jepang. Setiap pertemuan penting dengan pebisnis dan politisi Jepang, Arif dilibatkan.
Rachmat cukup dekat dengan Yasuo Fukuda, Perdana Menteri Jepang ke-91 pada 2007–2008. Klan Fukuda adalah salah satu dinasti politik paling berpengaruh dalam sejarah modern Jepang. Berasal dari Prefektur Gunma, keluarga ini telah memainkan peran penting dalam perjalanan politik Negeri Sakura selama beberapa dekade, terutama melalui Partai Demokrat Liberal (Liberal Democratic Party/LDP). Pengaruh klan ini tidak hanya ditandai oleh keberhasilan melahirkan dua perdana menteri, tetapi juga kesinambungan kepemimpinan lintas generasi yang terus mewarnai panggung politik nasional.
Tokoh paling berpengaruh dari dinasti ini adalah Takeo Fukuda, Perdana Menteri Jepang ke-67 yang menjabat pada 1976–1978, ayah Yasuo Fukuda. Namanya sangat dikenal di Asia Tenggara berkat Doktrin Fukuda yang diumumkan pada 1977. Doktrin tersebut menjadi fondasi kebijakan luar negeri Jepang terhadap ASEAN dengan menekankan hubungan yang setara, saling percaya, serta kerja sama yang damai dan berkelanjutan. Kebijakan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam mempererat hubungan Jepang dengan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Warisan politik Takeo Fukuda kemudian diteruskan oleh putra sulungnya, Yasuo Fukuda. Selama menjadi PM Jepang, ia mengedepankan diplomasi yang moderat, memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga seperti Tiongkok, serta menjaga stabilitas peran Jepang di kawasan Asia.
Tradisi kepemimpinan keluarga Fukuda berlanjut kepada generasi ketiga melalui Tatsuo Fukuda, putra Yasuo sekaligus cucu Takeo Fukuda. Sebagai politisi LDP, Tatsuo menjabat sebagai anggota House of Representatives di Parlemen Jepang dan pernah dipercaya sebagai Ketua Dewan Umum (General Council) LDP. Kehadirannya menunjukkan bahwa klan Fukuda tetap menjadi salah satu kekuatan politik yang diperhitungkan di Jepang, dengan pengaruh yang terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada kunjungan ke Jepang April 2025, kami juga diajak Rachmat Gobel bertemu Tatsuo Fukuda.
Arif merupakan generasi ketiga penerus Gobel Group, salah satu kelompok usaha nasional yang telah berdiri lebih dari 70 tahun. Konglomerasi ini memiliki portofolio bisnis yang beragam, mencakup sektor manufaktur, infrastruktur, logistik, properti, perdagangan, jasa, serta berbagai bidang usaha strategis lainnya. Sejak awal berdirinya, Gobel Group dikenal memiliki hubungan kemitraan yang kuat dan berkelanjutan dengan pengusaha dan politisi Jepang, terutama melalui kerja sama puluhan tahun dengan Panasonic Corporation, di samping kolaborasi dengan berbagai mitra global lainnya.
Baca Juga
Kenang Rachmat Gobel, Airlangga: Indonesia Kehilangan Pilar Industri Elektronik
Arif mengaku didik dengan keras oleh sang ayah sebagaimana ayahnya dididik dengan sangat disiplin oleh kakeknya, H. Thayeb Mohammad Gobel, pendiri Gobel Group, 1954. Dengan semangat membangun industri nasional, pada 1957, Gobel mendirikan usaha radio transistor di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Radio produksinya dikenal dengan merek Transistor dan Tjawang.
Sebelum ayahnya wafat, Arif dipercayakan sebagai Direktur di Gobel Group, perusahaan induk, sekaligus memegang posisi strategis di sejumlah anak perusahaan utama, termasuk PT Panasonic Gobel Indonesia dan Gotrans Logistics International. Ia berfokus pada percepatan pertumbuhan bisnis, penguatan kualitas sumber daya manusia, serta memimpin transformasi digital di seluruh lini usaha Grup guna meningkatkan daya saing di era ekonomi digital.
