Imbal Hasil SUN 10 Tahun Saat Ini Dinilai Menarik di Tengah Pergeseran Geopolitik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) dinilai tetap tangguh dan menarik di tengah dinamika pasar global. Mirae Asset Sekuritas mencatat imbal hasil Indonesian Government Bond (INDOGB) naik ke 6,23%, sekaligus memperlebar yield spread dengan US Treasury (UST) menjadi 217 basis poin (bps)—level tertinggi sejak September 2025.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menjelaskan dalam riset, Selasa (25/11/2025), penguatan yield terjadi, seiring pergerakan pasar obligasi yang bertahan defensif di tengah tekanan eksternal. Pada saat yang sama, Rupiah menguat tipis ke Rp 16.695, sedangkan credit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia turun ke level 76, meski rupiah masih menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk di kawasan setelah KRW, JPY, AUD, dan TRY.
Baca Juga
Transmisi BI Rate Mulai Terlihat di Pasar Uang dan Surat Utang, Imbal Hasil SBN Ikut Mengkerut
Jessica menilai bahwa arus dana yang tidak merata masih menjadi tantangan utama, dengan outflow pekan lalu terkonsentrasi pada SRBI. Hal ini terjadi seiring penurunan tajam kepemilikan asing ke kisaran 12%, meski level yield relatif stabil. Ke depan, koordinasi Bank Indonesia dan pemerintah untuk memulihkan dan menarik kembali aliran modal asing dinilai sebagai faktor kunci, mengingat keberlanjutan inflow menjadi katalis utama stabilitas dan pemulihan sentimen pasar obligasi.
Yield SUN Menarik
Jessica menegaskan bahwa yield INDOGB tenor 10 tahun tetap menarik dan berada dalam target pemerintah. Pelebaran spread INDOGB–UST disebut memperkuat premi nilai relatif di tengah semakin jelasnya arah kebijakan suku bunga baik di domestik maupun global. Kombinasi carry yang tinggi, visibilitas kebijakan yang membaik, serta potensi kembalinya permintaan asing diyakini menciptakan latar konstruktif bagi strategi durasi.
“Obligasi tenor menengah hingga panjang tetap menarik, terutama karena sinyal makro yang semakin stabil dan dukungan kebijakan yang lebih terarah, berpotensi membuka ruang rerating yang lebih kuat ketika arus masuk kembali pulih,” ujar Jessica.
Baca Juga
Stimulus Jepang Guncang Pasar Valas dan Obligasi, Siap-siap 'Trader' Kripto Hadapi Volatilitas
Secara global, pergerakan yield justru bergerak berlawanan arah. Meredanya ketegangan antara AS dan Ukraina setelah Washington menyesuaikan proposal perdamaian membuat indeks dolar (DXY) bertahan kokoh di level >100 selama tiga hari berturut-turut, didukung penurunan CDS AS ke 38 dan membaiknya sentimen investor. Namun pasar tetap menakar peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember 2025.
Di sisi lain, ketegangan meningkat di Asia setelah Perdana Menteri Jepang memperingatkan potensi kontingensi Taiwan, mendorong Presiden Xi Jinping mengangkat isu tersebut di PBB dan memicu kembali ketegangan lintas-selat. Perkembangan ini memukul yen, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan pada -2,3% month-to-date (MTD), hanya sedikit lebih baik dari KRW.
Saat ekspektasi pasar bergeser ke peluang satu kali pemangkasan suku bunga pada FOMC terakhir tahun ini, imbal hasil UST tenor 10 tahun bertahan rendah di 4,06%. Investor global kini memilih sikap wait-and-see sambil menanti rilis lanjutan data ekonomi AS yang masih tertunda setelah publikasi terakhir menunjukkan pelemahan sesuai ekspektasi.

