Suku Bunga Naik, Imbal Hasil SUN 10 Tahun Bisa Sentuh 7,4%
JAKARTA, investortrust. Id – Penaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI7DDR) sebesar 25 basis point menjadi 6%, diperkirakan akan mengerek imbal hasil atau yield surat utang negara berjangka panjang.
Macro Strategist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Lionel Priyadi, mengatakan, penaikan BI7DDR berisiko menambah upside risk yield 10Y INDOGB (surat utang negara tenor 10 tahun) di akhir tahun menjadi 7,4%.
Baca Juga
IHSG Berpotensi Rebound, Cek Saham MTEL, AKRA, ULTJ dan BIPI
“Penaikan suku bunga bisa memperpanjang jangka waktu arus keluar modal asing (foreign outflow) di pasar obligasi yang sampai saat ini sudah mencapai US$ 2,34 miliar,” papar Lionel dalam riset yang diterbitkan, Kamis (19/10/2023).
Dikatakan, kenaikan BI7DDR hanya akan menahan pelemahan rupiah sesaat bukan menghentikan depresiasi rupiah, sebab menurutnya rupiah berpotensi akan terus melaju hingga level Rp 16.000.
“Pelemahan rupiah disebabkan oleh aksi jual 10Y US-Treasury (UST) dengan target yield 5% yang menyebar ke pasar SBN (surat berharga negara),” tuturnya.
Baca Juga
GTSI Kantongi Kontrak dari PLN Rp 65 Miliar, Kinerja Akan Terdongkrak
Dikatakan, yield spread antara 10Y INDOGB dibanding UST masih terlalu rendah di angka 197 bps (rata-rata 229 bps di semester II-2023). “Karena itu kami memprediksi kenaikan yield 10Y INDOGB masih akan berlanjut minimal 30 bps menjadi 7,2% bahkan bisa mencapai 7,4% di akhir tahun,” kata Lionel.
Dikatakan, BI harus menawarkan suku bunga diskonto 5,3-5,9% agar dapat bersaing dengan yield US treasury bills pada 5,35- 5,55%. Kendati hal itu diperkirakan tidak akan berdampak besar terhadap capital outflow di pasar surat utang.