Di bawah kepemimpinan Arif, Gobel Group terus memperkuat posisinya sebagai mitra terpercaya yang menjembatani teknologi, investasi, dan inovasi global dengan kebutuhan pembangunan Indonesia. Ia juga mendorong perusahaan untuk terus beradaptasi terhadap perubahan lanskap bisnis melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan efisiensi operasional, serta pengembangan model bisnis yang berorientasi pada masa depan.
Berbekal pengalaman internasional yang diperoleh melalui pendidikan di Australia dan Jepang, Arif menghadirkan perspektif global yang dipadukan dengan pendekatan kepemimpinan yang praktis. Ia dikenal memiliki perhatian besar terhadap inovasi, keunggulan operasional (operational excellence), pengembangan talenta, serta pembangunan perusahaan yang tangguh dan siap menghadapi tantangan masa depan. Ia berkomitmen melanjutkan warisan nilai-nilai Gobel Group sembari membawa perusahaan memasuki era transformasi digital dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Pesan Konosuke
Bagi Rachmat Gobel, Panasonic bukan sekadar merek elektronik global. Di balik nama itu tersimpan sejarah panjang tentang kerja keras, kesetiaan terhadap mitra, pembangunan manusia, dan keyakinan bahwa perusahaan harus memberikan manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat.
PT Panasonic Gobel Indonesia merupakan penerus kerja sama yang dirintis ayahnya, H. Thayeb Mohammad Gobel, bersama pendiri Matsushita Electric, Konosuke Matsushita. Kemitraan itu mempertemukan filosofi bisnis Jepang dengan semangat industrialisasi Indonesia dan bertahan melintasi generasi hingga saat ini.
Rachmat masih mengenang pertemuannya dengan Konosuke ketika ia berusia 26 tahun. Maestro manajemen Jepang yang kerap dijuluki “dewa manajemen” itu menghadiahkan kepadanya sebuah tulisan berjudul Sikap Seorang Anak Muda.
Dalam tulisan tersebut, Konosuke berpesan agar Rachmat berjiwa kesatria, bekerja keras, menjunjung disiplin, serta menghormati kerja sama dan kemitraan. Pesan itu kemudian menjadi salah satu pegangan Rachmat dalam meneruskan hubungan bisnis keluarga Gobel dengan Matsushita di Indonesia.
Konosuke juga menyampaikan dua nilai budaya Jepang yang sangat membekas dalam diri Rachmat, yakni sunao dan kokoro. Sunao berarti ketulusan, keikhlasan, dan keterbukaan hati. Sunao mengajarkan seseorang untuk melihat orang lain dan berbagai persoalan tanpa prasangka, menerima kenyataan sebagaimana adanya, serta membangun hubungan berdasarkan kepercayaan. Dalam dunia perusahaan, sunao berarti bekerja tanpa pamrih sempit, tidak terjebak pada kepentingan pribadi, dan menempatkan kemajuan perusahaan serta kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan bersama.
Baca Juga
Surya Paloh Berduka atas Kepulangan Mendadak Rachmat Gobel: Saya Kehilangan Seorang Adik
Adapun kokoro berarti hati. Nilai ini menekankan pentingnya bekerja dengan sepenuh hati, penuh tanggung jawab, dan memiliki rasa memiliki terhadap perusahaan. Seorang karyawan tidak cukup hanya menjalankan tugas secara profesional. Ia juga harus memiliki semangat sebagai entrepreneur, terus mencari peluang, melakukan perbaikan, dan menciptakan inovasi.
Bagi Rachmat, sunao dan kokoro bukan sekadar istilah budaya Jepang. Keduanya merupakan fondasi hubungan manusia, perusahaan, dan masyarakat. Kepercayaan tidak lahir hanya dari kontrak bisnis, melainkan dari ketulusan, komitmen, transparansi, dan kesediaan untuk saling menghargai.
