IHSG Anjlok 18,49% dan Terburuk di Dunia di Kuartal I-2026 hingga Asing Kabur Rp32,85 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia sepanjang kuartal I-2026 mengalami penurunan tajam sebesar 18,49% ke level 7.048. Koreksi ini tercatat sebagai yang terburuk di pasar saham dunia.
Seiring pelemahan tersebut, pemodal asing juga mencatatkan aliran dana keluar (net sell) dalam jumlah besar mencapai Rp32,85 triliun. Angka ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun 2025, di mana investor asing mencatat net buy sebesar Rp26,27 triliun.
Baca Juga
Bursa Eropa Menguat, tapi Stoxx 600 Catat Bulan Terburuk Sejak 2022
Berdasarkan data BEI, lima saham yang menjadi penekan utama IHSG sepanjang kuartal I-2026 adalah BREN yang turun 45,88%, BBCA terkoreksi 20,12%, DSSA melemah 34,65%, BRPT merosot 58,26%, dan FILM anjlok 78,83%.
Di sisi lain, terdapat sejumlah saham yang berhasil menahan penurunan indeks lebih dalam berkat penguatan signifikan. Mayoritas berasal dari emiten yang terafiliasi dengan Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, yakni EMAS yang naik 47,75%, MDKA menguat 37,72%, ADRO naik 42,54%, AADI melonjak 61,65%, dan MBMA menguat 28,07%.
BEI juga mencatat seluruh sektor saham mengalami pelemahan sepanjang kuartal I-2026. Penurunan terbesar terjadi pada sektor infrastruktur yang anjlok 28,02%, diikuti sektor properti turun 21,47%, sektor teknologi melemah 20,46%, sektor konsumer primer turun 19,91%, serta sektor keuangan yang turun 12,55%.
Baca Juga
Wall Street Melesat Didorong Harapan Akhir Perang Iran, Dow Terbang Lebih 1.100 Poin
Sejumlah sentimen global dan domestik menjadi faktor utama penekan IHSG. Salah satunya adalah keputusan MSCI yang menangguhkan sementara perhitungan indeks saham Indonesia akibat isu transparansi dan kepemilikan saham publik emiten. MSCI bahkan mengancam menurunkan status pasar saham Indonesia menjadi frontier market.
Tekanan juga datang dari lembaga pemeringkat global seperti Moody’s dan Fitch Ratings yang merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Revisi tersebut dipicu oleh risiko pelebaran defisit fiskal seiring kebutuhan pendanaan program pemerintah.
Selain itu, faktor geopolitik turut memperburuk kondisi pasar. Serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak awal Maret 2026 memicu gejolak pasar global. Situasi semakin memburuk setelah Iran menutup Selat Hormuz yang berdampak pada lonjakan harga energi dunia.
