RI Ingin Genjot Hilirisasi Nikel, Anak Buah Luhut Ungkap Hal Ini
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves, Septian Hario Seto mengatakan, upaya menggenjot hilirisasi nikel harus diperhatikan juga keseimbangannya. Sebagai contoh, Indonesia disebutnya tidak bisa menjual nikel dengan harga yang terlalu tinggi.
Septian menerangkan, Indonesia juga harus menyeimbangkan bukan hanya dari sisi upstream atau tambangnya, tapi juga bagaimana kepentingan dari sisi hilir. Sebab, jika menjual nikel dengan harga yang terlalu mahal maka akan berpengaruh terhadap harga jual mobil listriknya.
“Jadi kalau harga nikelnya terlalu tinggi, US$ 24.000-25.000 (per metrik ton), ya nanti harga baterainya akan mahal. Harga baterainya mahal maka harga mobil listriknya akan mahal,” kata Septian di CNBC Indonesia Economic Outlook, Jakarta, Kamis (29/2/2024).
Baca Juga
Akuisisi Saham Vale, Luhut Langsung Bahas Hilirisasi Nikel ke Eropa dan AS
Menurut Septian, jika hal itu terjadi maka akan muncul dua kemungkinan. Pertama, penjualan mobil listriknya akan menurun, atau yang kedua akan ada teknologi baru yang menggantikan nikel sebagai bagian dari komponen baterai mobil listrik.
“Kita tahu ada LFP (lithium ferro-phosphate), walaupun dengan banyak kekurangan juga LFP ini tetap bisa berkembang. Tapi, kalau kita teruskan harganya (nikel) itu tetap tinggi, ya nanti hilirnya akan sulit tumbuh,” ujar anak buah Luhut Binsar Pandjaitan di Kemenko Marves tersebut.
Lebih lanjut Septian mengungkapkan bahwa kasus seperti ini pernah terjadi beberapa tahun lalu pada penjualan kobalt. Kala itu kobalt dijual hingga menyentuh harga US$ 80.000 per metrik ton.
Baca Juga
Industri Nikel Dinilai Tetap Cerah, Pemerintah Dorong Produksi Baterai NMC
“Yang terjadi kemudian apa? Perusahaan-perusahaan baterai berusaha untuk menemukan teknologi baru agar menurunkan kadar kobaltnya. Kalau dulu sekitar 20% di katodanya, sekarang ada yang 10%, ada yang 5%. Jadi itu kemudian mempengaruhi demand jangka panjang,” paparnya.
Saat ini harga nikel berada di kisaran US$ 17.000. Septian menilai angka ini masih cukup baik. Menurutnya, yang terpenting adalah menentukan price equilibrium yang perlu dijaga sehingga bisa menguntungkan semua pihak.
“Dengan demikian penambangnya untung, smelter-nya untung, pabrik baterainya juga untung bisa jualan baterai dengan harga yang kompetitif, dan begitu juga dengan pabrikan EV-nya, mau menggunakan nikel base baterai dengan harga yang kompetitif. Akhirnya harga mobil EV-nya lebih murah dan lebih terjangkau untuk masyarakat. Dan akhirnya industri dalam negeri kita juga bisa tumbuh kompetitif,” pungkas Septian.
Baca Juga
Perjanjian Divestasi Rampung, Vale Harap IUPK Cepat Diperpanjang