Konosuke juga selalu mengingatkan pentingnya mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang telah memberikan kebaikan. Ucapan terima kasih yang disampaikan dengan tulus, menurutnya, mampu memperkuat hubungan antara pemimpin dan karyawan, antara perusahaan dan mitra usaha, serta antara produsen dan konsumen.
Perusahaan Elektronik Dunia
Perjalanan Matsushita bermula pada 1918. Konosuke Matsushita mendirikan sebuah usaha kecil yang memproduksi perlengkapan listrik, terutama stop kontak dan soket lampu. Pada masa awal, perusahaan itu hanya dijalankan bersama anggota keluarga dan beberapa pekerja.
Konosuke memulai usaha dalam keadaan serba terbatas. Ia bukan lulusan perguruan tinggi, bahkan tidak menyelesaikan pendidikan dasar secara penuh. Namun, ia memiliki kepekaan yang kuat terhadap kebutuhan masyarakat dan keyakinan bahwa barang-barang listrik harus diproduksi dengan kualitas baik dan harga terjangkau.
Dari sebuah bengkel kecil, Matsushita Electric berkembang menjadi produsen berbagai peralatan listrik dan elektronik. Produk-produknya kemudian mencakup lampu, radio, baterai, peralatan rumah tangga, televisi, pendingin udara, kulkas, mesin cuci, serta berbagai perangkat elektronik lainnya.
Dalam perkembangannya, Matsushita menggunakan merek National untuk banyak produk yang dipasarkan di Jepang dan sejumlah negara Asia. Nama National kemudian melekat kuat di benak konsumen sebagai simbol produk elektronik rumah tangga yang tahan lama, praktis, dan dapat dipercaya.
Sementara itu, nama Panasonic pada awalnya lebih banyak digunakan untuk produk yang dipasarkan secara internasional. Kata Panasonic dipilih untuk mencerminkan produk suara dan elektronik yang dapat diterima secara luas di berbagai negara.
Dalam perjalanan berikutnya, merek National dan Panasonic sering digunakan secara berdampingan, sehingga lahirlah sebutan National Panasonic. Di banyak negara Asia, termasuk Indonesia, nama National Panasonic menjadi sangat populer. Televisi, radio, kipas angin, kulkas, mesin cuci, dan berbagai peralatan rumah tangga dengan merek tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama puluhan tahun.
Matsushita Electric kemudian berkembang menjadi salah satu perusahaan elektronik terbesar di dunia. Filosofi pendirinya tetap menjadi pegangan perusahaan, meskipun manajemen berganti dan kepemilikan saham keluarga pendiri semakin berkurang.
Konosuke meyakini bahwa perusahaan bukan sekadar milik pemegang saham. Perusahaan adalah institusi publik yang keberadaannya bergantung pada penerimaan masyarakat. Karena itu, perusahaan harus menciptakan produk yang berguna, berkualitas, tahan lama, dan dapat dibeli sebanyak mungkin orang.
Pada 1932, ketika kondisi ekonomi dunia memburuk dan perusahaan menghadapi tekanan besar, Konosuke menyampaikan pidato penting kepada seluruh karyawan. Ia menegaskan bahwa perusahaan harus menjadi pelopor perubahan melalui kerja keras dan inovasi.
Menurut Konosuke, bisnis memiliki misi suci, yaitu membantu menghapus kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Karena itu, perusahaan harus mampu memproduksi barang dalam jumlah besar, berkualitas tinggi, dan berharga terjangkau.
Baca Juga
Filosofi Air Konosuke
Konosuke memandang air sebagai gambaran ideal tentang manfaat sebuah produk. Air tersedia melimpah, mudah diperoleh, dan dapat dinikmati semua orang dengan harga murah. Ia ingin agar barang-barang kebutuhan masyarakat juga tersedia seperti air: berlimpah, berkualitas, dan terjangkau.
Tujuan produksi massal bukan semata-mata memperbesar penjualan. Produksi dalam jumlah besar harus membuat harga lebih murah sehingga produk dapat menjangkau masyarakat luas. Dengan cara itulah perusahaan ikut meningkatkan kualitas hidup manusia.
