SMRC: Hanya 17% Publik yang Tahu 1 Keluarga Miskin 1 Sarjana Program Ganjar-Mahfud
JAKARTA, investortrust.id - Survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menemukan sejumlah program yang diusung capres-cawapres di Pilpres 2024 penting dan dibutuhkan. Namun, survei yang sama menunjukkan tak banyak masyarakat yang tahu program-program tersebut merupakan janji politik ketiga capres-cawapres jika terpilih memimpin Indonesia 5 tahun mendatang.
Dalam survei yang dilakukan SMRC pada 29 November hingga 8 Desember 2023 menunjukkan program satu keluarga miskin satu sarjana milik capres-cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD dan program perlindungan ibu dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang didengungkan capres-cawapres nomor urut 1, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai program yang dianggap penting dan dibutuhkan masyarakat.
"Namun program-program ini kurang terasosiasi dengan capres pengusungnya sehingga tidak memiliki efek elektoral signifikan," kata pendiri SMRC, Saiful Mujani dalam program Bedah Politik bersama Saiful Mujani episode ”Program-Janji dan Elektabilitas Capres” yang disiarkan melalui kanal Youtube SMRC TV Kamis (11/1/2024).
Baca Juga
Survei Litbang Kompas: 10,5% Responden Berubah Pilihan Setelah Debat Capres
Dalam survei ini, publik diminta mengurutkan tiga program yang paling dibutuhkan. Dari tiga program yang ditawarkan, 48% publik menilai program satu keluarga miskin satu sarjana berada di urutan pertama yang paling dibutuhkan. Kemudian, terdapat 32% reaponden yang menyebut tunjangan ibu hamil adalah program yang paling dibutugkan, dan program makan siang dan susu gratis untuk anak sekolah sebanyak 20% responden.
“Per-program ini, jika ketiganya diadu, yang unggul di mata pemilih adalah program saty keluarga miskin satu sarjana,” jelas Saiful.
Namun, tak banyak masyarakat yang mengetahui mengenai paslon yang mengusung program tersebut. Terkait program satu keluarga miskin satu sarjana misalnya. Meski 48% warga menilai program itu penting, hanya 17% responden yang tahu program itu diusung oleh Ganjar-Mahfud. Sebanyak 83% responden lainnya tidak tahu. Dari 17% yang tahu, sebanyak 62% menyatakan pasangan Ganjar-Mahfud akan bisa mewujudkannya jika mereka terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, 35% tidak yakin, dan 3% tidak tahu atau tidak jawab.
“Apa yang Anda bisa harapkan dari janji-janji itu kalau masyarakat tidak tahu? Bahwa program satu keluarga miskin satu sarjana sebagai program menarik, memang iya, tetapi siapa yang menawarkan ini? Masyarakat tidak tahu. Oleh karena itu, efek elektoralnya tidak diperoleh dari sini,” kata Saiful.
Untuk program tunjangan ibu hamil, hanya 16% yang tahu program itu ditawarkan Anies-Cak Imin dan 84 persen yang tidak tahu. Dari 16% yang tahu program Anies-Cak Imin tersebut, 63% responden yakin pasangan itu bisa mewujudkannya, 33% tidak yakin, dan 4% tidak menjawab atau tidak tahu.
“Walaupun ada 32% yang menyatakan program tunjangan ibu hamil itu penting dan dibutuhkan, tetapi yang tahu bahwa program itu diusulkan pasangan Anies-Muhaimin hanya 16%,” jelas Saiful.
Untuk itu, Saiful menyatakan program ini tidak akan berdampak besar terhadap elektoral Anies-Cak Imin. Meski banyak yang menyatakan program itu penting, hanya sedikit yang tahu program itu dijanjikan Anies-Cak Imin. Untuk itu, menurut Saiful, perlu ada kampanye atau sosialisasi mengenai program tersebut agar memiliki efek elektoral pada pasangan Anies-Cak Imin yang mengusungnya.
"Debat saja tidak cukup. Mungkin perlu iklan yang lebih massif untuk program ini,” katanya.
Untuk program makan siang dan susu gratis untuk anak sekolah, hanya 25% yang tahu atau pernah mendengar bahwa pasangan Prabowo-Gibran memiliki program unggulan tersebut. Selebihnya atau sebanyak 75% tidak tahu atau tidak pernah mendengar. Dari yang tahu, sebanyak 73% responden yakin Prabowo-Gibran mampu mewujudkan program tersebut.
Minimnya pengetahuan publik tentang usulan program capres-cawapres membuat aspek ini kurang bisa memiliki efek untuk mengerek suara. Bahkan, Saiful menyatakan efek debat kemungkinan tidak banyak berpengaruh.
