Tiga Peserta Program SPPI Meninggal Saat Latsarmil, DPR Desak Evaluasi Total
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk melakukan evaluasi serius dan menyeluruh terhadap pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi peserta Program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI).
Desakan ini menyusul adanya laporan tiga orang peserta program tersebut meninggal dunia saat mengikuti jalannya pelatihan fisik. Ketiga korban merupakan calon pengelola Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNPM).
"Kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi serius dan menyeluruh terhadap desain pelatihan yang diberikan kepada calon pengelola koperasi," ujar TB Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2026).
Politikus yang juga merupakan purnawirawan jenderal bintang dua TNI (Mayjen TNI Purn.) ini menilai ada ketidaksesuaian antara beban latihan dengan output pekerjaan yang disasar. Menurutnya, karena peserta dipersiapkan untuk menduduki jabatan manajerial di koperasi desa, maka porsi pelatihan seharusnya menitikberatkan pada aspek substansial.
"Fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang relevan. Pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas saja," tegasnya.
Baca Juga
Ia menambahkan, latihan militer skala dasar tersebut idealnya hanya ditujukan untuk membangun kedisiplinan dan kebersamaan. Misalnya melalui kegiatan baris-berbaris, santiaji (ceramah pembinaan mental), apel kedisiplinan, serta senam pagi untuk kebugaran.
Berdasarkan data yang dihimpun, ketiga peserta yang dinyatakan meninggal dunia adalah Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Novia Rahmadhani Sihotang. Anisa yang berasal dari Balikpapan dilaporkan mengalami heat stroke dan henti jantung saat mengikuti pelatihan. Kondisi serupa juga dialami oleh Yonanda, peserta asal Baturaja yang dilaporkan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung.
Sementara itu, Novia Rahmadhani Sihotang, peserta asal Jakarta, mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif akibat gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan penyakit tuberkulosis (TBC).
Melihat kondisi medis para korban, Hasanuddin menyoroti pentingnya proses pemeriksaan kesehatan (screening) yang ketat sebelum peserta diterjunkan ke lapangan. Menurutnya, jika proses ini diabaikan atau dilakukan secara asal-asalan, dampaknya bisa sangat fatal ketika peserta dihadapkan pada tekanan fisik yang tinggi.
"Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara benar dan ketat oleh tim dokter. Jika proses skrining kesehatan tidak akurat, maka ketika peserta mengikuti latihan dengan beban fisik tertentu dapat menimbulkan risiko yang fatal," kata legislator asal Jawa Barat tersebut.
Menutup pernyataannya, Komisi I DPR RI meminta adanya investigasi dan perbaikan menyeluruh terhadap mekanisme seleksi kesehatan, intensitas latihan di lapangan, keandalan pengawasan medis selama kegiatan, hingga relevansi materi diklat.
"Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Program yang bertujuan membangun kapasitas SDM tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan dan keamanan peserta," pungkas Hasanuddin.