Namun, harga murah tidak berarti mengorbankan kualitas. Produk harus tahan lama dan benar-benar mencerminkan nilai uang yang dibayar konsumen. Perusahaan tidak boleh mengambil keuntungan dengan merugikan masyarakat.
Konosuke bahkan menekankan bahwa kebahagiaan terbesar perusahaan adalah ketika produknya diterima dan dipercaya masyarakat. Keuntungan merupakan hasil dari keberhasilan memberikan manfaat, bukan tujuan yang berdiri sendiri.
Filosofi air itu pula yang kemudian menemukan titik temu dengan filosofi bisnis H Thayeb Mohammad Gobel di Indonesia. Thayeb Gobel merintis bisnis elektronik dengan semangat membangun industri nasional. Berawal dari usaha radio transistor di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Gobel kemudian memproduksi televisi atas permintaan Bung Karno untuk keperluan Asian Games IV tahun 1962.
Pilihan untuk memproduksi radio bukan semata-mata didorong oleh pertimbangan bisnis. Thayeb Gobel ingin menyediakan radio murah agar masyarakat Indonesia dapat memperoleh informasi, mengikuti perkembangan nasional, dan mendengarkan pesan-pesan pembangunan pemerintah.
Pada masa itu, industri elektronik Indonesia masih sangat terbatas. Sebagian besar produk elektronik berasal dari impor, sedangkan kemampuan teknologi dan manufaktur domestik masih dalam tahap awal.
Thayeb Gobel menyadari bahwa membangun industri elektronik nasional membutuhkan mitra yang memiliki teknologi, pengalaman produksi, disiplin manajemen, dan jaringan internasional. Pilihan kemudian jatuh kepada Matsushita Electric.
Pada 27 Juli 1960, Thayeb Mohammad Gobel menjalin kerja sama dengan Konosuke Matsushita. Kerja sama itu menjadi awal hubungan panjang antara keluarga Gobel dan Matsushita.
Kemitraan tersebut bukan sekadar transaksi lisensi atau pembelian teknologi. Keduanya membangun hubungan berdasarkan kesamaan pandangan mengenai fungsi perusahaan. Konosuke ingin produk elektronik tersedia melimpah seperti air, sedangkan Thayeb Gobel ingin industrinya tumbuh seperti pohon pisang.
Filosofi Pisang Gobel
Lahir di Gorontalo, 12 September 1930, meninggal di Jakarta, 21 Juli 1984 pada usia 54. Ia dikenal luas sebagai pelopor industri elektronik di Indonesia. Titik balik dalam kehidupan Pengusaha Gobel terjadi pada tahun 1957 ketika dia menerima beasiswa Colombo Plan untuk belajar di Jepang. Selama periode ini, ia berhasil bertemu dengan Bapak Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. (sekarang Panasonic Corporation).
Menjelang tahun 1980 Gobel merumuskan filosofi pohon pisang sebagai filosofi bisnis, karena pengorbanan dan manfaatnya bagi makhluk hidup, khususnya kehidupan manusia. Pohon pisang merupakan lambang yang paling tepat untuk menggambarkan peran sebuah perusahaan.
Pohon pisang dapat tumbuh dengan mudah di berbagai tempat. Dari satu pohon akan tumbuh tunas-tunas baru yang kemudian berkembang menjadi rumpun. Filosofi itu mencerminkan keinginan Thayeb Gobel agar industri elektronik yang dirintisnya tidak hanya berdiri di satu tempat, tetapi tumbuh, berkembang, dan melahirkan kegiatan ekonomi baru di berbagai wilayah Indonesia.
Pisang juga hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Buahnya dikonsumsi, daunnya digunakan untuk berbagai keperluan, batang dan bagian lainnya pun memberi manfaat. Demikian pula perusahaan, menurut pandangan Thayeb Gobel, harus memberikan manfaat bagi pekerja, pemasok, distributor, konsumen, dan masyarakat di sekitarnya.
