CISDI: Kendaraan Bermotor dan Pembakaran Sampah Jadi Sumber Utama Polusi Udara di Tangerang Selatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menyebut kendaraan bermotor dan pembakaran sampah masih menjadi sumber utama polusi udara di Tangerang Selatan (Tangsel).
Urban & Environmental Health Lead CISDI Wisya Aulia Prayudi mengatakan, kualitas udara di Tangerang Selatan masih berada pada kategori tidak sehat berdasarkan pemantauan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI).
Berdasarkan data pemantau kualitas udara IQAir yang dikutip pada 13 Juni 2026 pukul 13.00 WIB, indeks kualitas udara Tangerang Selatan berada di level 126 atau masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Baca Juga
Pertamina dan ITS Hadirkan Kapal Otonom untuk Bersihkan Sampah Perairan
“Jadi memang Tangerang Selatan sendiri termasuk salah satu kota di Indonesia yang paling berpolusi. Rata-rata dari kualitas udaranya itu mulai dari tidak sehat sampai ke buruk. Tadi itu saya cek warnanya merah berarti itu kualitasnya buruk,” kata
Wisya dalam diskusi bertajuk Napas di Kota Satelit: Hidup di Tengah Polusi Tangsel di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (13/6/2026).
Menurut Wisya, kualitas udara bersifat dinamis karena dipengaruhi aktivitas manusia dan faktor cuaca. Mobilitas masyarakat yang tinggi menggunakan kendaraan bermotor berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi polutan di udara.
“Memang kualitas udara ini cukup fleksibel, maksudnya dinamis. Dia itu dipengaruhi oleh aktivitas manusia, seberapa banyak aktivitas luar pada satu waktu. Jadi semacam banyak orang yang mobilisasi dengan kendaraan bermotor pasti polusinya pun lebih tinggi,” ujarnya.
Baca Juga
Sampah Bisa Jadi Cuan, Ini Cara Pertamina Mengubah Limbah Jadi Bernilai
Selain aktivitas manusia, kondisi iklim memengaruhi kualitas udara. Wisya menjelaskan kualitas udara cenderung membaik pada musim hujan karena polutan tercuci oleh air hujan, sedangkan pada musim kemarau kualitas udara berpotensi memburuk.
Ia menilai penggunaan kendaraan listrik dapat membantu menekan emisi di Tangerang Selatan yang saat ini mencapai 4,96 ton CO2e per orang setiap tahun. “Nah untuk effort kita dalam mengurangi emisi dari kendaraan bermotor dengan menggunakan sepeda, mobil atau motor listrik itu tentu saja pasti berdampak positif terhadap kualitas udara, karena itu kan tidak memberikan emisi dari BBM. Nah itu pasti berpengaruh baik, karena memang kendaraan bermotor ini, salah satunya BBM itu bisa menghasilkan sulfur yang cukup berbahaya untuk kesehatan manusia,” jelasnya.
Kendaraan Bermotor
Wisya menyebut kendaraan bermotor menjadi kontributor terbesar emisi pencemar udara di wilayah Jabodetabek, termasuk Tangerang Selatan. “Nah, untuk sumber emisi polusi udara yang terbesar itu, di Jabodetabek, khususnya di Tangsel, itu yang pertama adalah kendaraan bermotor,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, jumlah kendaraan bermotor di Tangerang Selatan pada 2025 mencapai sekitar 1,63 juta unit.
Selain sektor transportasi, emisi juga berasal dari aktivitas industri mengingat kedekatan Tangerang Selatan dengan sejumlah kawasan industri. Sumber pencemar lainnya berasal dari praktik pembakaran sampah secara terbuka.
Baca Juga
“Itu (membakar sampah) ternyata bisa menghasilkan super polutan yang sangat berbahaya. Jadi asap hitamnya itu tuh bisa menghasilkan black carbon yang berbahaya banget sih buat kita,” ujarnya.
Menurut Wisya, penanganan masalah polusi udara memerlukan perbaikan koordinasi dan komunikasi antarinstansi pemerintah agar kebijakan lingkungan dapat berjalan lebih efektif. Ia juga menekankan pentingnya pembenahan sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, peningkatan edukasi masyarakat, serta penerapan regulasi yang konsisten.
Wisya menyoroti masih adanya sistem pengelolaan sampah yang mengandalkan pola kumpul-angkut-buang tanpa pengurangan sampah dari sumbernya. “Jadi, bukan cuma TPS atau TPA-nya yang diperbesar, tapi sistem pengangkutannya dari hulu ke hilirnya itu harus benar-benar dipikirkan, yang di akhirnya itu bisa zero waste begitu,” katanya.