“Mau ada debat atau tidak ada debat, pengaruhnya pada elektabilitas pasangan tidak signifikan. Walaupun publik merasa program seperti makan siang gratis itu penting, tetapi jika mereka tidak mengetahui siapa yang mengajukan program tersebut, ya tidak banyak pengaruhnya,” ungkap Saiful.
Menjadi lebih problematik karena hanya 20% masyarakat yang menganggap program makan siang gratis itu penting. Karena itu, mengharapkan dapat suara besar dari program tersebut akan memiliki kemungkinan yang kecil.
Saiful menegaskan debat pada akhirnya hanya menarik bagi kalangan tertentu dan mungkin untuk mereka yang sudah fanatik memilih calon atau pasangan tertentu. Mereka memilih bukan karena terpengaruh debat, mereka menonton justru karena sudah punya pilihan dan ingin melihat penampilan calon yang didukungnya.
“Karena itu, debat tidak memiliki nilai elektoral,” ungkapnya.
Selanjutnya dalam perbandingan tiga program lain, ada 47% publik menjadikan program perlindungan ibu dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagai program yang paling dibutuhkan, kartu anak sehat untuk menekan angka stunting 37%, dan pendampingan 1.000 hari pertama kelahiran 16%.
Saiful menjelaskan bahwa program perlindungan ibu dari KDRT adalah gagasan yang menurut publik menarik. Ada banyak isu perempuan, menurut Saiful, tetapi salah satu isu yang konkret dan banyak dirasakan oleh masyarakat adalah kasus KDRT. Bahkan, isu ini dianggap paling penting bukan hanya oleh perempuan (48%), melainkan juga laki-laki (47%).
“Laki-laki juga memiliki kepedulian pada KDRT, walaupun yang melakukan KDRT umumnya adalah laki-laki,” kata Saiful.
Namun, ketika ditanya apakah tahu atau pernah mendengar bahwa pasangan Anies-Cak Imin memiliki program unggulan berupa perlindungan ibu dari KDRT, hanya 12% yang menjawab ya, selebihnya, 88% responden menjawab tidak tahu. Dari yang tahu, 76% menyatakan yakin Anies-Muhaimin bisa mewujudkan hal tersebut jika terpilih, 21% tidak yakin, dan 3% tidak jawab.
Saiful menjelaskan program perlindungan ibu dari KDRT dianggap penting oleh publik, tetapi umumnya tidak mengetahui bahwa program ini berasal dari pasangan Anies-Cak Imin. Seharusnya, menurut dia, program semacam ini disosialisasikan dengan massif karena potensial bisa mendongkrak suara.
Sementara yang mengetahui bahwa Prabowo-Gibran memiliki program unggulan kartu anak sehat sebesar 20%. Dari yang tahu, 83% yakin pasangan tersebut bisa mewujudkannya jika terpilih, 15% tidak yakin, dan 2% tidak jawab.
Baca Juga
Survei Indikator: Prabowo-Gibran 46,9%, Terpaut 23,7% dari Anies-Cak Imin
Adapun program 1.000 hari pertama kelahiran, hanya 12% yang tahu program tersebut diusung oleh pasangan Ganjar - Mahfud. Dari yang tahu, 67% yakin pasangan ini akan mampu mewujudkannya jika terpilih, 31% tidak yakin, dan 2% tidak tahu.
Secara keseluruhan, kata Saiful, ada sejumlah program yang sangat penting di mata pemilih. Namun, program-program tersebut tidak cukup teridentifikasi dengan capres-cawapres tertentu. Untuk itu, program-program tersebut tidak bisa banyak membantu untuk mendongkrak elektabilitas capres-cawapres yang mengusungnya.
“Mengidentifikasi masalahnya sudah bisa tetapi mengambil masalah itu sebagai program unggulan dia dan dikenal oleh publik, itu menjadi persoalan yang lain,” paparnya.
Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Dari populasi itu dipilih sampel secara random atau multistage random sampling sebanyak 2.500 responden dengan jumlah proporsional menurut provinsi. Untuk keperluan analisis dilakukan oversampel di delapan provinsi, sehingga total sampel menjadi 4.540 responden. Response rate atau responden yang dapat diwawancarai secara valid dan tidak ada aparat saat proses wawancara sebesar 3.555 atau 78%. Sebanyak 3.555 responden ini yang dianalisis. Margin of error survei dengan ukuran sampel tersebut diperkirakan sebesar ± 2.0% pada tingkat kepercayaan 95% dengan asumsi stratified random sampling.