Kesamaan filosofi air dan pisang menjadi salah satu dasar kuat hubungan Gobel dan Matsushita. Air mengajarkan kelimpahan dan keterjangkauan, sedangkan pisang mengajarkan pertumbuhan, penyebaran manfaat, dan regenerasi. Dua pengusaha memiliki filosofi masing-masing yang saling melengkapi dan menjadi dasar kerjasama yang langgeng.
Pada tahun 1981, Kaisar Jepang menganugerahi Gobel Bintang Third Class Order of the Sacred Heritage (Kun Santo Zuikoscho) kepada Thayeb Gobel atas jasanya dalam mempererat hubungan kedua negara. Ia tidak hanya menjalin hubungan dengan pengusaha, melainkan juga dengan politisi Jepang. Rute ini diikuti Rachmat Gobel dan kini oleh Arif Gobel.
Televisi untuk Asian Games
Kerja sama Gobel dan Matsushita segera menghasilkan tonggak penting bagi industri elektronik Indonesia. Dengan dukungan teknis Matsushita Electric, PT Transistor Radio Manufacturing Indonesia pada 1962 memproduksi sekitar 10.000 unit televisi hitam-putih.
Produksi televisi itu dilakukan agar masyarakat Indonesia dapat menyaksikan Asian Games 1962 yang diselenggarakan di Jakarta. Peristiwa tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah industri televisi nasional.
Salah satu unit televisi hasil produksi itu diserahkan kepada Ibu Fatmawati Soekarno. Kehadiran televisi buatan dalam negeri pada masa tersebut bukan hanya pencapaian bisnis, melainkan juga simbol kemampuan industri Indonesia untuk belajar, menyerap teknologi, dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Baca Juga
Tujuh Dekade Menjaga Akar, Jejak Gobel di Nadi Industrialisasi Indonesia
Merek National kemudian semakin dikenal luas di Indonesia. Produk-produk National memasuki rumah-rumah masyarakat dan menjadi bagian dari pertumbuhan kelas menengah Indonesia.
Radio, televisi, kipas angin, baterai, kulkas, mesin cuci, pendingin udara, serta berbagai perangkat rumah tangga bermerek National dikenal karena daya tahannya. Dalam perkembangannya, nama National Panasonic juga menjadi sangat kuat di pasar Indonesia.
Lahirnya PT Panasonic Gobel Indonesia
Setelah sekitar satu dekade bekerja sama, hubungan Gobel dan Matsushita ditingkatkan menjadi perusahaan patungan. Pada 27 Juli 1970, kedua pihak mendirikan PT National Gobel.
Pembentukan perusahaan patungan tersebut menandai tahap baru dalam hubungan kedua kelompok usaha. Kerja sama tidak lagi terbatas pada bantuan teknis dan produksi, tetapi berkembang menjadi kemitraan modal, manajemen, teknologi, pemasaran, dan pengembangan sumber daya manusia.
PT National Gobel kemudian menjadi salah satu pelopor industri elektronik di Indonesia. Perusahaan ini memproduksi dan memasarkan berbagai barang elektronik kebutuhan rumah tangga.
Merek National tumbuh menjadi salah satu merek elektronik paling dikenal masyarakat Indonesia. Dalam banyak keluarga, produk National bahkan digunakan selama bertahun-tahun dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Kemitraan itu mampu bertahan karena kedua pihak memegang prinsip eksklusivitas, manfaat bersama, dan kepercayaan timbal balik. Sejak awal, Thayeb Gobel meminta agar Matsushita tidak bermitra dengan pihak lain di Indonesia. Sebaliknya, keluarga Gobel juga berkomitmen menjadikan Matsushita sebagai mitra utama.
Rachmat Gobel menilai hubungan panjang tersebut dapat bertahan karena didukung oleh mutual benefit dan mutual trust. Kedua pihak sama-sama memperoleh manfaat, tetapi pada saat yang sama juga menjaga transparansi, kesetiaan, dan komitmen terhadap pengembangan industri Indonesia.
Seiring perubahan strategi merek global, Matsushita mulai mengonsolidasikan berbagai mereknya di bawah nama Panasonic. Nama Panasonic semakin kuat digunakan untuk pasar internasional, sementara penggunaan merek National secara bertahap dikurangi.
