Pascagempa Tektonik Magnitudo 6,7 di Sulteng, 841 Rumah Rusak dan Satu Warga Meninggal Dunia
Poin Penting
|
PALU, Investortrust.id -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah melaporkan bahwa sebanyak 841 unit rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah pada Selasa, (16/6/2026). Berdasarkan hasil pendataan sementara, dampak guncangan tersebut tersebar di empat wilayah administratif, yakni Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, Kota Palu, dan Kabupaten Poso.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulawesi Tengah, Andi Sembiring, mengonfirmasi di Palu pada Rabu (17/6/2026) bahwa Kabupaten Sigi menjadi wilayah dengan dampak kerusakan paling signifikan akibat bencana tersebut.
“Sebanyak 800 unit rumah mengalami kerusakan di Kabupaten Sigi, terdiri atas 720 rumah rusak ringan, 68 rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat,” katanya dikutip Antara.
Selain menghancurkan permukiman warga setempat, gempa bumi ini juga merusak infrastruktur publik dan fasilitas perekonomian di Kabupaten Sigi. Tercatat dua unit kantor, 15 sarana ibadah, satu unit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta satu jembatan penghubung yang menghubungkan Desa Kamora B dengan Desa Tongoa mengalami kerusakan. Sementara itu, dampak kerusakan di Kabupaten Parigi Moutong mencakup sebanyak 37 unit rumah tinggal warga.
Di wilayah Kota Palu, kerusakan bangunan dilaporkan meliputi satu unit rumah warga, satu bangunan usaha, Gedung Auditorium Universitas Tadulako, dan Gedung Serba Guna Universitas Tadulako. Guncangan keras juga merusak sejumlah bagian bangunan pada dua hotel komersial, yaitu Hotel Best Western dan Hotel Santika. Adapun pergeseran tanah dan kerusakan di Kabupaten Poso dilaporkan menimpa tiga unit rumah di Desa Tumora serta menyebabkan akses jalan penting di wilayah Napu ambles.
Bencana tektonik ini tidak hanya mengakibatkan kerugian material yang besar, tetapi juga menimbulkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka. BPBD mencatat satu orang meninggal dunia, 13 orang mengalami luka berat, dan 63 orang lainnya menderita luka ringan akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Korban meninggal dunia dilaporkan berasal dari Desa Ampera, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, sedangkan untuk korban luka ringan teridentifikasi sebanyak dua warga berada di Kota Palu.
Baca Juga
Selebihnya, korban luka ringan mendominasi di wilayah Kabupaten Sigi dengan rincian 21 orang di Desa Bora di Kecamatan Sigi Kota, 22 orang di Desa Uwenuni di Kecamatan Palolo, 16 orang di Desa Kamarora A dan tiga orang di Desa Kamarora B di Kecamatan Nokilalaki, serta satu orang di Desa Sibalaya Barat di Kecamatan Tanambulava. Untuk sebaran korban luka berat di Sigi, masing-masing satu orang berada di Desa Bora, dua orang di Desa Uwenuni, satu orang di Desa Bakubakulu, dan sembilan orang di Desa Kamarora B. Sementara di Kabupaten Poso, terdapat satu warga Desa Tumora yang mengalami luka ringan akibat tertimpa atap rumah yang runtuh.
Menyikapi situasi darurat ini, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah bersama BPBD kabupaten dan kota terdampak bergerak cepat untuk melakukan penanganan di lapangan. Petugas gabungan terus bersiaga melakukan pendataan komprehensif serta penanganan darurat bagi warga yang terpaksa mengungsi.
"Saat ini fokus penanganan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Logistik kebencanaan sudah mulai disalurkan dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait terus dilakukan," ujarnya menekankan prioritas utama dari tim penyelamat.
Guna mempercepat efektivitas penanganan darurat tersebut, sinergi lintas sektor diperkuat antara BPBD Sulawesi Tengah, BPBD kabupaten/kota terdampak, TNI, Polri, serta instansi terkait melalui asesmen lapangan yang intensif. Pemerintah pusat dan daerah juga telah menyalurkan logistik kebencanaan beserta tenda-tenda darurat ke kantong-kantong pengungsian.
Di sisi lain, pemantauan terhadap aktivitas seismik pascagempa utama terus dilakukan oleh otoritas terkait guna mengantisipasi potensi bahaya lanjutan. Stasiun Geofisika BMKG Palu mencatat hingga Rabu pukul 08.30 WITA telah terjadi 466 kali gempa susulan pascagempa utama M6,7 yang berpusat di wilayah Sausu, Kabupaten Parigi Moutong. Dari total aktivitas tersebut, sebanyak 25 gempa susulan dilaporkan sempat dirasakan langsung oleh masyarakat dengan kekuatan terbesar mencapai M5,2 dan magnitudo terkecil berada di angka M1,3.
Meski aktivitas gempa susulan terpantau masih terus berlangsung hingga saat ini, grafik frekuensinya secara umum mulai menunjukkan tren penurunan yang konisten dibandingkan pada jam-jam awal setelah gempa utama terjadi.
Guna menjaga situasi tetap kondusif, BPBD mengimbau masyarakat luas untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan, terutama bagi warga yang berada di sekitar bangunan yang telah mengalami kerusakan struktural, namun tidak mudah terpancing oleh informasi hoaks yang belum terverifikasi kebenarannya.

