Anak Buah Luhut Ungkap Gas Buang Kendaraan Jadi Penyumbang Terbesar Polusi Udara
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Rachmat Kaimuddin menyebutkan, polusi udara yang sekarang menjadi persoalan ini sebagian besar berasal dari gas buang kendaraan.
Data tersebut didapat anak buah Menko Marves Luhut Pandjaitan itu berdasarkan source apportionment study yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama ITB dan beberapa ahli internasional. Meski ada juga polusi udara dari asap PLTU, namun ternyata jumlahnya tidak sebesar asap knalpot kendaraan.
“Dari hasil studi ini terlihat bahwa yang terbesar adalah emisi gas buang kendaraan, secara signifikan. PLTU apakah berpengaruh? Ada pengaruhnya, tapi relatif kecil dan hanya berbatas di musim tertentu,” beber Rachmat di Kantor Kemenko Marves, Kamis (12/9/2024).
Baca Juga
Polusi Udara Kian Mencemaskan, Komisi B DPRD DKI Buka-bukaan soal Dampak Armada Bus Pakai BBM
Berdasarkan data yang diperoleh Kemenko Marves, Rachmat menyampaikan bahwa polusi udara di tahun 2024 ini sudah hampir sama buruknya dengan tahun 2019. Pada 2020 dan 2021, polusi udara sempat menurun drastis karena adanya pandemi Covid-19 yang membatasi ruang gerak masyarakat.
“Pada 2020 mulai sedikit membaik dengan Covid, lalu di 2021 itu jauh lebih baik. Kemudian 2022, 2023 itu mulai memburuk lagi dan akhirnya di 2024 jumlah yang memburuknya itu hampir sama dengan yang 2019. Jumlah buruknya di 2019 itu 13 hari, di 2024 itu 12 hari,” beber dia.
Rachmat menerangkan, kondisi polusi udara yang buruk ini pada akhirnya berpengaruh juga terhadap kesehatan masyarakat dan keuangan negara. Sebab, banyak masyarakat yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan berobat menggunakan BPJS.
Baca Juga
Luhut: Atasi Polusi Udara, Konversi Motor Listrik Salah Satu Upayanya
“Banyak sekali yang menunjukkan bahwa polusi udara itu dampaknya terhadap kesehatan cukup signifikan dan itu banyak ditemukannya kasus-kasus dan tentunya ada dampak keuangannya juga. Jadi klaim BPJS untuk penyakit polusi udara sudah mencapai Rp 12 triliun di 2022,” ungkap Rachmat.
Maka dari itu, dia menilai penting untuk mendorong penggunaan BBM Euro 4. Sebab, yang menjadi persoalan adalah sulfur pada BBM yang selama ini dipakai itu tinggi, sehingga menyebabkan teknologi mesin untuk mengurangi polusi menjadi tidak bisa berfungsi.
Pemerintah sendiri sejatinya sudah menetapkan standar mesin Euro 4 sejak 2018 terhadap mobil. Menurutnya, langkah ini juga harus diiringi dengan penggunaan BBM yang rendah sulfur agar polusi udara bisa benar-benar diatasi.
“Di Indonesia mobil-mobil itu sudah diminta pakai standar Euro 4 dari 2018. Jadi mobil-mobil bensin yang dijual itu harusnya sudah standar Euro 4 dari 2018, mobil solar dari 2022, sedangkan motor belum, motor itu masih Euro 3,” papar Rachmat.