Pada 2004, PT National Gobel berganti nama menjadi PT Panasonic Gobel Indonesia. Perubahan nama itu mencerminkan integrasi dengan identitas global Panasonic, tetapi tidak menghapus akar sejarah kemitraan Gobel dan Matsushita.
Nama boleh berubah, tetapi fondasi kerja sama tetap sama: kepercayaan, transfer teknologi, pembangunan manusia, inovasi, dan komitmen memberikan manfaat kepada masyarakat.
Panasonic Gobel Indonesia kemudian berkembang dengan memproduksi dan memasarkan berbagai perangkat elektronik, antara lain radio, kamera, pendingin udara, kulkas, mesin cuci, baterai, peralatan listrik, dan berbagai produk rumah tangga.
Dalam perjalanan panjangnya, perusahaan juga membangun jaringan pemasok, distributor, agen penjualan, pusat layanan, dan tenaga kerja lokal. Dengan demikian, kehadiran Panasonic Gobel tidak hanya menciptakan produk, tetapi juga membangun ekosistem industri elektronik nasional.
Baca Juga
Peringati HUT ke-70, Gobel Group Siap Kolaborasi Bangun Pariwisata Gorontalo
Kerja sama tersebut menjadi salah satu contoh perusahaan patungan Indonesia-Jepang yang mampu bertahan lintas generasi. Hubungan yang dimulai oleh Thayeb Gobel dan Konosuke Matsushita diteruskan oleh generasi berikutnya, termasuk Rachmat Gobel.
Warisan Dua Pendiri
Rachmat Gobel, putra sulung Thayeb Mohammad Gobel, tidak hanya mewarisi jabatan dan perusahaan. Ia juga mewarisi tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai yang telah menyatukan kedua keluarga dan kedua kelompok usaha.
Pesan Konosuke tentang jiwa kesatria, kerja keras, disiplin, kerja sama, dan kemitraan menjadi pedoman penting bagi Rachmat. Demikian pula ajaran sunao dan kokoro yang menekankan ketulusan, keterbukaan, tanggung jawab, dan kerja sepenuh hati.
Bagi Rachmat, perusahaan harus mampu memadukan profesionalisme dengan jiwa kewirausahaan. Karyawan tidak boleh hanya menunggu perintah, tetapi harus merasa memiliki perusahaan, memahami kebutuhan masyarakat, dan terus mencari ruang untuk berinovasi.
Ia juga melihat bahwa keberhasilan hubungan Gobel dan Panasonic tidak dapat dipisahkan dari kesetiaan kedua pihak terhadap komitmen awal. Hubungan itu tidak dibangun semata-mata berdasarkan angka penjualan, tetapi melalui proses panjang saling belajar, saling menghargai, dan saling percaya.
Konosuke Matsushita membawa filosofi air: produk harus tersedia luas, berkualitas, dan terjangkau. Thayeb Mohammad Gobel membawa filosofi pisang: usaha harus terus bertumbuh, melahirkan tunas-tunas baru, dan memberikan manfaat di mana pun berada.
Di antara air dan pisang itulah Rachmat Gobel meneruskan perjalanan Panasonic Gobel Indonesia. Air harus terus mengalir agar memberi kehidupan. Pohon pisang harus terus menumbuhkan tunas agar manfaatnya tidak berhenti pada satu generasi. Sedangkan sunao dan kokoro menjaga agar seluruh perjalanan itu tetap dijalankan dengan ketulusan dan sepenuh hati.
Sosok Rachmat Gobel
Rachmat Gobel merupakan salah satu tokoh yang berhasil memadukan dunia industri, politik, dan diplomasi ekonomi dalam perjalanan hidupnya. Pengusaha sekaligus politikus itu wafat pada 10 Juli 2026 dalam usia 64 tahun saat masih mengemban amanah sebagai Anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Fraksi Partai NasDem mewakili Daerah Pemilihan Gorontalo. Di parlemen, ia dipercaya sebagai Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai NasDem di Komisi VI serta anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP).
Lahir dari keluarga pendiri Gobel Group, Rachmat adalah putra kelima sekaligus putra laki-laki pertama pasangan H. Thayeb Mohammad Gobel dan Annie Nento Gobel. Keluarga Gobel memiliki akar kuat di Gorontalo dan merupakan keturunan Sultan Ibrahim Duawulu atau Raja Hubulo dari Kesultanan Bolango. Atas kepedulian dan pengabdiannya kepada tanah leluhur, Dewan Adat Gorontalo pada 18 Mei 2000 menganugerahkan gelar adat Pulanga Ti Bulilango Hunggia atau “Pemberi Cahaya Negeri”.
Sejak kecil, Rachmat dipersiapkan ayahnya untuk menjadi pemimpin. Setiap liburan sekolah ia diwajibkan bekerja di pabrik, mengikuti ritme kerja para karyawan. Di sanalah ia belajar bahwa kepemimpinan tidak lahir dari ruang rapat, melainkan dari pemahaman terhadap proses produksi, kedisiplinan, dan penghargaan kepada setiap pekerja.
Setelah lulus SMA pada 1981, ia memilih melanjutkan pendidikan ke Universitas Chuo, Tokyo, Jepang, mengambil jurusan Perdagangan Internasional. Keputusan itu bukan semata untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga mempelajari bahasa, budaya, dan etos kerja Jepang demi memperkuat hubungan Gobel Group dengan mitra utamanya, Matsushita Electric Industrial Co., Ltd., yang kini dikenal sebagai Panasonic Corporation. Seusai kuliah, ia menjalani pelatihan selama dua tahun di kantor pusat Matsushita di Osaka dengan berpindah dari satu divisi ke divisi lain untuk memahami secara langsung budaya industri Jepang.
Di Jepang pula Rachmat berkesempatan bertemu langsung dengan Konosuke Matsushita, pendiri Panasonic Corporation. Dari tokoh yang dijuluki “dewa manajemen” itu, ia menyerap nilai-nilai sunao (ketulusan) dan kokoro (bekerja dengan sepenuh hati), serta filosofi bahwa perusahaan harus menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nilai-nilai itu berpadu dengan filosofi ayahnya tentang pohon pisang, yakni perusahaan harus terus bertumbuh, melahirkan tunas-tunas baru, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Sekembalinya ke Indonesia pada 1989, Rachmat mulai memimpin perusahaan keluarga. Ia menjabat Asisten Presiden Direktur PT National Gobel, kemudian menjadi anggota direksi, Wakil Presiden Direktur, Presiden Direktur PT National Panasonic Gobel, hingga Komisaris Utama PT Panasonic Gobel Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan tidak hanya berkembang menjadi salah satu produsen elektronik terbesar di Indonesia, tetapi juga mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi 1998. Hubungan kemitraan Gobel dan Panasonic yang dimulai sejak 1960 tetap terjaga karena dibangun di atas kepercayaan, transparansi, dan manfaat bersama.
Selain memimpin Gobel Group, Rachmat aktif memperjuangkan penguatan industri nasional. Ia pernah memimpin Gabungan Perusahaan Industri Elektronika Indonesia (GABEL), Federasi Asosiasi Industri Berbasis Elektronika dan Telematika (F-GABEL), menjadi pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, anggota Komite Inovasi Nasional, Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), serta Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang. Kiprahnya juga menjangkau dunia olahraga sebagai Wakil Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Ketua Harian PB IPSI, Ketua Harian Persilat, dan Ketua Harian Indonesia SEA Games Organizing Committee (INASOC) pada SEA Games 2011.
Pengabdiannya kemudian berlanjut di pemerintahan. Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Perdagangan Republik Indonesia pada 2014–2015. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Jepang pada 2017–2019 sebelum memasuki dunia legislatif sebagai Anggota DPR RI. Pada periode 2019–2024 ia menjabat Wakil Ketua DPR RI, kemudian kembali terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2024–2029 hingga akhir hayatnya.
Di luar dunia usaha dan politik, Rachmat Gobel dikenal sebagai sosok yang mencintai budaya Indonesia. Ia aktif mempromosikan batik, keris, jamu, pencak silat, angklung, serta berbagai produk ekonomi kreatif Indonesia di tingkat internasional. Baginya, kemajuan ekonomi tidak boleh memutus akar budaya dan jati diri bangsa.
Rachmat juga sangat mencintai Gorontalo, provinsi asal ayahnya. Sejak 2019, ia menjadi anggota DPR RI mewakili Gorontalo. Sebagian besar waktnya digunakan untuk membangun Gorontalo. “Membangun Gorontalo adalah amanat ayah saya,” kata Rachmat.
Baca Juga
Melayat ke Rumah Duka Rachmat Gobel, Jokowi: Beliau Menteri yang Pekerja Keras
Sejak kecil, di rumahnya, banyak keluarga dari Gorontalo yang menumpang untuk mengadu nasib di Jakarta. Ayahnya menasihati Rachmat untuk memperlakukan anggota keluarga besarnya dengan baik. Rachmat sangat bangga dengan budaya Gorontalo. Selain upacara militer, pemakaman juga menggunakan adat Gorontalo.
Sepanjang hidupnya, Rachmat Gobel memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari besarnya perusahaan yang dibangun atau tingginya jabatan yang diraih. Ia memilih menjadikan industri sebagai sarana menciptakan lapangan kerja, politik sebagai jalan pengabdian kepada bangsa, dan kemitraan sebagai jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia. Warisan itulah yang akan terus dikenang setelah kepergiannya.
Di Tangan Arif
Saat menyampaikan sambutan di acara pemakaman ayahnya, Arif berbicara dengan tenang. Meski diliputi kesedihan mendalam, ia berbicara dengan suara normal. Ia tidak mau menunjukkan kesedihan secara terbuka kepada publik. Kata demi kata yang diucapkannya didengar dengan jelas oleh hadirin.
Dari alam baka, Rachmat tentu berbangga melihat Arif, putranya. Paling tidak penampilan di depan publik di acara duka sudah menunjukkan Arif sebagai pribadi yang matang. Di usia 31, ia sudah menunjukkan kemampuan mengontrol emosi. Ia bangga karena putra terkasih yang sudah lama dipersiapkannya menunjukkan kepemimpinan yang kuat.
Jika Rachmat Gobel ditanggalkan ayahnya saat ia berusia 22 tahun, Arif ditinggalkan ayahnya pada usia 31, sudah menikah dan menjadi direktur di Gobel Group serta anak perusahaan Panasonic Gobel Indonesia. Bila ayahnya dididik dengan keras oleh kakeknya, ia ditempa dengan disiplin tinggi oleh ayahnya.
Tidak seorang anggota pun keluarga yang tahu dan menduga Rachmat Gobel pergi begitu cepat. Tidak juga Arif, putranya. Apalagi pengusaha dan politisi itu tidak memiliki riwayat penyakit. Ia pergi untuk selamanya karena kehendak Sang Pemilik Kehidupan.
Tapi, ada satu hal yang pasti, Rachmat Gobel sudah mempersiapkan dengan baik Arif, putranya, untuk melanjutkan usaha yang sudah dibangun oleh H. Thayeb Gobel. Arif sudah siap memimpin Gobel Group dan melanjutkan usaha patungan Gobel Group dan Panasonic Corporation di PT Panasonic Gobel Indonesia.
Yang diwariskan seorang pemimpin bukan hanya perusahaan, jabatan, atau kekayaan, melainkan manusia yang dipersiapkannya untuk melanjutkan perjalanan. Rachmat Gobel telah melakukan itu. Kini tongkat estafet berada di tangan Arif Gobel. Selamat jalan, Rachmat Gobel. Semoga Tuhan Yang Mahakuasa menerima segala karya dan pengabdianmu, sementara warisan nilai-nilaimu terus bertumbuh seperti filosofi pohon pisang yang engkau yakini: melahirkan tunas-tunas baru yang memberi manfaat bagi sesama.(PD)
